
Semua mata kini tertuju pada Aleena yang baru keluar dari ruang direktur utama. Mereka ingin tahu karena wajah Aleena nampak berubah.
"Kamu dapat bonus, ya. Wajah kamu nampak gembira."
Aleena hanya tersenyum. Dia memilih untuk kembali ke meja kerjanya walaupun banyak yang bertanya perihal direktur tampan itu.
Pagi ini, dia memang mendapat bonus tak terkira, yakni mendapat kecupan hangat dari direktur utama. Kecupan yang begitu lama dan membuat mereka enggan untuk menyudahi.
Menjelang makan siang direktur utama tidak pernah keluar dari ruangan. Juga Aleena yang masih fokus pada pekerjaannya. Jam dua belas mereka sudah meninggalkan meja kerja, ke luar untuk makan siang. Sekarang hanya tinggal Aleena dan Zayn yang ada di sana.
"Na!"
Baru saja memanggil Aleena, pintu direktur utama terbuka. Zayn mengangguk hormat kepada Rangga. Sedangkan Rangga sudah memasang wajah yang sangat datar.
"Ikut saya makan siang!"
Rangga melirik ke arah Aleena dan anggukan kecil yang Aleena berikan. Dia pun meninggalkan Zayn yang mematung di sana. Aleena mengikuti Rangga dari belakang. Sesekali dia mendesis karena harus sedikit berlari mengikuti langkah panjang Rangga.
Aleena membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga membuat Rangga menatap ke arahnya. Sedangkan Aleena sudah membuka sepatu yang dia gunakan. Benar dugaannya, kakinya lecet.
Rangga dengan sigap menyentuh kaki Aleena hingga dai meringis. "Sakit, Mas."
Tanpa berlama-lama, Rangga mulai melajukan mobilnya. Namun, ke arah apartment bukan ke arah tempat makan.
"Maas--"
"Kita obati luka kamu dulu."
Rangga sudah turun dari mobil dan ketika Aleena membuka pintu mobil, Rangga segera menggendong tubuh Aleena hingga membuat Aleena terkejut
__ADS_1
"Mas--"
"Unit apartment Mas ada di lantai atas, nanti kaki kamu makin sakit."
Terlalu berlebihan memang, tapi mampu membuat Aleena tersenyum. Apalagi dia bisa melihat dengan jelas bentuk wajah Rangga yang sangat sempurna. Ketampanannya sangat luar biasa.
Rangga meletakkan Aleena di sofa. Dia segera mencari kotak obat dan mengobati luka di kaki Aleena. Sungguh manis perlakuan dari Rangga. Aleena benar-benar diratukan.
"Jangan Mandang wajah Mas terus. Mas tahu, Mas ganteng."
Alena pun berdecak kesal dan itu membuat Rangga tertawa. Rangga menatap dalam wajah Aleena.
"Love you."
Aleena hanya tertawa. Dia menangkup wajah Rangga dan menciumnya dengan singkat.
"Love you too, Mas."
Ketika jam pulang kerja tiba, Aleena akan pulang paling akhir dan dia diharuskan melapor kepada sang direktur utama. Pintu ruangan sudah dibuka, sang direktur masih fokus pada pekerjaannya.
"Mas," panggil Aleena. Dia mulai mendekat ke arah Rangga dan memeluk leher Rangga dari belakang.
"Aku pulang, ya."
"Tunggu sebentar lagi, Sayang." Rangga masih fokus pada pekerjaannya dan Aleena meletakkan dagunya di bahu Rangga. Memperhatikan apa yang tengah Rangga kerjakan..
"Aku pengen istirahat, Mas." Aleena mulai merengek..
Rangga memutar kursi kebesarannya. Dia menarik tangan Aleena ke dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Istirahat di ruangan Mas aja." Aleena menggeleng.
"Aku ingin pulang."
"Sepuluh menit lagi, ya."
Rangga mulai bernegosiasi dengan Aleena dan akhirnya Aleena setuju. Rangga memangku tubuh Aleena dan tangan serta matanya kini tertuju pada layar laptop. Sesekali Rangga mengecup lembut ujung kepala Aleena. Suara ketukan pintu membuat mata Aleena yang hendak terpejam terbuka kembali. Dia menatap Rangga dengan penuh kecemasan. Kepala Rangga menunjuk ke kolong meja kerja dan Aleena mengerti kode itu.
Aleena bagai anak yang tengah bermain petak umpat. Terdengar suara seseorang yang tak asing. Ya, dia salah satu petinggi perusahaan yang tengah membicarakan meeting untuk besok. Kaki Aleena semakin sakit karena dia sudah jongkok dalam waktu lebih dari sepuluh menit. Tangannya sudah menarik-narik celana bagian bawah milik Rangga dan itu membuat Rangga mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut rambut Aleena. Tarikan di ujung celananya semakin kencang dan itu membuat Rangga harus menjatuhkan bolpoin.
Rangga pun membungkukkan tubuhnya untuk mengambil pulpen yang jatuh. Dia melihat seorang wanita sudah memanyunkan bibirnya dan itu membuat Rangga tersenyum dan gemas.
Cup.
Sebuah kecupan singkat nan kilat Rangga berikan dan itu membuat Aleena tercengang. Dia pun mendekatkan kepala ke arah telinga Aleena.
"Tunggu bentar ya, Sayang," bisik Rangga.
Melihat Rangga sangat lama mengambil pulpen membuat petinggi perusahaan itu berkata.
"Pak, apa pulpennya sudah ketemu?"
"Iya, sudah."
Jawaban Rangga dibarengi dengan kecupan penuh kehangatan untuk kedua kali di bawah meja. Kecupan yang singkat, tapi hangat.
"Love you." Hanya gerakan bibir tanpa suara.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...