MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
43. Leluasa Bercerita


__ADS_3

Rangga dan Aleena benar-benar terkejut. Pelukan mereka langsung terlepas seketika ketika tatapan tajam seorang pria berwajah tegas mereka lihat. Dada Aleena berdegup sangat cepat. Rangga segera meraih tangan Aleena dan menggenggamnya. Aleena menoleh ke arah Rangga dan gelengan kepala pelan Rangga berikan.


Suara langkah kaki semakin menambah suasana tegang di rumah perawatan Rangga. Tangan Aleena sudah sangat dingin. Rangga dapat merasakan itu.


"Bisa kalian jelaskan?" Wajah sangar pria itu tunjukkan.


Aleena menoleh ke arah sang kekasih dan menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan untuk kedua kalinya. Ada raut ketakutan di wajahnya.


"Ini tidak seperti yang Daddy kira."


Ya, dia Aksara. Pria itu malah tersenyum tipis. Kini, tangannya sudah dia lipat di atas dada.


"Lalu? Apa makna dari pelukan kalian berdua? Dan kenapa Aleena ada di ruang perawatan ini? Bukankah kamar ini seharusnya tidak ada yang boleh membesuk? Kecuali, keluarga kita."


Rangga menelan ludahnya. Jika, sudah begini dia juga sedikit takut. Ayahnya adalah orang yang sangat membenci kebohongan. Namun, dia juga harus bisa menjaga perasaan Aleena.


"Kenapa kalian diam?" Tegas dan ganas sekali kalimat yang keluar dari mulut Aksa.


"Ingat, sepandai apapun kalian menyembunyikan rahasia pasti mampu Daddy dan Uncle retas."


Aleena sudah menatap ke arah Aksara dengan mata yang berembun. Tangan yang digenggam oleh Rangga Aleena lepaskan dan kini tangannya sudah menggenggam tangan Aksara.


"Uncle--"


"Kenapa kamu tidak jujur kepada Uncle?" Aleena menggeleng pelan. Dia tidak bisa menjawab dan sekarang dia malah menunduk dalam.


"Jawab Uncle, Na."


Bulir bening sudah menetes membasahi wajah Aleena. Itu membuat Aksa menangkup wajah keponakannya tersebut.


"Kenapa? Jelaskan pada Uncle."


"Nana gak ingin orang lain tahu, Uncle. Nana masih takut mempublikasikan hubungan Nana dengan Rangga karena Nana takut gagal seperti yang terdahulu. Nana juga takut jika nanti Rangga akan kena imbas dari dipublikasikannya hubungan ini."


Hati Rangga sangat sakit mendengar penuturan dari Aleena. Ternyata Aleena melakukan ini untuk menyelamatkan dirinya karena mantan kekasihnya itu masih memperhatikan gerak-gerik Aleena.


"Nana takut Rangga kenapa-kenapa."


Aksara segera memeluk tubuh Aleena dan tangis Aleena pun pecah. Pertanyaan Aksa seperti membuka luka lama yang pernah dia rasakan.


"Jangan bilang ini kepada siapapun Uncle. Nana takut. Nana yakin dia masih mencari tahu tentang Nana."

__ADS_1


Aleena sangat leluasa bercerita kepada Aksa karena dia tahu Aksa akan melindunginya dan juga Rangga. Jika, kepada kedua orang tuanya dia menutup mulutnya dengan rapat karena dia tidak ingin membebani bubu dan babanya.


"Iya. Uncle akan menjaga rahasia ini."


Akhirnya, Rangga dapat bernapas lega. Bukan hanya Aleena yang ketakutan. Dia pun merasakan hal yang sama. Aksa menatap ke arah sang putra dengan senyuman yang begitu tulus dan itu dibalas senyuman yang begitu Manis oleh Rangga.


"Jaga dan bahagiakan Aleena ya, Kak."


"Pasti itu, Dad."


Aksa tersenyum begitu juga dengan Aleena. Perlahan Aksa membawa Aleena ke arah Rangga dan dia menautkan tangan Rangga dan juga Aleena hingga membuat keponakannya dan juga anak angkatnya saling pandang.


"Daddy berharap kalian bisa bersatu dan menjadi sepasang suami-istri. Juga memberikan cucu yang lucu untuk Daddy."


Rangga dan Aleena berhambur memeluk tubuh Aksa dan itu membuat mata Aksa berkaca-kaca. Rangga memang bukan putranya, tapi ketika Rangga sudah menemukan wanitanya hatinya ikut mencelos. Rasa berat mulai menjalar di hatinya.


"Mungkin ini juga yang Daddy rasakan ketika hendak melepas aku untuk menikah."


.


Agha dan Axel sudah ketar-ketir. Mereka berdua takut jika Aksa akan marah kepada Aleena dan juga Rangga. Terlebih Axel disuruh pergi oleh Aksa dari rumah sakit. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Aleena. Rentetan pesan pun sudah dia kirimkan, tapi tak kunjung ada jawban dari Aleena maupun Rangga.


"Bales dong."


"Si Khai-khai udah ditarik bapaknya."


Laporan itu sekarang sudah tidak penting, yang sangat penting sekarang bagaimana keadaan Aleena di dalam ruang perawatan Rangga? Secara logika tidak mungkin pamannya menyakiti Aleena, tapi tidak menutup kemungkinan pamannya akan murka karena kebohongan yang telah Aleena dan Rangga lakukan.


"Semoga dia baik-baik saja."


.


Senyum terus terukir di wajah Aksa ketika dia menyusuri lorong kantor menuju ruang kerja Radit, sang kakak ipar. Seperti biasa dia akan langsung masuk ke ruangan Radit tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kebiasaan!"


Dengkusan kesal Radit tak membuay Aksa takut. Dia malah bersikap santai dengan senyum yang tak pernah luntur.


"Abis dapet lotre lu? Bahagia banget," ejek Radit yang kini mendekat ke arah Aksa.


"Bang, gua mau ngomong serius."

__ADS_1


Dahi Radit mengkerut mendengar Aksa memanggilnya dengan sebutan yang benar. Dia malah menatap bingung ke arah Aksa jika sudah begini.


"Gua seriusan mau ngelamar Aleena buat anak gua."


Ini adalah lamaran ketiga dari seorang Aksara. Radit selalu menganggap lamaran Aksa itu hanyalah bualan semata. Namun, kali ini wajah Aksa nampak serius.


"Gua sangat yakin Rangga bisa bahagiain Aleena."


Radit menghela napas berat. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing.


"Gua udah bilang 'kan semua keputusannya ada di tangan Aleena. Gua gak bisa mengiyakan atau menolak. Tapi, untuk sekarang biarkan Aleena sendiri dulu. Gua yakin Aleena sedang tidak baik-baik saja."


Mendengar penuturan dari Radit membuat Aksa tertawa keras di dalam hati. Prasangka Radit kepada Aleena salah besar. Aleena sedang berbahagia dengan putranya di Kota yang sama dengannya dan juga Radit.


"Kalau menurut lu sendiri sebagai bapak dari Aleena, Lu akan merestui gak kalau Aleena bersanding dengan Rangga?" Aksa menatap Radit dengan penuh keingintahuan yang luar biasa.


"Selama gua mengenal Rangga, dia anak baik. Dia juga pernah jadi pahlawan untuk Aleena. Juga, anaknya sangat sopan dan begitu hangat. Dari Rangga kecil pun gua udah sangat respect sama Rangga. Ditambah dia itu pekerja keras dan salah satu lelaki yang kesabarannya seluas samudera."


Panjang lebar Radit membeberkan penilaiannya tentang Rangga. Putranya itu memiliki nilai plus di mata Radit dan itu membuat Aksa merasa lega.


"Jadi, lu akan merestuinya?" Radit hanya tersenyum.


"Masalahnya, apa anak lu juga mau menerima Aleena? Aleena tidak seperti wanita pada umumnya. Dia memiliki trauma di masa lalu. Gua gak mau ketika Aleena sudah mencintai Rangga, anak lu malah meninggalkan anak gua."


Wajar jika seorang ayah menakutkan akan hal itu. Aksa malah tertawa mendengarnya dan itu membuat Radit menukikkan kedua alisnya dengan sangat tajam.


"Kenapa lu ketawa?"


"Ucapan lu itu lucu."


"Gua lagi gak ngebodor." Aksa malah tertawa.


"Tapi, beneran nih lu akan menerima anak gua jadi mantu lu?" Aksa masih terus memastikan. Radit pun menegakkan tubuhnya dan menatap Aksa.


"Ya bakal gua training dulu tuh anak lu." Radit berkata dengan begitu santai.


"Lu kira anak gua office boy!" Radit malah terbahak.


"Gua harus menilai lah, cocok gak anak lu itu masuk ke circle menantu gua si Restu."


"Besan siyalan!"

__ADS_1


...***To Be Continue**...


Komen dong ...


__ADS_2