
Terus bekerja bagai kuda itulah yang dilakukan oleh Rangga. Dia ingin menunjukkan pada dunia jika dia tidak boleh dianggap remeh. Banyak e-mail masuk, tapi belum sempat dia buka. Banyak pekerjaan yang harus Rangga selesaikan sebelum dia terbang ke negara lain untuk memeriksa perusahaan warisan.
"Berapa hari kamu di sana?" tanya Aksa. Sang ayah mengunjungi ke tempatnya bekerja.
"Semingguanlah, Dad. Di sana udah banyak orang kompeten. Jadi, aku hanya mengeceknya dari jauh saja."
"Setelah itu aku ingin mengistirahatkan tubuhku. Aku sudah sangat lelah."
"Mau liburan?" Rangga mengangguk .
"Aku ingin ke Swiss. Dua Minggu cukup untukku merenggangkan otot kepala yang sudah sangat tegang."
"Sendiri?"
"Pengennya sama istri, tapi 'kan gak punya," kekeh Rangga.
Aksa mulai menatap serius ke arah putranya tersebut. Itu membuat Rangga menghela napas kasar.
"Apa kamu masih belum bisa melupakan Aleena?" Aksa sudah meraih tangan Rangga yang masih mengenakan cincin.
"Apa semudah itu, Dad? Melupakan seseorang yang sudah lama aku perjuangkan." Rangga mulai menatap ke arah sang ayah yang hanya diam saja.
"Dia sudah--"
"Aku tahu. Bahkan cincinnya pun gak pernah dia lepas," Rangga memotong ucapan dari Aksara.
"Aku udah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan dia. Ketika aku bekerja keras, aku berharap akan bisa melupakan dia, tapi nyatanya--"
Rangga tak melanjutkan ucapannya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya.
"Mau sampai kapan begini?" Sang ayah sudah menatap dalam sang putra.
"Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Aleena sudah bahagia."
Kalimat yang penuh dengan ketulusan yang keluar dari mulut Rangga. Dia memejamkan matanya sejenak.Terdengar lagi hembusan napas berat.
"Daddy ingin menyampaikan perihal perjodohan kamu."
"Jangan bahas itu, Dad."
"Apa kamu menolak?"
Rangga pun membuka matanya. Dia menatap dalam wajah sang ayah.
"Aku tidak ingin menyakiti wanita lain ketika hatiku masih tertuju pada satu wanita yang masih bersarang di hati." Tegas sekali ucapan dari Rangga.
.
Aleena merasa bingung ketika e-mailnya tak kunjung dibalas oleh sang direktur. Biasanya direktur utama tersebut akan cepat membalas pesannya.
"Kenapa dengan dia? Biasanya tak seperti ini "
Ada yang kurang sekarang ini. Aleena pun menghela napas kasar. Dia harus sadar jika tak selamanya atasannya itu baik, dan sudah seminggu hal itu terjadi. Aleena harus menerima itu semua.
Aleena terus fokus pada pekerjaannya. Sekarang mulai tak peduli dengan atasannya, yang paling penting dia sudah berkerja dengan sangat baik.
Namun, seketika bayang wajah Rangga hadir. Senyuman yang menawan menari di kepala. Aleena hanya bisa menghela napas berat.
"Kenapa selalu seperti ini?".
Refleks Aleena pun melihat ke arah jari manisnya. Dia menatap lekat cincin yang dia pakai lebih dari enam bulan itu.
"Apa benar aku sudah dijodohkan dengan orang lain? Atau ini hanya sekedar tipu-tipu semata?"
Bergelut dengan pikirannya sendiri, itulah yang Aleena rasakan. Dia tengah merenungi nasibnya di kemudian hari. Untuk kesekian kalinya dai menghela napas kasar.
Aleena kembali fokus pada layar segiempat di depannya. Dia mulai mengerjakan pekerjaannya kembali hingga sebuah email masuk. Tidak langsung dia buka. Dia membiarkannnya saja dulu hingga pekerjaannya selesai. Sebelum pulang dia mengecek email yang masuk. Salah satunya dari direktur utama..
"Maaf ya, saya baru sempat cek semua pekerjaan yang di sana . Saya sangat sibuk. Makanya saya lamban dalam merespon."
Aleena tak menjawab apa-apa. Dia langsung segera menutup laptopnya dan kembali ke rumah. Namun, dia dikejutkan ketika seorang lelaki yang tak lain adalah rekan kerjanya sudah menunggunya.
"Aku akan mengantar kamu, Na."
Bukannya senang, Aleena malah terkejut. Dia hanya tersenyum tipis.
"Makasih, Zayn. Aku bisa pulang sendiri."
"Enggak apa-apa, Na. Aku ikhlas kok." Lelaki itu terus memaksa hingga membuat Aleena semakin tidak nyaman.
Dia langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi orang yang menjaganya. Rasa traumanya takut hadir kembali. Zayn merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Dia menatap ke arah Aleena yang masih berjalan santai.
"Na, sepertinya kita diikuti," ujarnya. Aleena hanya diam saja. Tak merespon berlebihan. Zayn terus melihat ke arah belakang. Dia masih berjaga. Hingga deheman seseorang dengan suara Barito terdengar. Langkah Zayn maupun Aleena terhenti.
Zayn sudah menukikkan kedua alisnya ketika melihat seorang pria berbadan tegap dengan topi menghampirinya. Zayn mencoba memasang badan untuk Aleena. Dia ingin melindungi Aleena. Sayangnya, tangan sang pria sudah berada di pundak Zayn..
"Jangan dekati calon istri saya."
Zayn terkejut mendengarnya. Dia melihat ke arah Aleena yang malah tersenyum kepada pria tersebut.n
"Na, dia--"
__ADS_1
"Iya." Satu kata yang membuat hati Zayn porak poranda. Aleena pun meninggalkan Zayn bersama si pria berbadan tegap itu.
Tibanya di rumah yang dulu ditempati Radit dan Echa, Aleena tertawa sambil memukul lengan lelaki tersebut.
"Jahat ih! Datang gak bilang."
"Surperise lah."
Axel tertawa dan dia mengusap lembut rambut Aleena. Sudah lama dia tidak berjumpa dengan Aleena. Benar kata Aleesa jika banyak yang berubah dari Aleena. Senyum tulus terukir di wajah Aleena. wajah sumringah pun terpancar dengan begitu jelas.
"Tumben," ujar Aleena yang sudah memberikan Axel secangkir kopi panas.
"Ditugaskan jaga kamu lagi. Makanya saya bisa ke sini." Dahi Aleena mengkerut.
"Kenapa? Kok disuruh ke sini?" Aleena mulai merasa ada hal aneh.
"Katanya banyak lelaki yang pengen dekat sama calon istri pengusaha kaya raya ini." Aleena pun berdecih kesal. Axel malah tertawa..
.Sungguh penjagaan pada dirinya sangat ketat. Aleena kira itu akan berkahir. Ternyata tidak.
"Saya ditugaskan untuk antar jemput kamu, Na."
"Serah Bang Axel aja!"
.
Kehadiran Axel membuat Aleena tak merasa kesepian. E-mail dari atasannya memang banyak. Namun, sekarang dia harus menjaga jarak. Dia akan membalasnya jika sekiranya itu penting. Kabar sang direktur utama akan datang pun tak membuat Aleena senang. Dia menyikapinya dengan biasa.
Diantar dengan mobil oleh Axel sudah lebih dari tiga hari ini ke kantor membuat rekan Aleena mulai heboh. Terlebih Axel sangat tampan dan menjadi perbincangan semuanya.
"Gila, pasti itu dari keluarga kaya."
"Ganteng banget."
Apalagi mereka selalu melihat tangan si pria itu selalu mengusap lembut rambut Aleena jika Aleena hendak masuk ke perusahaan .Sungguh sangat manis sekali. Ketika Aleena duduk di kursi kerjanya, rekannya menghampiri Aleena dan langsung kepo dengan lelaki tampan yang bersamanya. Aleena hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar omongan mereka.
"Zayn, lu mah gak ada apa-apanya dibandingkan sama lelaki itu." Kalimat jujur yang keluar dari mulut rekan Aleena. Aleena menggelengkan kepala agar rekannya itu tak mengatakan hal itu. Namun, tidak digubris sama sekali.
"Kalian baru lihat Bang Axel, belum liat yang lain. Kalian pasti langsung jantungan."
.
Rangga sudah berpamitan kepada ibunya dan juga kedua adiknya. Dia akan pergi ke benua Australi untuk seminggu ke depan. Mengenal perusahaan warisan. Setelah itu dia langsung pergi ke Swiss untuk berlibur seorang diri selama dua Minggu.
"Awas ya kalau Kakak liburan ke Swiss bawa cewek. Adek.gak akan pernah mau anggap Kakak sebagai Kakak Adek." Rangga malah tertawa. Dia mengusap lembut ujung kepala Ghea dan memeluknya.
"Enggak Adek, Sayang. Kakak liburannya sendiri. Nanti, Kakak janji akan bawa Adek dan Mas ke sana."
Posesifnya Ghea membuat Rangga seperti memiliki kekasih. Adiknya sungguh mood booster untuknya. Apapun akan dia lakukan untuk Ghea.
Ketika pesawat lepas landas, nama Aleena hadir di kepalanya. Bayang wajah Aleena menari-nari hingga membuat dia berhalusinasi.
"Kapan kita mengudara lagi?" Begitulah batinnya. Dia ingin dirangkul manja dan mesra oleh Aleena. Dikecup hangat oleh wanita yang dingin, tapi jika bersamanya akan berubah menjadi wanita yang hangat. Dia ingin mengulang semuanya bersama Aleena.
Tak terasa penerbangan sudah sampai tujuan. Rangga turun dari pesawat, tapi suara sang kapten pilot yang membawa pesawat itu menghentikan langkahnya.
"Saya bangga sama kamu."
Sedari dulu kapten pilot itu adalah rekan sekaligus guru yang baik untuk Rangga. Rangga mengangguk dan memberikan senyum yang hangat.
"Terkadang sebuah pembalasan itu harus dilakukan, tapi tidak dengan kekerasan. Melainkan dengan sebuah prestasi yang membanggakan."
Sang kapten mengangguk setuju. Sekarang rasa bangganya lebih meningkat. Dia sungguh bahagia sekarang. Dulu, dia yang satu tingkat di atas Rangga dan sekarang malah sebaliknya. Sungguh sebuah rotasi yang mengagumkan.
Rangga melanjutkan langkahnya dan tenyata sudah ada dua orang yang menjemputnya di sana.
"Saya adalah orang kepercayaan dari mendiang ayah kamu." Rangga mengangguk. Dia pun bersikap sangat sopan kepada pria yang seumuran dengan ayah angkatnya.
"Saya adalah asisten dari mendiang ayah kamu."
.
Rangga dapat melihat ketulusan dari dua orang itu. Penampilannya sederhana, tapi aura kebaikannya sangat terpancar dengan begitu jelas.
"Terima kasih banyak. Tolong bimbing saya."
Kedua orang itu hanya melengkungkan senyum ketika Rangga berkata seperti itu. Mereka sangat salut pada kepribadian Rangga yang sangat merendah. Mereka tahu apa jabatan Rangga sekarang di sebuah perusahaan di Indonesia. Pasti sudah banyak ilmu yang dia dapatkan. Mereka juga sangat mengenal guru yang mendidik Rangga.
Mereka bertiga menuju perusahaan milik ayah Rangga. Banyak hal yang dua orang kepercayaan dari mendiang sang ayah katakan dan jelaskan. Rangga mulai mendengarkan dan juga mempelajari apa yang mereka katakan. Tiba sudah mereka di sebuah perusahaan yang cukup besar. Seketika Rangga kagum dengan apa yang dia lihat.
"Ini semua hasil kerja keras dari usaha ayah kamu." Rangga hanya tersenyum..
"Ketika kamu lahir, perusahaan ini berganti nama. Nama sekarang yang ternyata lebih membawa keuntungan"
"Hampir dua puluh tahun kamuli mencari kamu," ujar orang kepercayaan mendiang ayah Rangga.
"Kami bekerja keras agar tak membuat perusahaan gulung tikar di tengah mencari keberadaan kamu, Ngga."
Hati Rangga mencelos mendngarnya. Para karyawan ayahnya adalah orang yang tulus dan Rangga ingin memiliki karyawan seperti mereka.
"Makasih, Om. Sudah mau menjaga peninggalan Papa. Makasih sudah mau mencari aku. Padahal aku sudah tak mengharapkan apapun dari peninggalan Papa. Aku sedari kecil sudah terbiasa hidup keras Maka dari itu, aku ingin menjadi orang sukses dan terus meraih mimpi aku tanpa kenal lelah."
__ADS_1
Rangga dibawa ke satu per satu tempat yang ada di perusahaan tersebut. Dia berkeliling perusahaan karena ini kali pertama dia menunjukkan kaki ke perusahaan ayahnya tersebut.
Banyak yang dijelaskan oleh dua orang baik hati itu hingga tak terasa hampir pagi. Ya, Rangga datang ke perusahaan ketika malam hari.
"Maaf, terlalu asyik menjelaskan hingga tak tahu waktu." Rangga hanya tertawa mendengarnya.
"Lebih baik kamu lusa saja datang ke sininya. Hari ini gunakan waktumu untuk beristirahat."
Rangga pun mengangguk. Pasalnya tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin rebahan di sebuah kasur empuk. Selesai berkeliling di perusahaan, mereka berdua membawa Rangga menuju sebuah apartment mewah.
"Ini adalah apartment milik ayah kamu yang sekarang menjadi milik kamu."
Rangga tak habis pikir dengan dia orang yang ada di depannya tersebut. Mereka tidak haus akan harta. Mereka menyerahkan kepada siapa yang seharunya mendapatkan, tidak mereka makan sendirian.
"Ini bisa kamu tempati. Jadi, kamu tidak perlu menginap.di hotel." Rangga pun mengangguk.
.
Unit apartment itu sangatlah mewah dan membuat Rangga berdecak kagum. Sungguh ini semua di luar dugaannya
"Pa, makasih. Walaupun aku tidak bisa merasakan kasih sayang yang lama, tapi Papa masih memberikanku masa depan yang lebih dari cukup. Sesungguhnya, aku tidak mengharapkan ini, Pa."
Setelah mengatakan itu, mata Rangga mulai terpejam dan dia sudah tidak ingat apa-apa.
.
RAP Corporate.
Di sana para karyawan sudah berdandan serapii mungkin karena direktur utama perusahaan itu akan datang. Sama halnya dengan Aleena yang sedari tadi menanyakan penampilannya kepada Axel.
"Udah, Na. Udah rapi." Axel mulai kesal dengan sikap Aleena. Dia baru tahu jika Aleena sama seperti wanita pada umumnya.
"Seriusan, Bang!"
"Astaghfirullah!!"
Akhirnya Axel nyebut. Sedari tadi jawabannya itu jujur. Aleena sudah rapi dan cantik dengan penampilannya, tapi wanita itu enggan percaya.
"Abang, aku serius!"
"Saya lebih serius, ALEENA!"
Wajah Aleena mulai ditekuk ketika mendengar teriakan Axel..Pria itupun memilih untuk menjauhi Aleena. Sungguh wanita itu sama saja. Begitulah omelnya dalam hati.
Selama di perjalanan menuju perusahaan tempatnya bekerja, Aleena terus melihat penampilannya. Polesan make up-nya dan segala macam.
"Emang mau ada siapa sih? Heboh banget."
Axel mulai menanyakan kehebohan Aleena. Tidak biasanya Aleena seperti itu.
"Direktur hantu," jawab Aleena..
Dahi Axel mengkerut ketika menatap Aleena. Sejak kapan ada direktur hantu?
"Direktur perusahaan yang gak pernah muncul dan hari ini dia akan datang ke sini.".
Axel hanya menggelengkan kepala. Dia pun kembali fokus pada jalanan. Mengantarkan Aleena hingga tujuan dengan selamat.
"Bang, ini beneran udah rapi?" Pertnyaan yang sama yang hadir kembali.
"Udah rapi banget, Aleena..Rapi."
Axel memilih langsung pergi karena dia tidak ingin ditanyai hal yang sama. Hal yang dijawabnya dengan jujur, tapi tetap tidak dipercayai oleh Aleena..
Semua karyawan terpana pada penampilan hari ini. Sungguh mempesona dan sangat cantik.
"Ya ampun, Na. Kamu cantik banget. Udah kayak anak konglomerat aja."
Aleena hanya tersenyum. Inilah Aleena yang asli, anak dan cucu dari pengusaha kaya raya. Namun, di sana tidak ada yang tahu siapa dirinya. Zayn sangat terpesona pada Aleena hari ini. Kecantikannya berlipat ganda.
Cukup lama mereka menunggu direktur utama datang, sebuah kabar membuat mereka harus menelan kecewa.
"Pak direktur utama hari ini belum bisa datang. Beliau masih kelelahan dan harus beristirahat."
Terlihat jelas raut kecewa di wajah mereka semua. Begitu juga dengan Aleena. Namun, dia tidak menunjukkan secara gamblang. Rasa kecewa mereka ungkapkan. Aleena hanya mendengarkan saja dan dia mulai membuka laptopnya. Ternyata ada email masuk.
"Sampai bertemu di perusahaan. Saya harap kamu tidak canggung kepada saya.*
Aleena hanya tersenyum tipis. Dia langsung kembali bekerja dengan teramat serius hingga tak peduli para rekannya berbicara apa. Pekerjaan yang banyak membuat Aleena terus fokus karena dia ingin pekerjaannya cepat selesai. Makan siang pun dia memilih makan di meja kerjanya dengan memesan makanan online.
Ketika jam dua siang, di saat para karyawan sudah mulai lelah dan banyak yang mengantuk. Suara derap langkah terdengar begitu nyaring. Ternyata dua petinggi perusahaan yang datang, tapi dengan seorang pria yang memakai pakaian santai dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Para karyawan saling pandang. Terlebih dua orang itu sangat sopan kepada seorang pria yang masih sangat muda. Mereka masuk ke ruang meeting, bukan ke ruang direktur utama yang ada di samping meja kerja Aleena.
"Apa itu direktur utamanya?"
Aleena yang tengah fokus pada layar segiempat menoleh. Menatap mereka yang sedang membahas perihal direktur utama.
"Kalau benar yang tadi, berarti direktur utama kita masih muda dan kayaknya ganteng banget." Aleena masih penasaran. Dia masih mendengarkan.
"Kita tunggu aja, nanti juga dia keluar lagi."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....