MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
94. Golden Lion Family


__ADS_3

Golden Lion Family yang terdiri dari keluarga Wiguna, Addhitama dan Juanda sudah berangkat ke hotel mewah di mana acara resepsi akan diadakan. Ocehan Abang Er membuat wajah Aleena maupun Rangga memerah.


"O-pap Enen, Mi."


Begitulah yang dikatakan Abang Er kepada sang ibu. Untung saja anak itu mengadu ketika di dalam mobil. Aleena dan Rangga ikut di mobil Restu karena sang putra tidak ingin lepas dari paman dan tantenya.


Aleesa dan Restu tertawa mendengar celotehan sang putra dari kursi penumpang belakang.


"Kayak dedek."


Aleesa tertawa sangat keras. Untung saja sang putri tidak terbangun. Restu hanya menggelengkan kepalanya.


"Masih siang, woiy!" Aleesa mulai menggoda.


"Wajar lah," sahut Rangga.


Ingin Restu menimpali dengan percakapan dewasa, tapi dia harus mengerem mulutnya karena ada sang putra di sana.


"Itu juga belum sempat, Sa," bela Aleena.


"Iya, baru mau."


Kedua orang tua Abang Er semakin tertawa. Sungguh pengantin baru itu sangatlah lucu. Tibanya di hotel, Abang Er sama sekali tidak mau jalan dengan sang papi. Dia ingin bersama Rangga.


"Aleena Addhitama menikah dengan duda anak satu." Restu mulai bercanda kepada dua kakak iparnya itu.


"Duda rasa perjaka," sahut Rangga sambil menggenggam tangan Aleena.


Aura dan Kharisma dari putra Restu Ranendra sangatlah kuat. Mereka yang melihat Abang Er seketika menunduk hormat.


"Apa aja sih bahan adonan biar bisa punya anak kayak si ganteng ini?" Rangga sangat gemas kepada sang keponakan tampannya itu.


"Auranya beda banget loh, Sa."


Aleesa dan Restu hanya saling pandang. Mereka berdua pun tidak tahu. Mereka sama seperti pasangan pada umumnya. Melakukannya dengan normal malah terbilang di atas normal. Jadi, mereka berdua tidak bisa menjawab pertanyaan Aleena dan juga Rangga.


Abang Er nampak bahagia ketika masuk ke tempat acara. Di mana di sana tersedia area bermain untuknya. Sungguh dia tidak bisa diam dan mulai melepaskan Rangga dan Aleena.

__ADS_1


"Itulah alasan kenapa Baba meminta dibuatkan tempat bermain. Baba punya cucu yang sangat aktif." Rangga, ALeena dan juga kedua orang tua Abang Er mengangguk. Itulah jalan satu-satunya agar Abang Er bisa lepas dari pengantin baru.


Baik Rangga maupun Aleena sedari tadi masih bergenggaman tangan. Sesekali Aleena melingkarkan tangannya di perut sang suami.


"Ngantuk?" Aleena mengangguk kecil. Rangga mengusap lembut rambut Aleena.


Matanya mencari sofa, dan Rangga menemukannya. Dia membawa Aleena duduk di sofa tersebut. Walaupun kecil, tapi cukup untuk dirinya dan juga Aleena. Rangga menarik tangan ALeena agar memeluk perutnya. Dia juga menyuruh Aleena untuk meletakkan wajahnya di dadanya.


"Istirahatlah, Sayang. Masih ada tiga jam menuju resepsi kita."


Aleeya yang melihat betapa nyamannya Aleena memeluk tubuh Rangga hanya bisa tersenyum bahagia. Akhirnya, sang kakak menemukan kebahagiaannya setelah dia dengan jahatnya merebut kebahagiaan kakaknya dengan sadar.


"Orang baik akan dijodohkan dengan orang baik pula," gumamnya sangat pelan.


Ketika dia membalikkan tubuh, dia melihat sang kakak kedua tersenyum begitu lebar kepada sang suami. Pelukan hangat suaminya berikan kepada Aleesa yang tengah menggendong putri keduanya di atas perut sembari menggendong sang putri dengan gendongan kekinian.


"Papi!"


Tawa pun terlihat dan terdengar. Restu tertawa begitu lebar melihat kakaknya merengek. Pelukan dan kecupan mesra Restu bubuhkan dan itu membuat sekelebat rasa iri muncul di hati. Hembusan napas kasar keluar.


"Orang sepertiku tidak pantas bahagia," ucapnya dengan sangat lirih.


Restu yang selalu menjadi suami siaga sekaligus ayah yang begitu hangat untuk kedua anaknya. Seperti sekarang Restu ikut bermain bersama putra pertamanya. Abang Er tertawa dengan begitu keras dan bahagia.


Rangga dia sangat menjaga ALeena. Sedari tadi dia memeluk tubuh Aleena yang terlelap dalam dekapannya. Sedangkan dia tengang berbincang dengan WO di sana. Masih membicarakan hal yang belum fix. Namun, dengan suara yang sangat kecil agar tak mengganggu istrinya. Ketika ALeena mulai bergerak, Rangga akan mengusap lembut rambut Aleena dan sang istri akan tertidur kembali dengan tangan yang memeluk pinggangnya.


Dua jam sebelum acara resepsi, mereka sudah sia di ruang make up masing-masing. Sudah banyak MUA di sana untuk merias wajah anggota Golden Lion Family. Groomsmen dan bridesmaid pun sangat banyak.


Ruang rias pengantin sengaja disatukan karena itu atas permintaan Rangga dan juga Aleena. Rangga dengan setia menemani Aleena dan menyuapi Aleena makanan yang dia minta.


"Mas, aku ingin teh manis hangat."


Rangga dengan sigap menghubungi pihak hotel dan minya dibawakan teh manis hangat. MUA yang berada di sana hanya tersenyum melihat sikap manis pengantin pria yang tak pernah mengeluh.


Setelah keduanya selesai dirias dan berganti pakaian, para groomsmen sudah berbaris rapi akan membawa Rangga lebih dulu menuju pelaminan. Tak ketinggalan si Bocil kematian yang memakai jas senada dengan jas pengantin pria. Rangga pun tergelak dan menuntun tangan Abang Er.


"Kakak mah!" Ghea akan selalu memarahi sang kakak karena kakaknya malah menggandeng Enjan di acara spesial.

__ADS_1


"Nanti Kakak disangka duda bawa tuh si bocil." Ghea masih marah kepada kakaknya. Namun, Rangga hanya menanggapi dengan sebuah senyum santai.


"Kakak gak masalah, Dek." Rangga mengusap lembut ujung kepala Ghea.


Sedari tadi Khairan tertuju pada pengantin wanita dengan para bridesmaid. Aleena tertawa ketika Aleesa membisikkan sesuatu. Tawa tanpa kepalsuan . Tawa yang datang dari hati terdalam. Namun, pandangannya teralihkan pada sosok perempuan yang seakan menjauh dari kedua kakaknya. Siapa lagi jika bukan Aleeya. Baik Ghea maupun Balqis asyik berbincang berdua. Aleeya hanya diam dengan raut yang sangat menyedihkan.


"Pasti sakit banget dicuekin begitu," gumam Khairan.


Sekarang, dia bukan fokus pada Aleena, tapi pada Aleeya yang seolah diasingkan. Bukan diasingkan lebih tepat Aleeya sendiri yang mengasingkan diri.


"Khai-khai!"


Reksa memanggil Khairan yang masih mematung sedangkan mereka sudah berjalan hendak meninggalkan ruangan tersebut. Semua mata pun kini tertuju pada Khairan.


"Apa dia masih mengharapkan Kakak Na?"


Aleeya menoleh ke arah Aleesa yang tengah bertanya pada Aleena. Hatinya seakan tidak terima dengan pertanyaan sang kakak kedua.


"Jangan membahas dia karena Kakak Na sudah bahagia dengan lelaki terbaik yang sudah Tuhan jodohkan. Kakak Na yakin, dia pun nanti akan menemukan jodoh yang baik karena aslinya dia orang baik."


Aleeya terus mendengarkan. Alam bawah sadarnya seakan terus menginginkan mendengar hal baik yang tentang Khairan. Semenjak dari lapas kemarin, dia merasakan pelukan baru yang begitu hangat dan menenangkan. Sama seperti pelukan ayahnya.


"Tak pantas, Aleeya. Tak pantas!"


Para groomsmen sudah membawa Rangga menuju pelaminan. Tiga sahabat Rangga ternyata menjadi biduan di panggung yang sudah tersedia di sana.


"Ternyata selama ini ada rahasia besar dari seorang Rangga Ardana Prayoga yang tidak kita ketahui," ujar Yanuar.


Semua tamu undangan pun terdiam dan menatap ke arah Rangga yang baru saja tiba di pelaminan. Tatapan tajam sudah Rangga berikan kepada sahabatnya.


"Dia bukanlah perjaka melainkan duda anak satu."


Semua orang pun tertawa mendengar ucapan Mirza. Tangan mungil yang sedang Rangga genggam terlepas begitu saja. Anak itu berlari menuju panggung. Sontak Restu segera mengejar sang putra.


Batita itu langsung menembakkan pistol air ke arah Mirza dan Yanuar. Tawa riuh pun terdengar ketika dua orang dewasa itu kalah oleh satu Batita.


"Titisan bapaknya banget tuh anak. Masih kecil udah bawa-bawa pistol."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2