
"Saya menang mencintai Aleena, tapi saya bukan pria jahat yang akan menghancurkan kebahagiaan Aleena. Tidak selamanya cinta itu harus memiliki." Tegas dan jelas jawaban dari Khairan.
Tawaran itu menggiurkan, tapi dia berpikir ulang dan ulang. Ketika Aleena menjadi miliknya, belum tentu Aleena mencintainya. Bersama karena terpaksa itu yang tidak dia inginkan. Khairan masih berpikir dengan akal yang waras. Dia tidak ingin dibutakan oleh cinta yang belum tentu akan berujung bahagia atau malah sebaliknya.
"Ayolah, Khai. Jangan munafik." Jihan masih memaksa Khairan.
"Saya tidak munafik. Tadi saya bilang 'kan jika saya memang masih mencintai Aleena, tapi saya tidak akan pernah menggunakan cara licik untuk mendapatkannya. Sampai sini Anda paham?"
Jihan berdecak kesal. Padahal dia sudah senang karena Khairan menjawab iya. Ternyata itu hanya prank belaka.
"Jika, Anda sampai merusak kebahagiaan Aleena, akan saya pastikan wajah cantik Anda akan berubah menjadi si buruk rupa." Tatapan tajam Khairan berikan. Khairan hanya tersenyum kecil mendengarnya.
"Jangan Anda anggap ucapan saya ini lelucon karena saya akan merealisasikannya kepada Anda jika itu sampai terjadi." Ancaman yang membuat Jihan menelan ludahnya. Wajah Khairan jika sudah marah sangat menyeramkan.
"Sekarang, lebih baik Anda pergi dari rumah saya ini. Jangan pernah menunjukkan wajah Anda di hadapan saya lagi," tukasnya dengan wajahnya yang sangar.
Jihan yang hendak membalas ucapan Khairan malah ditarik mundur oleh petugas keamanan rumah Khairan. Itu membuat Khairan tersenyum penuh ejekan kepada Jihan.
"Percuma wajah cantik, penampilan modis, tapi hati kayak iblis." Jihan menoleh ke arah Khairan dengan tatapan penuh kemarahan. Sedangkan Khairan malah menjulurkan lidahnya.
Setelah perempuan itu pergi, dia pun tertawa. Khairan terkejut ketika pundaknya ditepuk oleh sang ayah. Tawanya pun terhenti.
"Apa kamu terpaksa menolak tawaran dari perempuan antah brantah itu?" Khairan menggelengkan kepala. dengan cepat..
"Aku 'kan sudah ditarik mundur oleh Ayah. Jadi, aku tidak boleh melanggar itu."
"Kenapa karena Ayah?" Khrisna malah balik bertanya..
"Ayah adalah pembimbing aku. Ayah penasihatku juga. Jadi, apapun yang dikatakan oleh Ayah pasti akan aku turuti. Pengalaman Ayah lebih banyak dari aku 'kan." .
Khrisna tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan Khairan yang sangat tulus tanpa ada kedustaan. Dia mengusap lembut rambut Khairan yang tingginya sama seperti dirinya.
"Ayah mengajarkan hal yang baik kepada kamu. Ayah ingin kamu menjadi anak yang baik dan tak buruk hati. Ayah mengajarkan kebenaran agar kebenaran itu mendarah daging hingga kamu tua nanti." Khairan pun mengangguk.
"Ingatlah, Khai. Di dunia ini ada hukum tanam tuai. Apa yang kamu tanam pasti itu yang akan kamu dapatkan. Maka dari itu, tanamlah kebaikan agar kebaikan juga yang akan kamu tuai. Namun, kamu harus ingat satu hal. Ketika kamu melakukan kebaikan, jangan pernah berharap untuk mendapatkan balasan dari manusia. Balasan yang lebih indah dan membahagiakan itu balasan kebaikan dari Tuhan."
"Iya, Ayah. Aku akan ingat terus akan nasihat Ayah ini."
.
Di dalam pesawat, ada rasa tidak nyaman yang tengah Aleena rasakan. Ada yang terus menatapnya dengan tajam. Hingga dia tidak ingin melepaskan tangannya walau sedetik pun dari Rangga. Dia juga terus memperhatikan Axel yang kini sudah memejamkan mata.
__ADS_1
"Ya Tuhan, semoga firasatku ini salah." Begitulah batinnya berkata.
"Kenapa sih?"
Rangga sudah memindahkan tangan Aleena ke pinggangnya. Tangan Rangga pun merangkul pundak Aleena dengan sangat erat.
"Aku gak mau jauh dari kamu, Mas."
Aleena tidak ingin membuat Rangga khawatir. Dia hanya beralasan seperti itu. Ingin berbicara kepada Axel pun dia tidak ingin mengganggu Axel yang tengah terlelap.
Tibanya di Jogja, Aleena sama sekali tak melepaskan tangan Rangga. Dia merasa ada yang terus mengikutinya dari belakang.
"Ya Tuhan, apa ini hanya firasat aku saja?" gumamnya dalam hati.
.
Ghea sudah memesan siomay yang ada di kantin sekolah. Ketika dia menerima piring dari si pedagang, tiba-tiba piring itu terjatuh dan pecah belah. Hingga semua mata tertuju pada dirinya. Ghea membeku dan satu kata yang keluar dari mulutnya.
"Kak Rangga."
Balqis sudah mendekat, dia melihat siomay yang Ghea pesan sudah berada di lantai.
"Mang, nanti piringnya saya ganti." Balqis langsung berbicara kepada si pedagang siomay.
Dalla sudah memberikan air mineral botolan kepada Ghea. Dia menyuruhnya untuk minum karena Dalla tahu Ghea sendiri terkejut. Ahlam sudah menyuruh Ghea untuk duduk.
"Kak Ghea kenapa?" Dalla mulai bertanya setelah melihat Ghea sedikit tenang.
"Gak tahu, Dall. Aku--"
"Adek!"
Kehadiran Agha ke kantin khusus anak SMP membuat semua siswi yang berada di kantin tersebut berteriak histeris. Gavin Agha Wiguna sudah seperti artis di sana. Banyak yang mengenalnya karena ketampanan juga kecerdasannya.
"Mas!" Ghea langsung memeluk tubuh Agha. Sontak semua siswi bersorak.
"Andai yang dipeluk Kak Agha itu gua."
"Kak Agha! Mau dong dipeluk juga," teriak salah satu siswi di sana.
"Kak Rangga, Mas. Kak Rangga."
__ADS_1
Dahi Gavin pun mengkerut mendengarnya. Dia mengendurkan pelukannya dan menatap dalam wajah sang adik. Ada bulir bening di pipinya.
"Adek takut terjadi apa-apa dengan Kak Rangga.".
.
Di lain tempat suara pecahan gelas terdengar sangat nyaring. Echa segera berlari ke dapur. Pasalnya sang putri yang tengah hamil sedang berada di dapur.
"Sasa!"
Aleesa menoleh ke arah sang ibu. Wajah datar yang dia tunjukkan. Echa segera melihat ke arah kaki sang putri. Dia takut punggung kaki Aleesa terluka terkena serpihan beling.
"Kamu kenapa, Sa?"
Aleesa masih terdiam. Di telinganya terus terdengar nama sang kakak dengan begitu jelas. Teriakan sang kakak pun kini menggema di telinga.
"Aleena, Sa. Aleena!".
.
Kegelisahan Aleena mampu dibaca oleh Axel. Dia memeluk pundak Aleena dan membuat Aleena menoleh. Gelengan kepala dengan raut sendu menandakan dia sedang tidak baik-baik saja.
Axel melipir minggir untuk menghubungi rekannya agar membantunya menjaga Aleena. Namun, baru dua langkah terdengar suara teriakan Aleena. Axel langsung membalikkan tubuhnya dan dia pun segera berteriak memanggil Aleena. Berlari sangat kencang untuk menyelamatkan Aleena yang sudah dibawa oleh seseorang. Axel terkejut ketika melihat Rangga sudah bersimbah darah di punggungnya.
"Ngga," pekik Axel..
"Selamatkan Aleena, Bang." Suara Rangga sudah sangat lemah dan wajahnya pun sudah sangat pucat.
Axel melihat Aleena yang sudah dibawa masuk ke dalam mobil oleh seseorang yang memakai topi dan masker. Axel mengeluarkan ponselnya dan segera mengambil gambar plat nomor mobil tersebut agar bisa langsung dilacak. Dia memilih untuk membantu Rangga yang jika tidak dia tolong dengan cepat akan kehilangan banyak darah.
"B-bang, Aleena." Lemah sekali ucapan dari Rangga. Axel sama sekali tak menghiraukan. Mencari Aleena sudah dia serahkan kepada rekannya.
"Jangan pikirkan Aleena dulu. Pikirkan keselamatan kamu!" Axel serikat membentak Rangga yang dalam kondisi seperti ini masih ingat kepada Aleena.
"Bang, Aleena--"
"Percaya sama saya Aleena tidak akan apa-apa."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1
.