MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
53. Putera mahkota


__ADS_3

Feeling seorang Axel benar. Tibanya di rumah sakit Rangga sudah tidak sadarkan diri. Dia pun berteriak sangat kencang. Lambat sedikit nyawa Rangga akan menghilang.


"Lakukan tindakan sekarang!"


Para dokter jaga juga perawat di sana pun dengan cepat melakukan perintah Axel. Dia sebenarnya sudah panik, tapi dia harus bisa meredam kepanikan itu karena bukan hanya Rangga yang dia jaga. Ada Aleena yang harus dia temukan juga.


Dia mengecek ponselnya dan dia dapat bernapas lega ketika anak buahnya membalas pesan dari dirinya dan mengatakan semuanya aman. Satu orang lagi yang harus Axel hubungi. Cukup lama sambungan teleponnya dijawab oleh orang tersebut. Axel memaklumi karena sekarang orang itu menjadi salah satu orang terpenting dalam beberapa perusahaan. Salah satunya perusahaan luar negeri yang dia sendiri sebagai CEO-nya.


"Kenapa?" Suara malas dengan nada sedikit membentak terdengar.


"Ke Jogja sekarang."


Sontak orang yang Axel hubungi itu berpikir keras.


"Jangan bilang kalau--"


"Ke Jogja cepetan!"


Axel menyuruh temannya itu yang ada di ibukota seperti menyuruh temannya yang ada di RT sebelah untuk menyusulnya ke Jogja. Sungguh aneh Axel ini. Pria berbadan tegap itu masih menunggu Rangga. Jika, anak buahnya sudah mengatakan aman dia akan menunggu Rangga hingga Rangga sadar. Rangga adalah putra mahkota yang jika sedikit saja terluka sudah pasti ada yang tidak akan selamat.


Dokter keluar dari ruang IGD dan meminta Axel untuk tanda tangan perihal penanggung jawab. Pasalnya, kondisi Rangga sudah sangat memperihatinkan. Tanpa berpikir panjang, Axel pun melakukannya. Setelah semuanya selesai, barulah dilakukan tindakan kepada Rangga. Axel bersandar di dinding depan ruang operasi dengan beban yang sangat berat yang harus dianpikil sendirian.


"Pah, aku pasrah."


Itulah kata hati Axel. Ada ketakutan di hatinya perihal Rangga. Dia sangat tahu betapa kejamnya seorang Aksara. Sekarang, yang bisa dia lakukan adalah pasrah saja. Perihal Aleena, dia masih tenang karena lebih dari lima anak buahnya sudah membuntuti ke mana Aleena dibawa pergi. Pelakunya pun dia sudah tahu.


.


Ghea pulang lebih awal dengan alasan pusing kepada pihak sekolah. Setelah sampai rumah dengan diantar ojek online, dia segera berlari ke arah sang ibu yang tengah berolahraga yoga. Dia memeluk tubuh sang mommy dan itu membuat Riana sangat terkejut.


"Dek, kamu kenapa?" Dia melihat ke arah jam dinding. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang. Padahal jam pulang sekolah Ghea jam tiga sore.


"Kenapa kamu udah pulang?"


Ghea sama sekali tak menjawab. Tangannya memeluk sang ibu dengan sangat erat.


"Dek--"


"My, Kak Rangga." Ghea sudah mengendurkan pelukannya tanpa melepaskan lingkaran tangannya di perut sang ibu.


"Kak Rangga sedang di Jogja, Dek."

__ADS_1


"Tapi, Kak Rangga gak bisa dihubungi. Hati Adek gak tenang. Adek takut terjadi apa-apa dengan Kak Rangga."


Mendengar penjelasan dari sang putri, Riana segera mengecek penerbangan Rangga. Pesawat yang ditumpangi Rangga sudah mendarat dengan selamat. Dia pun mencoba untuk menghubungi Rangga, tapi tidak tersambung. Mencoba lagi menghubungi Aleena, sama saja.


"Ke mana kamu, Kak?"


Ghea semakin erat memeluk pinggang sang ibu. Dia menatap dalam ke arah mommynya dengan mata yang sudah berembun.


"Coba hubungi Daddy."


.


Wajah Aksa sudah merah padam. Hatinya sangat tidak tenang dan terlihat sangat gelisah. Dia pergi ke Jogja seorang diri dengan menggunakan private jet. Selama mengudara wajahnya sudah sangat tidak bersahabat.


"Jika, terjadi sesuatu dengan putraku akan aku bunuh juga anakmu!"


Kru pesawat mendadak menelan ludah ketika mendengar perkataan dari Aksa yang penuh dengan dendam. Dia bagai manusia kesetanan yang ingin membunuh seseorang.


Ponsel Aska berdering dan dia menghela napas berat ketika sang istri menghubunginya. Dia pun menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab panggilan tersebut.


"Iya, Mom."


Aksa pun menghembuskan napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat. Istrinya memberondong banyak pertanyaan kepadanya.


"Dad, kenapa diam aja? Apa benar firasat Adek?"


"Doakan yang terbaik ya, Mom. Daddy sedang terbang ke Jogja."


"Apa maksudnya, Dad?"


Pada akhirnya, Aksa pun menceritakan semuanya dan itu membuat Riana tidak bisa berkata. Juga tidak bisa menahan air mata. Ghea, sudah menarik ujung baju sang ibu yang hanya membeku.


"My, Kakak kenapa? Kakak baik-baik saja 'kan."


.


Axel sedang berbicara dengan dokter yang menangani Rangga. Ternyata luka yang Rangga derita cukup dalam. Pisau yang digunakan untuk menusuk bagian punggung Rangga memiliki ujung yang runcing.


"Lakukan yang terbaik, Dok." Sang dokter pun mengangguk.


Axel duduk di kursi tunggu dengan menjambak rambutnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena lalai. Tepukan di punggungnya dia rasakan. Pria yang hanya mengenakan baju lengan berwarna hitam yang dia gulung hingga ke siku sudah menatap Axel. Minta penjelasan dari temannya itu

__ADS_1



"Aleena diculik dan Rangga ditusuk."


Restu berdecih. Tangannya sudah menengadah dan Axel memberikan ponselnya. Dua orang ini sudah sangat mengerti satu sama lain. Tanpa banyak perbincangan, hanya dengan gerakan mereka sudah tahu apa yang diminta Restu. Restu menggelengkan kepala.


"Gua ke sana." Axel pun mengangguk. Baru saja Restu membalikkan tubuh, seorang pria dengan wajah sangat tidak bersahabat melangkahkan kakinya dengan sangat lebar. Axel pun berdiri. Restu sudah menoleh ke arah Axel yang sudah siap jika mendapat perlakuan kasar dari Aksa.


Bugh!


Bogem mentah Aksa berikan kepada Axel. Restu hanya terdiam. Melihat Axel yang sudah tersungkur ke lantai. Tenaga seseorang yang sedang marah semakin berlipat ganda. Aksa hendak memberi bogem mentah lagi untuk Axel. Namun, suara Restu membuatnya menghentikan tindakannya.


"Dia memilih menjaga Rangga dibandingkan Aleena. Padahal Aleena juga diculik."


Aksa menatap Axel yang masih menunduk di lantai. Pemuda itu tak berani menatap ke arah Aksa. Dia tahu bagaimana Aksa jika marah.


"Maafkan saya, Kak."


"Kenapa kamu tidak menyelematkan Aleena?"


"Aleena saya pastikan aman. Sedangkan Rangga ... saya tidak boleh membiarkannya karena itu akan berakibat fatal." Axel menjelaskan. Kepalanya masih menunduk dalam. Belum berani berdiri.


"Rangga adalah pangeran mahkota di keluarga Kakak. Saya harus melindungi dia."


Mencelos hati Aksa mendengarnya. Dia menarik tangan Axel untuk berdiri. Pemuda itupun masih menundukkan kepala. Belum berani menatap Aksara.


"Jika, Aleena kenapa-kenapa ... apa kamu akan bertanggung jawab?" Aksa sudah berkata dengan penuh penekanan.


"Saya siap, Kak. Saya rela membayarnya dengan nyawa saya."


.


Aleena sudah menangis ketika dia dibawa ke sebuah hotel. Dia dikunci oleh pria bermasker juga bertopi hitam. Mulutnya tidak bisa berkata. Hanya air mata yang sedari tadi terus membasahi pipi.


Pria berbaju hitam itu mulai membuka maskernya. Mata Aleena seketika melebar melihat orang yang ada di depannya. Dia membeku terlebih orang itu sudah membuka pakaian atasnya dan membuat Aleena semakin mundur ke belakang.


"Ayo, Sayang. Kita bersenang-senang."


...***To Be Continue***...


Komen dong ..

__ADS_1


__ADS_2