
Baby Er kini menjadi jembatan penghubung antara Aleena dan Rangga. Bagiamana tidak, jika melihat Rangga baby Er akan langsung minta digendong, tapi bayi tiga bulan itu tidak mau ditinggal sang aunty. Jadi, mereka berdua harus ada di dekatnya agar bayi itu anteng.
Aleena menatap Rangga dengan sorot mata yang berbeda. Dia tidak menyangka jika Rangga akan sehangat itu kepada baby Er. Setiap kali bersama Rangga, baby Er akan tertawa sangat keras. Juga wajah Rangga yang akan sangat ceria.
"Kok gua liatnya kaya keluarga kecil, ya," celetuk Aska yang baru masuk ke ruang keluarga di rumah besar Zurich.
Aleena berdecih sedangkan Rangga hanya tersenyum. Dia semakin gemas kepada baby Er yang semakin hari semakin pintar. Dia tak segan menciumi pipi gembul sangka dari Aleesa tersebut.
"Kapan atuh lu nyusul, Ngga?"
Rangga menoleh ke arah paman dari Aleena yang tak lain adalah kembaran ayahnya.
"Nyusul mah gampang, masalahnya calonnya belum ada." Rangga berkata dengan sangat jujur dan itu membuat Aska tertawa.
"Makanya kalau punya cewek itu kerangkeng biar gak lepas." Aleena melebarkan mata mendengar penuturan dari sang paman. Sedangkan Aska masih asyik berbincang dengan Rangga.
"Nanti mah kalau aku fix sama satu wanita, aku mau beli kerangkeng yang gede, sekalian sama rantenya biar gak lepas." Aska malah tertawa dan diikuti oleh baby Er yang terkekeh lucu. Sedangkan seorang perempuan yang sedari tadi mendengar obrolan mereka hanya terdiam membisu.
Selama berada di Zurich, baik Rangga maupun Aleena tak banyak berbicara. Rangga sangat melihat rasa tidak nyaman yang Aleena rasakan ketika berada dekat dengannya. Dia memilih untuk diam dan pergi jika Aleena sudah seperti itu. Namun, dia tidak pergi ke jauh. Dia akan memperhatikan Aleena dari kejauhan. Rangga mengira jika Aleena sudah bertemu dengan pria yang melamarnya hingga sikapnya berubah seperti itu.
"Aku ingin melihat lelaki itu," gumamnya.
Axel yang mendengar gumaman Rangga hanya dapat tersenyum. Dia menghampiri Rangga dan duduk bersamanya di sana.
"Apa Bang Axel tahu siapa lelaki yang sudah dijodohkan dengan Aleena." Axel pun mengangguk dan itu membuat Rangga semakin penasaran.
"Apa dia tampan? Apa dia baik? Apa dia--"
"Dia memiliki semuanya. Bisa dibilang dia paket komplit. Makanya, Bang Radit mau menerima lamaran ayah dari si pria itu."
Tubuh Rangga lemas seketika mendengar jawaban dari Axel. Wajah Axel tidak main-main. Dia sangat serius dengan jawabannya.
"Jika, memang seperti itu ... aku ikut bahagia."
Senyum penuh keterpaksaan dia berikan. Axel tersenyum tipis melihat mimik wajah Rangga yang menahan kecewa yang mendalam.
"Saya juga yakin, kamu akan mendapatkan wanita yang sangat baik yang kelak akan menjadi tang rusukmu." Rangga menjawabnya dengan sebuah senyuman kecil.
Mendengar penuturan dari Axel, Rangga hanya bisa pasrah sekarang. Jawaban Axel sangat membuat dirinya down. Rasa percaya diri yang dia miliki hilang tak tersisa.
"Apakah ini yang dinamakan orang baik akan berjodoh dengan orang baik juga," gumamnya. Hembusan napas kecil keluar dari mulut Rangga. Tengah asyik melamun dan merenungi nasib yang tidak mujur, ketukan pintu terdengar. Rangga segera menuju pintu dan ketika pintu terbuka seorang perempuan tengah menggendong bayi laki-laki yang menangis.
"Baby Er terus nunjuk ke sini." Rangga segera meraih baby Er dan menggendongnya. Seketika tangisnya reda dan itu membuat Aleena dapat bernapas lega.
"Mau main sama Om, iya?" Bayi itu malah tertawa..
Rangga meletakkan baby Er di atas kasur yang dia tempati. Mereka masih di Zurich. Ketulusan juga kehangatan yang Rangga miliki ketika mengasuh baby Er membuat bibirnya melengkungkan senyum.
"Duduk, Na!" Rangga sudah menepuk kasur empuk yang kini menjadi tempat berbaring baby Er. Aleena pun mengangguk dan duduk di sana.
"Selamat, ya!"
Aleena terkejut sekaligus bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rangga. Dia menatap lamat-lamat wajah Rangga. Meminta penjelasan lebih dari mantan kekasihnya itu.
"Semoga kamu bahagia."
Dahi Aleena semakin mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rangga. Apalagi senyum Rangga itu sangatlah berbeda.
"Maksud kamu apa?" Aleena mulai bertanya. Baru saja Rangga hendak membuka suar, ponselnya berdering. Aleena semakin menatap dalam wajah Rangga. Apalagi dia menjawab sambungan telepon tersebut tidak menjauh dari Aleena. Wajah Rangga nampak serius.
"Dipecat?"
Satu kata yang membuat Aleena terkejut. Mimik wajah Rangga pun nampak kebingungan dengan kabar kali ini.
"Apa alasannya? Saya tidak pernah melakukan pelanggaran."
Rasa ingin tahu mulai hadir di wajah Aleena. Dia sangat yakin jika Rangga sudah dipercaya dari maskapai tempa dia bekerja. Dia juga mendengar jika Rangga meminta penjelasan yang masuk akal atas pemecatannya..
"Setelah saya kembali ke Jakarta, saya akan temui Pak Garda."
Raut kesal, kecewa sangat terlihat jelas. Aleena hanya dapat memandangi wajah Rangga tanpa bisa melakukan apapun.
"Ngga, kamu--"
"It's okay. Udah biasa kok kayak begini."
Hati Aleena pedih mendengar penuturan dari Rangga. Bersembunyi di balik kata baik-baik saja itulah yang tengah Rangga lakukan.
__ADS_1
Ketika mereka kembali ke Jakarta pun Rangga meminta ijin kepada yang lainnya untuk lebih dulu pulang dan tak ikut makan. Sungguh Rangga sedang tidak baik-baik saja. Dua hari di Zurich pun Aleena melihat jelas wajah Rangga yang penuh dengan kebingungan setelah dia menatap layar ponselnya. Berkali-kali juga terdengar disa menghela napas kasar.
"Ada apa dengan Rangga?"
Semua orang pun melihat jika sikap Rangga berubah. Wajahnya seperti tengah menanggung banyak beban pikiran. Apalagi ketika dia buru-buru pergi dan itu semakin membuat mereka curiga. Aleena segera menghubungi sepupunya, Agha.
"Apa ada masalah dengan Rangga?"
Lama Agha membalas pesan tersebut. Aleena yang tak berselera makan masih menunggu balasan dari adik sepupunya. Hingga suara pesan masuk terdengar. Aleena sangat yakin jika itu pesan dari Rangga. Namun, seketika di syok membaca balasan dari Agha.
"Kak Rangga dituduh menghamili si Jin wanita. Pihak orang tua si Jin melapor kepada pihak maskapai tempat di mana Kak Rangga bekerja. Dia juga meminta jika pihak maskapai itu memecat dirinya."
Aleena menggelengkan kepalanya tak percaya. Rangga sudah difitnah dan didzolimi. Dia tengah membayangkan bagaimana reaksi keluarga sang paman ketika mengetahui sang putra difitnah. Juga sudah sangat merugikan untuk Rangga..
"Raja hutan disenggol," kelakar Aska. Dia berbicara sendiri.
"Cari mati sama malaikat maut," timpal yang lain.
...***To Be Continue***...
Tekan paragraf ini yang lama, ya. Terus ketikkan komen kalian di sini.
BAB 60. BAGIAN B (Difitnah dan Didzolimi)
Rangga langsung pergi ke kantor maskapai penerbangan yang melaporkan dirinya ke maskapai tempatnya bekerja. Dia langsung menemui Tuan Garda di pemilik maskapai tersebut. Tidak ada rasa ragu apalagi takut di wajah Rangga. Malah raut marah yang dia tunjukkan. Wajah kalemnya sudah tidak ada, hanya wajah penuh marah dan mata memerah yang Rangga ada sekarang.
Tuan Garda sudah menyambutnya dengan senyum tipis. Rangga sama sekali tidak takut. Dia langsung melempar berkas yang dia terima dari rekan sejawatnya di atas meja kerja tuan Garda.
"Apa maksud Anda?"
Suara Rangga sudah dengan penekanan. Juga penuh kemarahan. Dia menatap nyalang ke arah ayah dari Jihan. Sisi lain dari Rangga sudah dia tunjukkan.
"Apa kamu tidak bisa membacanya?"
Brak!!
Rangga menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Wajahnya kini sudah memerah. Matanya pun sudah merah dengan tatapan menyeramkan.
"Ingat ya, Rangga. Keluarga kamu sudah membuat putri saya kehilangan masa depan. Jadi, saya akan melakukan hal yang sama kepada kamu."
"Anak Anda berhak mendapatkan itu karena memang anak Anda salah!" Rangga membentak tuan Garda.
Sesalah apapun sang putri, tetap saja dia akan membela Jihan hingga titik darah penghabisan. Begitulah sikap kebanyakan orang tua.
"Anak saya tidak salah! Kamulah penyebab kesalahan itu!"
Lagi-lagi Tuan Garda menyalahkan Rangga dan itu membuat Rangga muak. Dada Rangga sudah turun-naik menandakan emosinya sedang tidak stabil. Dia sudah mendekat ke arah Tuan Garda. Tangannya pun hendak mencengkeram kemeja kerja Tuan Garda saking tak bisa menahan emosi. Namun, suara seseorang menghentikan aksinya.
"Jangan kotori tangan kamu, Nak!"
Rangga sangat tahu itu suara siapa. Dia pun menoleh ke arah asal suar dan benar dugaannya. Sang ayah sudah ada di sana. Tuan Garda pun melebarkan matanya. Dia menatap takut ke arah Aksara,
Aksa melemparkan sebuah map ke tubuh tuan Garda, Jantung tuan Garda sudah berdegup sangat cepat, Jika, sudah begini pasti terjadi sesuatu. Perlahan tangannya mulai membuka map tersebut. Jantungnya hampir terlepas.
"I-ini--"
"Anda bisa baca 'kan?" Aksa membalas ucapan dari tuan Garda.
Terlihat tangan tuan Garda bergetar hebat. Sedangkan Aksa sudah tersenyum tipis, Dia masih asyik melihat wajah syok tuan Garda.
Penarikan saham dari semua pihak karena kasus sang putri yang dia tutupi kini mencuat ke umum. Itu membuat saham miliknya anjlok. Belum juga keterkejutannya selesai. Seorang polisi masuk dan memberikan amplop berwarna cokelat. Tubuh tuan Garda seperti tak bertulang sekarang. Dia takut untuk membuka surat itu. Namun, pihak kepolisian menyuruhnya untuk membuka surat tersebut.
Tuan Garda tak bisa berkata ketika membaca isi surat tersebut. Jika, Aksa sudah bertindak. Kejahatan sekecil apapun akan bisa dia ketahui.
"Selamat bergabung dengan putri Anda."
...***To Be Continue****...
Tekan paragraf ini yang lama ya. Terus ketikkan komen kalian.
BAB 60 BAGIAN C. (Memulai Dari Awal)
Meskipun begitu, tetap saja Rangga sudah dipecat dari maskapai tempatnya bekerja. Sebuah berita buruk yang membuatnya sedih. Jadi, seorang pilot adalah cita-citanya. Namun, sekarang pupus sudah karena sebuah fitnah yang sangat keji.Dia tidak bisa mengudara lagi karena namanya sudah tercoreng dan tidak akan bisa terbang lagi.
Sudah tiga hari ini Rangga tidak keluar kamar. DIa masih dirundung sedih yang tal terkira. Itu membuat ibunya sa mencemaskan keadaan Rangga.
Riana mencoba mengetuk pintu kamar Rangga. Tak lama, pintu itu terbuka dan wajah sedih Rangga terlihat jelas.
__ADS_1
"Kamu bisa bekerja di kantor Daddy, Kak."
.
Sebelum kembali ke Sydney Aleena sangat mengkhawatirkan keadaan Rangga. dia ingin menemui Rangga tapi dia malu.. pada akhirnya dia meminta bantuan aga untuk bisa bertemu dengan Rangga. mereka berdua bertemu di sebuah kedai kopi.
Rangga tersenyum kepada Aleena begitu juga dengan Aleena yang membalas senyuman Rangga. Ada kekikukkan di antara mereka berdua.
"Ngga, aku tahu kamu--"
"Jangan pikirkan perihal aku, Na. Aku sudah bisa menerima kenyataan kok. Lagi pula aku akan bekerja di kantor Daddy. Aku tidak ingin menjadi lelaki pengangguran karena sebagai lelaki aku harus menjadi tulang punggung untuk keluarga ku kelak."
Hati Aleena mencelos ketika mendengar perkataan dari Rangga. Dia tidak ingin mendengar itu karena membayangkannya saja dia tidak sanggup. Apalagi melihat Rangga bersanding dengan seorang wanita nantinya. Sungguh dia tidak ingin melihatnya.
Tak ada obrolan lagi. Baik Aleena dan Rangga seakan tengah menjaga hati mereka masing-masing.
"Ya udah. Aku pulang, ya." Aleena pamit kepada Rangga. Rangga pun hanya mengangguk. Tak ada niatan untuknya mengantarkan Aleena. Ketika Aleena pergi dia hanya menghembuskan napas kasar. Dunianya terasa hancur berantakan.
"Aku harus memulai dari awal."
.
Sudah lebih dari enam bulan Aleena betah berada di Sydney tanpa pulang ke rumah. Dia fokus untuk menyelesaikan skripsinya, dan hari ini Aleena dinyatakan lulus dengan nilai bagus. Dia sangat bahagia. Akhirnya, sia mampu melawan musuh terbesarnya, yakni dirinya sendiri.
Aleena sangat terharu dan memeluk tubuh kedua orang tuanya dengan begitu erat. Dia tidak menyangka jika dia bisa lulus dengan waktu yang normal.
Selama enam bulan ini dia menantikan kabar di mana orang yang melamarnya akan bertemu dengannya. Perlahan, tapi pasti dia sudah bisa melupakan Rangga. Meskipun sulit, tapi dia terus berusaha. Namun, kabar itu tak kunjung datang. Setiap kali dia bertanya kepada ayahnya, sang baba akan menjawab bahwa dia masih sibuk. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Apa nanti ketika mereka menikah, suaminya akan menomor satukan pekerjaan dibandingkan Keluarga?"
Pikiran jelek sudah mulai bersarang di kepala. Ingin rasanya dia membatalkan saja pernikahannya dengan pria yang sampai saat ini belum dia ketahui. Namun, semakin hari untuk melepas cincin pemberian dari orang tua calon suaminya semakin enggan. Dia sudah nyaman menggunakan cincin yang masih tetap cantik seperti pertama kali.teroasng di jari manisnya.
Aleena masih betah berada di Sydney dan sia belum ingin kembali ke negara di mana dia dibesarkan. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk ke Canberra. Dia ingin mencoba bekerja di sana. Negara di mana sang ayah memulai semuanya di sana hingga bahagia bersama ibunya di sana.
Aleena ingin membuka praktek di sana, tapi dia belum percaya diri hingga dia memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta di Canberra. RAP corporate, di sanalah Aleena mulai peruntungan untuk bekerja. Tak disangka, dia diterima
Sungguh sangat senangnya Aleena ketika hampir tujuh puluh persen karyawan di sana orang indonesia. Jadi, dia merasa bekerja di Indonesia karena bahasa mereka berbincang menggunakan bahasa Indonesia.
Tiga bulan bekerja di sana, Aleena diangkat menjadi sekretaris direktur utama. Sungguh Aleena tidak menyangka.
"Ini beneran?" Sungguh ini bagai mimpi untuk Aleena.
Sayangnya, direktur utama di RAP corporate tidak pernah datang ke kantor. Semua berkas pun hanya dikirim via email. Banyak berita burung terdengar, jika direktur utama RAP corporate ini adalah anak yang sudah lama dicari oleh pihak dalam RAP corporate. Pasalnya, pendiri RAP corporate ini sudah meninggal dan hanya memiliki satu penerus, yakni seorang anak laki-laki yang juga sukses di tanah kelahirannya. Maka dari itu, dia menyerahkan semuanya kepada pihak kepercayaan RAP corporate.
"Jadi, tugas aku hanya mengirimkan e-mail saja?" Teman Aleena pun. mengangguk.
"Kerja kamu itu kaya kerja sama hantu." Aleena malah tertawa.
"Dari pertama kali anak dari pemilik perusahaan ini ditemukan, dia sama sekali belum menginjakkan kaki ke perusahaan ini. Namun, cara kerja secara daring sangat bagus. Belum satu tahun dipimpin olehnya, value perusahaan naik sepuluh kali lipat."
Aleena sangat bangga mendengarnya. Dia sangat ingin bertemu dengan direktur utama yang hebat yang tengah diobrolkan olehnya dan temannya.
"Ada kabar sih, jika bulan depan direktur utama akan datang ke sini. Melihat langsung perusahaan dan menilai karyawan."
"Benarkah?" Teman Aleena pun mengangguk. Terlihat Aleena sangat antusias.
"Kenapa kamu sangat antusias? Kamu tidak grogi?" Aleena menggeleng dengan sangat cepat.
.
Setiap malam Radit akan menghubungi Aleena menanyakan bagaimana pekerjaannya. Aleena akan sangat antusias bercerita dan itu membuat Raidy bahagia.
"Baba senang Mendengar kamu bekerja dengan senang hati."
"Perusahaan itu sangatlah menyenangkan, Ba. Para karyawannya pun memiliki attitude yang bagus. Kakak Na nyaman di sana." Radit pun tersenyum.mendengarnya. Hingga sebuah pertanyaan muncul dari bibir Aleena.
"Ba, siapa sih sebenarnya pemilik cincin ini?" Aleena sudah menunjukkan cincin yang masih setia berada di jari manisnya.
"Untuk kali ini, Kakak Na Mohon ... jawablah dengan jujur."
Radit menghela napas berat. Dia menatap ke arah sang putri yang sudah meminta jawaban.
"Calon imam kamu adalah salah seorang petinggi di perusahaan maskapai nasional juga di sebuah perusahaan swasta yang berada di benua Australia."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1