MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
27. Khusus Dewasa


__ADS_3

Lelaki tinggi sudah berada di samping pusara dengan menggunakan pakaian serba hitam. Dia menunduk dalam. Dia seakan mengadu kepada pusara yang tertera nama Giondra dan Ayanda di nisan tersebut.



"Dad, Mom, tugasku belum selesai, tapi bolehkah aku pulang sebentar? Aku ingin bertemu dan mengadu kepada Papa dan Mama. Banyak cerita yang ingin aku ceritakan karena sudah terlalu banyak cerita yang aku pendam sendirian. Aku ingin berbagi cerita kepada mereka."


Sakit, jika menyebut nama ayah dan ibunya. Rasa rindu yang tak akan pernah bisa terobati sampai kapanpun. Hanya bisa memandang nisan sang ayah dengan wajah penuh arti.


"Aku ijin ya, Dad, Mom. Aku janji, ketika Aleena kembali ke sini lagi aku sudah kembali. Tugas aku belum selesai dan aku gak akan meninggalkan tugasku."


Axel tersenyum dan menunduk hormat sebelum dia pergi. Dia menghela napas kasar. Dia sangat rindu kepada kedua orang tuanya. Sudah cukup lama dia pergi dari negara tempatnya dilahirkan.


"Aku pergi, Dad, Mom."


.


Rangga dan Aleena masih betah berduaan. Rangga berada di kamar Aleena dan memeluknya dari belakang.


"Aku besok harus terbang lagi."


Aleena membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukannya. Dia menatap ke arah Rangga dengan sorot mata sendu.


"Tugasku di sini sudah selesai. Kamu siap 'kan jika kita akan LDR-an?" Rangga menatap Aleena dengan penuh kehangatan. Itu membuat Aleena dengan segera menganggukkan kepala. Tanpa ragu Rangga mengecup kening Aleena dengan begitu hangat dan itu membuat Aleena memejamkan matanya sejenak. Merasakan kecupan yang penuh dengan cinta.


"Love you."

__ADS_1


"Love you too."


.


Khairan hanya menjadi penonton ketika Rangga dan Aleena tengah asyik masak bersama. Mereka sangat akrab hingga tawa lepas Aleena terdengar.


"Apa aku harus mengganggu?" Begitulah batinnya berkata.


Khairan masih berdiri di ambang pintu menuju pintu dapur. Ada rasa bahagia ketika dia melihat Aleena seperti itu. Juga ada rasa sedih karena bukan dia yang membuat Aleena ceria lagi.


"Udah kalah, silahkan menyerah." Reksa menepuk pundak Khairan sambil mengatakan kalimat yang amat mengejek.


"Sebelum janur kuning melengkung gua gak akan nyerah." Khairan menjadi manusia keras sekarang.


"Serah lu!"


"Aku baru melihat kamu sebahagia ini, Na," gumam Khairan.


Asyik memperhatikan Aleena, Rangga, dan Reksa masak, Khairan tak mendengar jika Aleena sudah memangilnya untuk makan bersama. Namun, ada mata yang terlihat tidak suka ketika Aleena memanggil Khairan dengan nada yang sangat lembut.


Aleena menoleh ke arah Rangga dan tangannya menggenggam tangan Rangga yang ada di bawah meja. Dia menatap Rangga dan senyum kecil dia ukuran. Kepalanya menggeleng dengan sangat pelan.


"Woi, Khai-khai!" Suara keras Reksa membuat tiga orang lain di sana terperanjat. Begitu juga dengan Khairan.


"Lu mau makan gak? Udah beres ini." Reksa yang sudah lapar memarahi Khairan tanpa ampun.

__ADS_1


Ketika mereka makan di atas meja makan yang sama, Khairan terus memperhatikan Aleena dan juga Rangga yang sangat berbeda. Raut bahagia sangat jelas tercipta. Hingga muncul rasa curiga yang membuat Khairan harus mengelus dada.


.


Lengkungan senyum masih terukir di wajah Rangga ketika dia sudah kembali ke hotel. Semua rekan sejawatnya mendengkus kesal karena Rangga asyik dengan dunianya tanpa mengajak mereka.


"Jangan lupa besok terbang."


Terbang siang hari membuat Rangga menemui Aleena terlebih dahulu sebelum dia kembali ke negara asalnya. Mereka bertemu di tempat ramen. Seperti biasa dia ditemani salah satu pengawalnya. Aleena tersenyum ke arah Rangga dan tanpa Rangga sangka Aleena langsung merangkul lengannya dengan begitu erat


"Tumben manja," tangan Rangga sudah mengusap lembut punggung tangan Aleena yang sangat putih.


"Kamu mau ninggalin aku."


Sungguh itu adalah kalimat langka yang mampu keluar dari mulut Aleena. Rangga tak segan mengecup ujung kepala Aleena yang sangat wangi.


"Ketika aku libur panjang, pasti aku akan menemui kamu lagi." Aleena hanya mengangguk.


Merasa gemas kepada Aleena, kedua tangan Rangga menangkup wajah Aleena hingga mata mereka saling mengunci. Mata Rangga tertuju pada bibir merah jambu Aleena. Begitu juga dengan Aleena yang terpesona akan keindahan kulit Rangga.


"May I kiss you?"


Bibir Rangga sudah melaju terlebih dahulu sebelum ada jawaban dari Aleena. Tanpa Rangga duga Aleena ikut memajukan bibirnya. Kemudian, matanya terpejam dan terjadilah peraduan bibir yang begitu manis hingga membuat bodyguard yang menjaga Aleena membalikkan badannya.


"Khusus adegan dewasa."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2