
Kerah baju Khairan ditarik oleh Reksa hingga Khairan terjatuh ke lantai. Sebuah bogem mentah Reksa berikan. Kemudian, dia menatap ke arah Aleena yang sudah hampir menangis.
"Ba--"
"Tenang, Sayang."
Tangis Aleena pun pecah. Tangis yang begitu keras dan itu membuat Radit menghela napas kasar. Baru saja dia merasakan kebahagiaan jika putrinya sudah sembuh, sudah pasti traumanya akan muncul kembali. Dia juga memendam rasa marah kepada Khairan. Jika, dia ada di sana sudah pasti dia akan menghajar Khairan karena sudah dengan sengaja menodai putrinya.
"Kak Nana, kita keluar yuk." Reksa menarik lembut tangan Aleena yang masih memegang ponselnya. Meninggalkan Khairan yang tengah merutuki kebodohannya.
Air mata Aleena masih deras mengalir. Otaknya kembali mengingat kejadian di Singapura, di mana Kalfa mencium Aleena dengan paksa hingga meninggalkan luka di sudut bibirnya karena perlakuan kasar Kalfa. Dada Aleena semakin sesak dan Isakan masih terdengar cukup keras. Dia tidak mempedulikan Reksa akan membawanya ke mana. Ketika pintu rumah terbuka, Isakan tangis itu terhenti. Namun, air matanya masih mengalir membasahi pipi.
"Kenapa?" Suara Barito membuat tangis Aleena semakin pecah dan lelaki yang berdiri tegap di depan pintu segera memeluknya.
"Aku kotor, Bang."
.Axel menatap ke arah Reksa dan gelengan pelan yang Reksa berikan. Sebuah kode yang Axel mengerti. Hembusan napas kasar keluar dari mulut anak Remon tersebut. Axel mengusap lembut punggung Aleena. Cinta untuk Aleena tenyata sudah tidak ada. Biasanya jika Aleena memeluk tubuh dirinya, ada desiran hebat. Kali ini tidak seperti itu.
__ADS_1
.
Radit sudah mengepalkan kedua tangannya. Adegan itu sangat jelas dia lihat. Dia juga melihat jika putrinya sangat marah dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Wajah Radit sudah merah padam. Dadanya sudah turun naik. Sebagai seorang ayah, dia tidak akan terima anaknya dicium orang lain. Apalagi dia melihat jelas Aleena terkejut dan Khairan sangat memaksa. Tangan Radit sudah mengambil ponsel. Dia menghubungi seseorang.
"Ke Jakarta sekarang!"
.
Axel membawa Aleena pergi dari rumah tersebut. Dia sudah sangat yakin jika kejadian ini akan membuat trauma Aleena kembali muncul. Sebisa mungkin Axel menghibur Aleena.
Jika, sudah seperti ini sudah dipastikan jika trauma Aleena kembali lagi. Axel tak menjawab. Namun, tangannya masih memeluk tubuh Aleena. Radit meminta langsung kepada dirinya untuk terus mendampingi Aleena.
Hanya kata dirinya kotor yang keluar dari mulut Aleena. Axel tidak menjawab apapun. Dia tahu sekarang ini Aleena sangat membutuhkan pendampingan.
"Kamu gak seperti itu," jawab Axel. "Saya akan selalu ada di samping kamu dan menjaga kamu dari manusia yang bodoh."
Perlahan kondisi Aleena membaik. Dia sudah tidak mengatakan bahwa dirinya kotor. Dia sudah tidur dan Axel berjanji jika besok pagi mereka akan kembali ke Sydney.
__ADS_1
Sesuai dengan janjinya, Reksa sudah membawa koper kecil milik Aleena. Dia masih menatap tajam ke arah Khairan yang sangat merasa bersalah.
"Be go!"
Mulut Reksa tidak akan pernah berkata sopan kepada orang yang sudah membuat dirinya kesal dan marah. Bagaimanapun Aleena adalah kakak sepupu sahabatnya. Sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Jadi, sudah menjadi kewajiban untuknya menjaga Aleena.
"Are you ready?" Aleena mengangguk. Pandangannya begitu kosong. Axel hanya menghela napas kasar.
Reksa mengantar Axel dan Aleena ke Bandara. Pesawat sudah hendak lepas landas. Axel dan Aleena pun segera masuk ke dalam pesawat. Aleena mengerutkan dahinya ketika penumpang di dalam pesawat itu hanya ada satu orang. Dia menoleh ke arah Axel dan Axel menggedikkan bahu. Aleena masih membeku, dan seseorang yang memakai pakaian serba hitam dan juga topi hitam berdiri. Perlahan dia membalikkan tubuhnya dan Mata Aleena mulai berembun.
"M-Mas--"
...***To Be Continue***...
Komen dong ..
.
__ADS_1