
Wajah penuh ketegasan terukir di wajah Rangga. Mimik penuh arti Rangga tunjukkan. Pemuda berusia dua puluh satu tahun berhasil membuat dia pria dewasa tak bisa berkutik. Mereka salah memandang Rangga. Hangat kepada semua orang belum tentu lemah. Itulah Rangga.
"Saya akui Pak Garda sangat genius karena membuat ayah saya tidak mengetahui perihal rahasia besar ini. Jika, ayah saya tahu siapa Anda sebelum menjadi orang besar seperti sekarang sudah dipastikan maskapai nasional terbesar ini akan diporakporandakan oleh ayah saya. Anda tahu bagaimana kerja ayah saya 'kan?"
Tuan Garda semakin ketar-ketir mendengar ucapan dari Rangga. Ternyata kegeniusannya dapat dipatahkan oleh Rangga. Salah satu pekerja di salah satu maskapai miliknya. Sekarang ini dia harus berhati-hati.
"Jangan remehkan orang yang ramah dan hangat karena orang itu akan menjadi api yang besar jika ada seseorang yang menyulut emosinya."
Dua orang itu sekarang tahu bagaimana sikap asli Rangga. Rangga bisa menjadi orang yang sangat ramah juga menjadi orang yang sangat mematikan.
"Untuk terkahir kalinya saya tegaskan jika saya tidak pernah meminta Alwi Prayoga untuk melamar putri Anda, Pak Garda. Juga, saya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada putri Anda. Hanya sebatas rekan kerja."
Ketegasan Rangga membuat dua orang itu tidak bisa menjawab ucapan dari Rangga. Anak angkat dari Aksara itu masih menatap tajam ke arah Alwi dan juga Tuan Garda.
"Sekali saja kalian mengambil langkah yang salah. Saya tidak akan main-main dengan langkah keras dan kejam yang akan saya ambil."
Mereka berdua hanya dapat menelan ludah mendengarnya. Sungguh kalimat yang membuat tubuh mereka membeku. Ancaman dari orang hangat ternyata lebih menyeramkan.
.
Aksara bertepuk tangan melihat putranya yang jauh berbeda dari aslinya. Sungguh mirip sekali dengannya jika sedang marah. Sungguh Aksa sangat bangga.
"Inilah alasan kenapa Daddy bersikukuh untuk tetap menjadikan kamu anak Daddy. Ada sikap yang kamu miliki, tapi hanya Daddy yang tahu sebelum orang lain tahu."
Bukan hanya Aksara yang bangga, adik Aksa pun bertepuk tangan bangga ketika sang Abang mengirimkan video Rangga yang mampu membuat dua manusia tak tahu diri tak berkutik.
"Keren emang," pujinya. "Udah ini mah fix calon mantu si Bandit. Sebelas dua belas sama Restu."
Di lain negara Reksa tertawa puas setelah berhasil meretas tentang Tuan Garda. Ini pencapaian terbesarnya dalam sejarah retas-meretas.
Khairan menatap tajam ke arah Reksa dengan tatapan sangat tak bersahabat. Dia seakan memiliki dendam kepada Reksa.
"Gak usah musuhin gua lu. Pikirin aje gimana nasib lu." Reksa sama sekali tak takut pada Khairan.
Khairan sudah meraih kerah kaos yang digunakan oleh Reksa. Bukannya takut Reksa malah berdecak kesal.
"Berdamailah dengan semuanya, Khai-khai." Reksa berkata dengan sangat santai.
"Lu itu bukan pecundang, lu hanya orang yang belum beruntung."
Seketika Khairan melepaskan tangannya dan menatap ke arah Reksa. Sebuah senyuman terukir di wajah Reksa untuk Khairan.
"Percayalah, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah buat lu."
"Apa lu ngeretas kehidupan gua?"
__ADS_1
Reksa malah terbahak dan menepuk pundak Khairan. Dia menatap lekat wajah Khairan.
"Gua dilahirkan ke dunia ini untuk meretas orang di sekeliling gua."
"Siyalan!"
.
Di negeri kangguru seorang perempuan masih terlihat cemas. Sang kekasih mengatakan jika dia akan menemui keluarga dari Jihan.
"Percayakan semuanya pada Rangga."
Suara Barito tersebut membuat Aleena menoleh. Wajah penuh keyakinan Axel tunjukkan. Dia mulai duduk di samping Aleena.
"Hubungan kalian itu harus berlandaskan kepercayaan. Sama halnya Rangga yang percaya seratus persen sama kamu walaupun kamu dan saya sangat dekat."
"Aku hanya takut Rangga dijebak dan langsung dinikahkan dengan--"
"Jangan samakan Rangga dengan ayah angkatnya," potong Axel.
"Aku hanya takut, Bang. Aku belum siap terluka untuk kedua kalinya."
Baru juga selesai berkata seperti itu ponsel Aleena berdering dan Rangga menghubunginya. Jantung Aleena masih berdegup tak karuhan.
"Kenapa gak dijawab?" Aleena menoleh ke arah Axel dan Axel malah berdiri sambil mengusap lembut ujung rambut Aleena.
Kini, Aleena menghela napas kasar. Dia pun menjawab panggilan dari Rangga
"Iya, Mas."
"Maaf ya, Sayang. Baru bisa hubungin kamu."
Aleena hanya tersenyum. Namun, sorot matanya tak bisa berdusta. Ada ketakutan yang sorot matanya katakan.
"Semuanya sudah selesai, Sayang. Kamu jangan khawatir."
Aleena masih belum bisa menjawab. Dia masih memandang wajah Rangga yang nampak sangat lelah dan pusing.
"Mas, istirahatlah. Jangan sampai sakit."
"Jika, semuanya sudah seratus persen selesai Mas akan istirahat. Untuk sekarang, Mas belum bisa, Sayang."
"Aku gak mau melihat Mas sakit."
Senyum pun terukir di wajah Rangga. Dia sangat merasa bahagia ketika Aleena mulai perhatian kepadanya.
__ADS_1
"Mas janji, Mas gak akan sakit."
Di lain tempat, Jihan menangis sangat keras ketika sang ayah pun tak bisa merubah keputusan dari Rangga. Dia terus memaksa ayahnya agar Rangga menikahinya karena dia sudah terlanjur bilang kepada teman-temannya jika dia akan menikah dengan pilot tampan tersebut.
"Papah tidak bisa memaksa dia, Nak."
"Kenapa? Papah adalah atasannya, kenapa Papah gak bisa mendesaknya?"
Tuan Garda pun tak bisa menjelaskan kepada Jihan yang sebenarnya sudah terjadi. Dia tidak akan mengambil langkah yang salah karena akan berimbas pada perusahaannya. Perusahaan yang menjadi mimpinya sedari dia kecil. Dia tidak akan menghancurkan hasil dari mimpinya yang sudah susah payah dia kejar.
"Tidak bisa, Nak. Rangga adalah orang yang sangat teguh pada pendiriannya. Lebih baik, kamu lupakan saja dia. Masih banyak pria ataupun pilot yang tampan dan secerdas Rangga."
"Tidak, Pah! Aku maunya Rangga!"
.
Kecewa dengan sang ayah membuat Jihan nekat melakukan sesuatu. Persetan dengan harga diri. Dia tidak ingin harga dirinya tercoreng.
Ketika malam tiba, Jihan memberanikan diri untuk datang ke rumah Aksara. Dia menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah. Penjagaan ketat di rumah Aksara sedikit mempersulitnya hingga dia menunjukkan fotonya bersama Rangga dan itu membuat dia bisa masuk ke rumah megah itu.
Bel dia tekan, dan keluarlah seorang remaja perempuan yang begitu cantik dengan pakaian santai. Ghea, dia memperhatikan Jihan dari bawah sampai atas dengan tatapan yang sangat tajam. Jihan mencoba untuk tersenyum.
"Jangan sok kenal!"
Senyum itupun pudar begitu saja. Melihat wajah Ghea yang sudah sangat tidak bersahabat membuat Jihan tidak bisa berkata. Tatapan Ghea sangat menyeramkan.
"Apa kedua orang tua kamu ada?"
"Mau ngapain lu? Belum cukup lu jual air mata di depan bokap dan nyokap gua? Belum cukup lu jual kesedihan dan penderitaan di depan mereka? Apa sekarang lu mau bersujud di depan kaki bokap dan nyokap gua? Supaya mereka membolehkan kakak gua menikah sama lu!"
Jihan hanya bisa menelan ludahnya. Ghea yang terlihat kalem ternyata tidak sesuai yang dia bayangkan. Anak itu memiliki mulut yang sangat berbisa.
"TIDAK SEMUDAH ITU JIN PEREMPUAN!"
Kalimat penuh tekanan dengan nada yang cukup tinggi membuat para pekerja di rumah Aksara keluar. Namun, mereka tak mendekat. Hanya memperhatikan dari jauh saja.
Tubuh Jihan seketika dia jatuhkan ke lantai. Dia memohon sambil memeluk kaki Ghea dengan deraian air mata.
"Aku mohon, restui hubungan aku sama Rangga."
"Eleh," cibir Ghea. Dia muak dengan air mata palsu yang Juga. berikan. Jihan pikir Ghea akan semudah itu luluh dengan air mata buaya.
"Sampai bumi berubah jadi kotak pun gua gak akan pernah mau restuin lu sama kakak gua! TITIK!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...