MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
23. Pertanyaan Bertubi-tubi


__ADS_3

Aksa menukikkan kedua alisnya ketika melihat foto yang tengah menjadi perbincangan hangat keluarga besar. Sang putra terciduk jalan berdua dengan keponakannya.


"Rencana siapa ini?" gumamnya sambil memperhatikan mimik wajah Rangga yang terlihat sangat bahagia. Dia menghela napas kasar.


Dia baru mendapat kabar jika ada keluarga dari seorang pria yang menghadap ke arah sang kakak. Dia meminta Aleena secara langsung kepada Raditya.


"Nih anak kayaknya seriusan sama Aleena," gumamnya.


Aksa memijat pangkal hidungnya. Dia juga belum tahu apakah keluarga yang tadi datang ke rumah Aleena diterima atau tidak oleh Radit. Sedang bergelut dengan pikirannya, suara ponselnya berdering.


"Lu kalah cepet. Keluarga yang tadi datang pun bukan orang sembarangan."


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Aksa. Dia harus segera bertindak.


.


Dua sejoli itu masih tertawa bersama setelah menonton konser. Mereka pun menyempatkan makan malam bersama sebelum kembali ke rumah. Wajah bahagia mereka sangatlah kentara.


"Aku seperti masih bermimpi," ujar Rangga yang kini menggenggam tangan Aleena yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Aku sangat bahagia sekali," tambahnya.


Aleena melengkungkan senyum yang sangat indah. Bukan hanya Rangga yang merasa bahagia, dia pun merasakan hal yang sama. Dua insan yang tengah kasmaran itu masih saling bercengkerama dengan gelak tawa yang renyah.


Jam sepuluh malam barulah Aleena tiba di rumah. Dia datang bersama pengawal yang mendampinginya. Namun, tatapan sinis Khairan berikan. Wajah bahagia Aleena pun seketika berubah.


"Yang jagain kamu di sana siapa?" Pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Khairan. Aleena menukikkan kedua alisnya dengan sangat tajam.


"Kepo lu!" omel Reksa yang baru saja bergabung.


"Orang baru balik udah ditanya kayak begituan. Kayak bapak-bapak komplek lu!" Reksa kembali mengomel.


Aleena menggunakan kesempatan ini untuk pergi menjauh dari dua orang yang tengah beradu mulut. Dia tidak ingin kebahagiaannya buyar karena ucapan dari Khairan nantinya.


"Good night, Sayang. Jangan lupa mimpiin aku, ya."


Sebuah pesan yang membuat Aleena terbahak. Padahal tidak lucu, tapi mampu membuat dia tertawa begitu lepas. Aleena terdiam sejenak, dia tengah membandingkan kebahagiannya ketika bersama Kalfa dan juga Rangga. Semuanya amat berbeda. Rangga selalu meratukannya, beda halnya dengan Kalfa.


"Tuhan, kenapa bersamanya aku sangat merasa bahagia?"

__ADS_1


Aleena bergumam dengan senyum yang melengkung sempurna. Dia mengingat betapa manisnya tawa lepas dari seorang Rangga Ardana. Sama halnya dengan Rangga yang tengah tersenyum sendiri di kamar hotel. Wajah cantik Aleena masih memutari kepalanya. Hingga sebuah dering telepon mengagetkannya. Seketika dahinya mengkerut melihat sang ayah menghubunginya melalui sambungan video.


"Iya, Dad."


"Kamu seriusan?"


Dahi Rangga mengkerut mendengar pertanyaan tiba-tiba dari sang ayah. Dia tak mengerti sama sekali.


"Pinter drama sekarang kamu ya, Kak." Sang ibu sudah mulai membuka suara.


"Eh?" Rangga belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.


"Mau dipepet gak, Kak?"


Agha sudah membuka suara dengan senyum mengejek. Itu membuat Rangga semakin dibuat bingung.


"Kenapa Kakak gak bilang ke Adek? Kenapa Kakak sembunyi-sembunyi? Apa takut kalo Adek gak ngerestuin?" Kini, Ghea yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Apa perlu Daddy lamarin sekarang?"

__ADS_1


...****To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2