MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
66. Makan Siang


__ADS_3

Di hari keempat Rangga berada di Canberra, dia tidak datang ke kantor karena ada meeting di luar kantor. Tempatnya cukup jauh dari kantor di mana dia bertugas.


"Jangan lupa makan siang, Sayang."


Sebuah pesan di pagi hari yang membuat Aleena tersenyum ketika membacanya. Sangat manis sekali pacarnya itu. Senyum manis Aleena tak luput dari penglihatan Zayn. Dia sudah tidak pernah melihat Aleena diantar oleh pria berbadan tegap tersebut. Namun, wajah ceria Aleena sangat terlihat kentara sekarang.


"Apa dia sudah putus?"


Ingin rasanya Zayn mendekati Aleena, tapi sikap Aleena yang dingin membuatnya Insecure sebelum mendekat.


"Na, Pak direktur gak ada. Apa mau makan siang bareng?" Aleena pun mengangguk.


Selama Rangga berada di RAP corporate, Rangga sama sekali tidak memperbolehkan Aleena makan siang bersama rekannya. Rangga akan membawa Aleena pergi sebelum jam makan siang dengan alasan ada rapat di luar. Padahal itu hanya modus saja dan Rangga akan membawa Aleena ke apartment yang dia huni dan makan siang bersama..


Ketika jam makan siang, Aleena beserta rekannya makan di kantin yang ada di perusahaan tersebut. Padahal, mereka bisa makan di luar, tapi karena keadaan sangat terik membuat mereka memilih makan di kantin. Walaupun Aleena terlahir dari keluarga kaya, tapi dia terbiasa makan makanan sederhana. Didikan dari sang engkong masih melekat sampai sekarang.


Ketika asyik berbincang, Zayn ikut bergabung di meja mereka dan membuat rekan Aleena yang duduk di samping Aleena memilih untuk beranjak dari sana. Mempersilahkan Zayn duduk di samping sekretaris direktur utama tersebut. Zayn tersenyum ke arah Alena dan hanya dibalas senyum tipis oleh Aleena.

__ADS_1


"Na, kok pria ganteng yang suka anterin kamu itu gak pernah nganter kamjlu lagi sekarang?" Aleena masih santai menikmati makanan yang dia pesan.


"Dia lagi ke Indo."


"Itu pacar kamu?" Aleena menghentikan kunyahannya. Dia menatap ke arah rekan kerjanya yang menanti jawaban serius darinya.


"Bukan."


Zayn ingin berteriak keras karena bahagia mendengar jawaban dari Aleena. Semua mata tertuju pada Zayn yang sudah menyunggingkan senyum. Senyum yang tak pernah mereka lihat dari seorang Zayn. Ada harapan untuk Zayn berjuang.


"Iya, Mas."


Deg.


Zayn yang baru bahagia kini merasa was-was kembali. Ucapan Aleena begitu lembut dan mampu membuat Zayn berpikir yang tidak-tidak.


"Iya, ini aku lagi makan siang. Mas juga jangan lupa makan."

__ADS_1


"Uhuk!"


Ada hati yang potek ketika mendengar kalimat manis itu. Selera makan Zayn mulai berkurang sekarang.


"See you, too."


Sambungan telepon pun berakhir dan Aleena meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Semua rekannya mulaii kepo sedangkan Aleena gak mengindahkan.


"Pacar kamu, Na?"


Zayn yang biasanya tak banyak bicara, kini malah membuka suara dengan sebuah pernyataan penuh keinginTahuan. Bukan hanya Zayn yang ingin tahu, rekannya yang lain pun merasakan hal yang sama. Baru saja hendak menjawab, Aleena dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang memanggil namanya. Menatap penuh arti kepadanya. Lalu bersujud di depan kakinya.


"Ampuni saya, Aleena. Ampuni saya. Tolong bujuk kekasih kamu agar tak berbuat dzolim kepada saya."


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2