
Khairan ingin mengganggu kebersamaan Aleena dan Rangga, tapi melihat Aleena yang sangat nyaman memeluk Rangga membuatnya mengurungkan niatannya. Hanya hembusan napas kasar keluar dari mulut Khairan. Dia memilih untuk pergi dari sana dengan rasa kecewa tak terkira.
Reksa menukikkan kedua alisnya ketika melihat Khairan yang kembali lagi. Padahal baru sebentar dia pergi. Kekeh ingin menemui Aleena.
"Kenapa lu?"
Reksa langsung bertanya tanpa basa-basi. Khairan tidak menjawab. Dia malah mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang ada di ruang makan.
"Liat yang menyakitkan hati dan jiwa, ya." Reksa senang sekali menggoda Khairan yang tengah sedih karena hatinya hancur berkeping-keping melihat wanita yang dia cintai malah bahagia dengan pria lain.
"Apa Aleena ada hubungan dengan Rangga?"
Khairan menatap ke arah Reksa dengan tatapan penuh tanya. Dia menginginkan jawaban yang jujur dari Reksa. Namun, sahabat Agha malah asyik menikmati roti.
"Jawab, Reksa!"
"Gua gak tahu." Singkat, jelas dan padat jawaban dari Reksa. itu membuat Khairan tidak percaya begitu saja. Dia terus memaksa hingga Reksa kesal sendiri.
"Gua gak tahu," jawab Reksa dengan nada sedikit meninggi.Dia balas menatap tajam ke arah Khairan.
"Jangan tanya sama gua, tanya sama orang yang bersangkutan." Reksa menutup jawabannya dengan kalimat yang sangat menohok. Kemudian, dia pergi meninggalkan Khairan di dapur.
__ADS_1
Senyum tipis terukir di wajah Reksa setelah meninggalkan teman Aleena itu. "Kalau Abang Axel tahu diketawain tanpa ampun lu." Dia pun terkekeh sendiri.
Sedangkan Aleena dan Rangga masih betah saling berpelukan. Mereka enggan untuk saling melepaskan. Berkali-kali Rangga mengecup ujung kepala Aleena. Kenyamanan yang Aleena rasakan ketika berada di pelukan Rangga.
"Aku lega karena kamu tidak marah." Tak ada jawaban. Hanya tangan yang semakin erat melingkar di pinggang Rangga.
.
Di rumah Radit, Aksa terdiam dengan raut wajah yang tak mengerti. Dia masih menatap ke arah Radit dengan penuh tanya.
"Gak mungkin Daddy begitu."
"Apa yang dibilang Abang kamu benar, Bang." Echa yang baru keluar dari kamar ikut menimpali. Dia menyerahkan sebuah amplop kepada Aksa.
Ayah angkat dari Rangga itupun mengerutkan dahi ketika membaca isi dari amplop tersebut.
Sudah banyak air mata yang Aleena teteskan. Susah terlalu lama hatinya terkikis karena kisah yang amat miris. Jaga Aleena untuk Papa karena sesungguhnya Aleena sudah Papa jodohkan dengan lelaki yang nantinya akan membuat cucu Papa tersenyum begitu lebar. Lelaki yang tanpa diminta akan mencintainya dengan tulus. Tolong jaga Aleena hingga seseorang itu datang dan menghadap kepada kalian dan meminta Aleena dengan segenap hatinya.
Dari segi tulisan itu memang tulisan sang ayah. Namun, Aksa tidak menyangka jika sang ayah akan menulis wasiat yang masih abu seperti ini. Aksa menatap ke arah sang kakak.
"Kakak--"
__ADS_1
"Baca paling bawah," potong Echa.
Tolong penuhi permintaan Papa yang terakhir ini. Selama ini Papa tidak pernah meminta apapun kepada kalian berdua. Hanya ini yang Papa minta karena Papa sangat menyayangi Aleena. Dia adalah anak yang baik dan seharusnya dia berjodoh dengan orang baik pula.
Aksa menghela napas kasar. Dia tidak bisa berbuat apapun. Sekarang dia menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kakak udah lihat 'kan foto Rangga dan Aleena?" Echa mengangguk.
"Mereka sangat bahagia. Abang ingin mereka menjadi pasangan yang sesungguhnya."
Echa dan Radit saling tatap. Mereka berdua hanya menggeleng pelan. Itu membuat Anda terlihat frustasi.
"Kita lihat saja siapa nanti yang berani melamar Aleena ke sini," ujar Radit.
"Akan lu terima?"
"Semuanya akan gua balikin ke Aleena.".
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1