MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
61. BAGIAN A (LAGU RINDU)


__ADS_3

Riana memeluk tubuh Rangga dengan begitu erat. Bulir bening sudah menetes di pipinya tatkala melihat putranya menginjakkan kakinya di rumahnya.


"Mommy sangat merindukan kamu, Kak."


Rangga tersenyum dan tak kalah erat memeluk tubuh sang ibu. Dia juga sangat merindukan ibunya. Namun, kesibukannya sekarang ini membuat dirinya harus tinggal di tempat dia bekerja agar tidak terlalu lama di jalan. Dia juga masih meraba-raba semuanya. Dia ingin fokus.


"Kakak!" panggil Ghea.


Adik bungsu Rangga berlari ke arah Rangga. Dia memeluknya dengan sangat erat.


"Adek, kangen Kakak."


Suara sang adik sudah sangat berat. Dia sangat merindukan sang kakak yang sudah seperti bang Toyib yang tak pulang-pulang.


"Kakak juga kangen banget sama Adek."


Mereka berpelukan dengan sangat lama hingga Agha datang dan memisahkan mereka berdua.


"Emang, Adek doang yang kangen Kakak. Mas juga kangen Kakak."


Riana sangat bahagia ketika melihat ketiga anaknya bercanda sambil melepas rindu satu sama lain. Sungguh kebahagiaannya sangat sempurna sekarang ini. Dia seperti menemukan mata air di Padang pasir yang tandus dan gersang. Bahagianya tak terkira.


Makan malam spesial sudah Riana siapkan. Rangga sangat lahap karena semua makanan yang ibunya masak adalah makanan kesukaannya.


"Makan yang banyak, Kak. Tubuh kamu sedikit kurus." Rangga malah terkekeh. Begitu juga dengan Agha dan Ghea.


Mereka melupakan seseorang yang belum datang. Suara Aksa terdengar dan membuat suara riuh di meja makan terhenti.


"Bagus, ya. Daddy gak ditungguin makan malam." Tawa mereka pun kini pecah. Sungguh mereka sangat bahagia dengan formasi lengkap.


Ketika semua orang sudah terlelap, ada dua pria yang tengah berada di halaman samping sambil menikmati teh hangat.


"Bagaimana?"


"Sangat melelahkan." Aksa tersenyum. Dia menatap ke arah sang putra dengan penuh kasih sayang.


"Tapi, ada kepuasan juga kan Yang kamu dapat?" Rangga pun mengangguk. DIA tersenyum dengan begitu lebar.


"Kebahagiaan yang tiada tara itu ketika kerja keras kita menghasilkan progres yang luar biasa. Lelah kita terbayar sudah."


Aksa setuju dengan ucapan sang putra. Progress adalah sebuah pencapaian yang membawa mood booster untuk orang yang bekerja bagai kuda.


"Sekarang menurut kamu ... enakan kerja di tempat yang terdahulu atau yang sekarang?"


"Yang sekarang. Aku lebih bisa mengembangkan diri dan bisa nunjuk si ini si itu." Aksa malah tertawa dan Rangga pun tertawa setelah mengatakan guyonan tersebut.


Diam di rumah kedua orang tuanya selama seminggu. Dia ingin healing sejenak. Namun, ternyata semuanya hanya keinginan saja tanpa bisa terealisasi. Banyak email yang masuk yang mengharuskan Rangga tetap bekerja melalui benda pipih miliknya.


Ghea sudah membuka pintu kamar sang kakak. Dia ingin mengajak kakaknya jalan keluar. Namun, setelah dia melihat kakaknya tengah memangku laptop dengan wajah yang serius membuat Ghea mengurungkan niat. Dia masih di sana, mengintip sang kakak dari celah pintu yang dia tutup tidak rapat.


"Kakak sama seperti Daddy sekarang. Sangat sibuk."


Belaian lembut di ujung kepala Ghea membuat Ghea menatap sendu ke arah lelaki yang sangat menyayanginya juga.


"Kakak seperti itu agar tak dianggap remeh oleh dunia. Kakak seperti itu ingin menjadi orang hebat seperti Daddy. Sekarang, kita bisa lihat 'kan Kakak bisa sangat sukses." Ghea pun mengangguk.


.


Rangga akan melupakan semuanya ketika dia sibuk dengan pekerjaannya. Untuk makan dan minum pun dia akan lupa. Begitu juga kepada wanita yang dulu pernah singgah di hatinya.


Namun, ketika dia tengah sendiri di malam hari. Ada kerinduan yang mendalam kepada seseorang. Kerinduan yang ingin menemukan penawarnya. Ya, dia masih sering merindukan Aleena. Wanita yang belum hilang dari ingatannya.


Seperti sekarang ini, Rangga duduk di balkon seorang diri menatap langit malam yang indah. Pandangannya kosong dan hatinya sangat sepi.


"Apa kamu di sana sudah bahagia?"


Rangga mendengar kabar jika Aleena pindah ke Canberra. Usut punya usut, calon suami Aleena adalah pemilik salah satu perusahaan di benua Australia.


"Di sini aku masih seperti orang gila," gumamnya lagi.


Jika, dia tidak fokus pada pekerjaannya, sudah pasti dia. akan terus mengingat Aleena. Wanita yang sama sekali belum hilang dari ingatannya. Tengah asyik melamun, suara email membuat lamunannya buyar. Teryata sang sekretaris yang mengiriminya e-mail.


"Nih anak, rajin banget," ujarnya.


Ada lengkungan senyum yang terukir di bibirnya. Dia sangat salut kepada asistennya. Tanpa dia minta, sekretarisnya akan selalu menyerahkan laporannya d agan sangat rapi.


"Kerja bagus. Terima kasih."


Begitulah balasannya. Dia ingin sekali bertemu dengan sekretarisnya tersebut. Berkat dia pekerjaannya semakin mudah dan cepat selesai.


"Saya ingin berterima kasih kepada kamu. Saya janji saya akan memberikanmu bonus nanti ketika kita bertemu."


Rangga tersenyum ketika dia sudah mengirim e-mail itu kepada sekretarisnya.


"Apa dia masih single?" Rangga malah tertawa sendiri setelah mengatakan hal itu.


"Sungguh konyol."


Sedetik kemudian sebuah rasa rindu hadir kembali. Angin malam seakan membawa lagu rindu yang sudah lama tak pernah mampir. Bayang wajah Aleena kini memutari kepalanya. Senyum cantiknya menari-nari di pikirannya.


"Kenapa semesta begitu jahat? Padahal aku menginginkan kamu."


Rangga melihat ke arah jari manisnya yang masih melingkar cincin yang sama. Cincin yang masih sama seperti dia gunakan sebelum dia menjadi orang yang baru.

__ADS_1


"Aku masih setia loh pake cincin kita."


Rangga memejamkan matanya. Di sana banyak perempuan cantik. Namun, tak pernah sedikit pun dia melirik atau menyukai perempuan yang ada di sana. Tipe seorang Rangga Ardana, yakni Aleena Addhitama.


Keesokan harinya, Agha dan Ghea mengajak Rangga untuk pergi ke rumah Abang Er. Mereka berdua sangat merindukan balita gemas nan jahil.


"Berarti dia udah gede dong," tanya Rangga sambil mengemudi.


"Udah bisa jalan." Agha menjawab.


"Udah bisa jajan." Ghea menambahkan.


"Udah bisa malak." Agha sepertinya sangat dendam kepada anak dari kakak sepupunya tersebut. Rangga malah tertawa mendengarnya. Sejujurnya, dia uga sangat merindukan Abang Er.


Tibanya di rumah besar Radit dan Echa, suara teriakan Abang Er sudah terdengar. Sudah pasti anak itu tengah tiduran di lantai sambil teriak-teriak. Dugaan Agha dan Ghea ternyata benar. Itulah kebiasaan Abang Er jika sedang gabur.


"Enjan!!"


Anak itu mulai menoleh, dan dia terlihat senang ketika melihat Agha dan Ghea. Dia segera bangkit dan berlari keatah Kakak-adik tersebut.


Namun, dia menghentikan larinya ketika dia melihat pria dewasa bersama Agha dan Ghea. Balita itu menelisik Rangga dari atas hingga bawah. Dahinya mengkerut dan kedua alisnya menukik.


"Abang Er masih ingat Om gak?"


"O?"


Rangga pun mengangguk. Anak itu terdiam sejenak. Kemudian, dia berlari ke suatu tempat. Tak lama anak itu membawa sebuah gambar cukup besar dan dia letakkan di lantai.


"Emmi, Pi, Ba, Bu, Pa, Ma."


Abang Er menunjuk satu persatu foto yang ada di sana. Agha dan Ghea pun tertawa melihat Abang Er sudah hafal dengan keluarga.


"Ini siapa?" tanya Ghea ke Abang Er. Dia menunjuk ke arah Aleena.


"enti mam."


Maksudnya Aunty Mama. Ya, Aleesa mengajarkan Abang Er untuk memanggil Tantenya dengan ada embel-embel belakang. Jadi, Abang Er seperti memiliki banyak ibu yang akan menyayanginya.


"Kalau ini siapa, Bang?" tanya Agha dan dia menunjuk ke arah Rangga.


"O Pap." Rangga terkejut mendengar jawaban dari Abang Er. Tangan mungil itu mulai menunjuk ke gambar Aleena juga Rangga.


"Enti Mam, O pap."


...***To Be Continue***...


Tekan paragraf ini yang lama dan tulis komen kalian.


Lengkungan senyum masih terukir di wajah Aleena. Dia meras sangat nyaman bekerja di RAP corporate. Semuanya sangat humble dan itu membuat Aleena semakin betah bekerja di sana. Apalagi direktur utama yang begitu sopan.


Usut punya usut direktur utama masih muda, tapi Aleena tidak tertarik karena dia harus tahu diri dia ini siapa. Di negeri orang Aleena adalah bukan siapa-siapa. Beda halnya jika di negaranya, dia adalah anak orang yang sangat berpunya.


Aleena menikmati hidup seperti ini. Jauh dari kata mewah dan bisa mengetahui mana manusia yang tulus atau tidak. Aleena juga sudah akrab dengan para pegawai di RAP corporate. Mereka semua sangat baik.


.


Hari ini Aleena merasakan kerinduan yang mendalam kepada sang keponakan yang sudah lama tak dia Gendong dan dia ajak main. Ketika jam istirahat tiba dia menghubungi sang adik yang tengah hamil anak kedua.


"Si tampan mana?"


Aleesa pun berdecak. Setiap kali Aleena telepon, pasti yang ditanyakan adalah Abang Er. Aleesa pasti akan memasang wajah malas.


"Bentar. Dia lagi di ruang keluarga."


Aleesa menuju ruang keluarga dan ternyata sudah ada Agha Ghea dan Rangga di sana yang tengah menggendong putranya. Aleesa antara percaya dan tidak.


"Rangga!"


Tubuh Aleena menegang ketika sang adik menyebut nama mantan kekasihnya yang masih dia sayang. Namun, kamera video masih tertuju pada Aleesa.


"Abang Er, Aunty Mama nih."


Kali ini tubuh Rangga yang menegang. Dia menatap ke arah ponsel Aleesa. Akan tetapi, tidak ada Aleena di sana.


"Enti Mam."


Abang Er meminta diturunkan dari gendongan Rangga. Bayi itu langsung mengambil ponsel yang sudah sang ibu sodorkan padanya. Raut bahagia terlihat jelas di wajah bayi tampan itu. Dia asyik berbincang dengan sang Tante.


Mendengar suara Aleena membuat perasaan yang sedikit meredup kini timbul lagi. ada rasa bahagia mendengar suara Aleena. Ada sebuah kerinduan yang bisa terobati walaupun hanya mendengar suaranya saja. Semesta seakan baik kepadanya untuk hari ini. tanpa diminta dia bisa mendengar suara Aleena dan juga melihat samar wajah cantik Aleena.


"SEPERTINYA kamu sangat bahagia di sana," batin Rangga berkata.


Sebenarnya dia tidak ingin menyerah, tapi keadaanlah yang memaksanya untuk mengalah. Kalah bukan berarti dia mengubur perasaannya kepada Aleena. Kalahnya Rangga hanya untuk membuat Aleena bahagia karena dia sadar diri, dia bukan pria yang sempurna yang bisa membahagiakan Aleena.


Rangga dengan setia mendengarkan obrolan antara si balita tampan dengan sang tante. Bibirnya melengkung dengan sempurna tapi hatinya meringis kesakitan tiada tara.


"Enti Mam, da O pap."


Balita tampan itu mengadu kepada sang tante jika ada om papa itulah sebutan yang Aleesa berikan untuk memanggil Rangga.


Suara lembut Aleena masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari Aleena, dan bentuk tubuhnya pun sama seperti semula. Itulah alasan kenapa terlalu sulit untuk melupakan Aleena. Sesekali Rangga mencuri pandang ke arah layar ponsel. Semakin lama tidak bertemu Aleena Semakin cantik.


Rangga berterimakasih kepada Tuhan hari ini karena sudah dengan sengaja mempertemukan dia dengan Aleena tanpa diminta. Dia sangat bahagia hari ini.

__ADS_1


Setelah sambungan video dengan sang keponakan berkahir, Aleena memejamkan matanya. Di saat dia sudah siap melupakan Rangga sedikit demi sedikit. Dia malah dipertemukan kembali dengan Rangga. Walaupun hanya via sambungan video tetap saja membuat hatinya bergetar.


"Kenapa semakin tidak pernah bertemu dengan kamu, kamu semakin tampan dan berkharisma?" .


Aleena mendengar jika Rangga bekerja di salah satu perusahaan milik sang paman yang tak lain adalah ayah dari Rangga. Menjabat sebagai apa Aleena tidak tahu. Semenjak saat itu, wajah Rangga semakin mempesona dengan kharisma yang terpancar jelas.


Sekarang, pikirannya malah tertuju pada sosok lelaki yang ternyata belum bisa dia lupakan. Kenangan manis bersama.pria itu kini berputar kembali. Seketika Aleena ingin kembali memutar waktu. Dia ingin tertawa bersama Rangga lagi. Dia ingin dipeluk oleh Rangga kembali.


Dia memejamkan mata. Dia tengah mengingat bagaimana hangatnya pelukan Rangga. Betapa manisnya perlakuan dia kepada Aleena. Bersama dengan dirinya memang tidak lama, tapi kenangan bersama dia akan terus terukir di dalam ingatan.


Aleena hanya menghela napas kasar. Dia membuka ponselnya, dia mencari foto dirinya dan Rangga yang saling tatap ketika berfoto dengan keluarga besar. Seketika bibir Aleena terangkat.


"Kita seperti pasangan yang baru menikah yang dikelilingi keluarga," gumamnya. Ya, dia masih menyimpan foto tersebut. Tidak dipungkiri dia belum sepenuhnya move on dari Rangga.


.


Aleena kembali bekerja, tapi bayang wajah Rangga belum hilang dari ingatannya. Dia terlihat murung hari ini.


"Kenapa kamu masih ada di kepala, Ngga? Kenapa aku masih mengingat kamu?" batinnya.


Hingga seorang karyawan lelaki mendekat. Dia adalah Zayn, lelaki tampan yang menjadi incaran banyak wanita di sana. Dia memberikan susu kotak ke Aleena. Itu membuat Aleena sedikit terkejut.


"Makanan yang berbahan dasar cokelat akan membuat mood kembali naik."


Zayn seperti cenayang yang mengetahui apa yang Aleena rasakan. Namun, Aleena hanya terdiam dan tersenyum begitu tipis. Senyum itupun nyaris tak terlihat. Begitulah sikap Aleena aslinya.


"Makasih."


Hanya kata itu yang Aleena ucapkan. Susu itu hanya dia letakkan di atas meja. Tidak dia minum. Aleena kembali mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Sayangnya, bayang Rangga merusak pikirannya kemby. Pekerjaannya banyak yang salah.


"Kenapa laporannya jadi begini? Ini tidak sesuai."


Sebuah email masuk. Aleena menghela napas kasar. Atasannya menegurnya dengan sangat sopan.


"Kamu baik-baik saja 'kan."


Sang atasan mengkhawatirkan kondisi Aleena. Tidak biasanya Aleena salah cukup fatal seperti ini. Berkali-kali dia meminta maaf kepada sang atasan. Dia juga mulai bekerja lagi dan merevisi semuanya.


Direktur utama RAP corporate mulai cemas dengan para karyawannya. Dia tidak ingin menekan para karyawannya. Dia ingin semua karyawannya bekerja dengan nyaman dan tanpa beban. Aleena yang tengah sibuk merevisi dikejutkan dengan email dari sang atasan..


"Apa kamu butuh liburan?"


Membaca pesan tersebut membuat mata Aleena melebar. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. Baru kali ini ada bos yang menanyakan dirinya butuh liburan atau tidak. Aleena pun tertawa sendiri. Sungguh bosnya ini sangat berbeda.


"Jika, kamu membutuhkan itu liburanlah dulu! Bekerja sambil liburan Agar kefokusan kamu kembali lagi."


"Kenapa manis banget bapak direktur ini?" Lengkungan senyum belum pudar. Aleena masih tidak menyangka jika atasannya akan sebaik ini.


Walaupun Aleena berkata tidak perlu, tetap saja pria itu menyuruhnya untuk tetap berlibur. Tiket pesawat pun sudah dia siapkan. Aleena hanya tinggal duduk manis saja. Liburan Aleena kali ini dia ingin pulang ke rumah. Dia merindukan. sang keponakan tampannya.


"Makasih, Pak."


Banyak yang iri kepada Aleena. Hanya Aleena yang mendapat perlakuan seperti itu. Aleena pun mulai mengambil cuti. Dia balik kampung untuk sebentar dulu sebelum melanjutkan pekerjaannya lagi.


Kedatangan Aleena membuat keluarganya terkejut. Pasalnya Aleena tak memberitahu jika dia akan pulang. Sang keponakan ikut bersorak gembira dan tak mau lepas dari Aleena.


"Kenapa kamu tumbuh begitu cepat, Bang?"


Aleena tak henti menciumi pipi putih Abang Er. Dia sangat merindukan keponakan tampannya tersebut. Dia juga melihat perut Aleesa yang sudah semakin membesar.


"Kenapa pulang gak bilang?" Aleena hanya tertawa.


"Kakak Na disuruh liburan dulu sama atasan." Aleesa pun tercengang.


"Tiket pesawat pun atasan yang beliin." Aleesa malah menggelengkan kepala.


"Wah, jangan-jangan Kakak Na ada main sama atasan Kakak Na. Jangan bilang kalau Kakak Na jadi orang ketiga."


"Ish! Sembarangan kalau ngomong!" Aleesa tertawa mendengar kakaknya mengomel.


Kembali ke Indonesia, aura Aleena sungguh sangat berbeda. Keceriaannya sangat kentara. Dia selalu melengkungkan senyum yang begitu berbeda.


"Kakak Na, apa itu Kakak? Aku bahagia melihat Kakak seperti ini."


Aleesa mengusap lembut ujung matanya. Aleena yang dulu telah hilang, kini kembali lagi. Apalagi senyum yang begitu merekah itu adalah senyum khas yang hari ini dapat Aleena kembali..


"Tetaplah seperti ini, Kakak Na."


Sebuah harap dan doa dari seorang adik untuk sang kakak. Doa yang begitu tulus terpanjat dari hati terdalam seorang Aleesa Addhitama.


Aleesa melihat sang kakak akan melengkungkan senyum ketika dia menatap layar segiempat miliknya. Banyak lembaran kertas di atas tempat tidur. Namun, sang kakak terus melengkungkan senyum dengan wajah yang sangat ceria.


"Apa Kakak memiliki kekasih di sana?" Curiga mulai hadir, tapi cincin di jari manis Aleena masih ada. Masih cincin yang sama Yang ayahnya berikan kepada Aleena.


"Saya menyuruh kamu untuk liburan, tapi kenapa kamu malah mengirimkan pekerjaan?"


"Kamu emang karyawan kurang ajar."


Bagiamana Aleena tidak tersenyum. Atasannya sangat baik. Berbicara pun sangat santai dan mampu membuat Aleena merasa nyaman.


"Siapa sih kamu, Pak?"


...***To Be Continued***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2