
Khairan sudah mendapat kabar jika Aleena akan segera menikah dengan pilot. Dia yang baru selesai tugas dari ruang IGD menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit di salah satu lorong. Dia memejamkan mata seraya menarik napas panjang.
"Kenapa sakitnya masih terasa," gumamnya.
Belum bisa melupakan sosok perempuan yang dia cintai walaupun sudah lebih dari enam bulan berlalu.
"Apa aku harus hadir? Apa itu tidak akan menambah rasa sedihku? Dan apa kamu masih mau melihat aku lagi setelah kejadian itu?"
Khairan berkata di dalam hati. Hatinya masih dirundung sedih. Sekuat tenaga dia mencoba untuk melupakan Aleena, tapi nyatanya itu tak berhasil. Aleena masih tetap ada di dalam hatinya.
Kini, Khairan lebih fokus pada pekerjaannya. Dia masih praktek di salah satu rumah sakit di Singapura sebagai dokter umum. Dia mencoba terus fokus bekerja agar dia bisa melupakan sosok Aleena. Namun, tetap saja tidak bisa. Ketika rasa lelah melanda, foto Aleena lah yang akan menjadi pengobat lelahnya.
Khairan menjadi pribadi yang berbeda jika di rumah. Dia tidak akan keluar kamar jika dia sudah pulang bekerja. Menghabiskan waktu di tempat ternyaman versinya. Menatap foto Aleena dan dirinya yang tengah tersenyum ke arah kamera.
"Kamu sudah bahagia. Bagaimana dengan aku, Na?"
Khairan menatap indahnya langit malam di balik jendela kamar. Dia merindukan perempuan yang sedang dia coba untuk lupakan. Hingga suara denyitan pintu terbuka terdengar. Khairan menoleh dan sudah ada sang ayah yang tersenyum ke arahnya.
"Kenapa pulang gak bilang?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Khairan ketika mengetahui sang ayah sudah kembali ke Singapura. Khrisna tengah mengecek salah satu rumah sakit di Jogja. Rumah sakit yang masih memiliki hubungan dengan keluarganya.
"Sengaja."
Khrisna menepuk pundak Khairan dan menatapnya dengan sangat dalam.
"Sudahi sedihmu. Perempuan yang kamu sedihi sudah bahagia dengan lelaki yang setara dengannya." Khairan hanya tersenyum tipis.
"Nasihatin sih gampang, Yah. Tapi, ngelakuinnya yang susah." Khrisna malah tertawa dengan jawaban Khairan. Putranya baru merasakan jatuh cinta sesungguhnya pada sosok Aleena. Perempuan yang tidak bisa dia gapai.
"Kamu berhak bahagia, Khai."
"Aku tahu, Yah," jawab Khairan. "Biarkan aku seperti ini dulu. Tenggelam dalam rasa sedihku hingga nanti akan datang sosok pelipur lara yang membuat aku melupakan sosok perempuan yang belum bisa aku lupakan," lanjutnya lagi.
Khrisna tersenyum mendengarnya. Dia tidak akan memaksa Khairan karena dia sangat tahu bagaimana watak anaknya. Khrisna juga percaya jika Khairan akan bisa melupakan Aleena. Malah dia sudah memiliki calon untuk putranya tersebut.
__ADS_1
"Oh iya, Ayah tidak mau tahu ketika hari bahagia Aleena tiba kamu harus datang ke sana."
Mata Khairan pun melebar. Dahinya perlahan mengkerut, tapi Khrisna tak memperdulikannya.
"Tidak ada alasan apapun," tekan Khrisna.
Jika, sudah seperti ini dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sang ayah memang ayah yang pengertian, tapi dia juga sangat tegas dengan keputusan yang telah dia buat. Tidak seorang pun yang akan bisa merubahnya. Termasuk Khairan.
Pemuda sad boy itu menghembuskan napas sangat berat ketika sang ayah sudah menutup pintu kamarnya.
"Apa kamu masih mau bertemu dengan aku, Na?"
Khairan mengambil ponsel di atas meja. Dia mencari kontak Aleena di sana. Mulai mengetikkan sesuatu pada nomor tersebut. Setelah selesai dia mulai ragu untuk mengirimnya. Masih menimbang apakah pesan itu harus dia kirimkan atau tidak.
.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke sebuah ponsel di mana sepasang kekasih sedang makan malam bersama.
Aleena yang tengah fokus pada piring di depannya menggeleng. Tangan Rangga sudah meminta sesuatu. Aleena menyerahkan ponselnya kepada Rangga. Mereka berdua sudah sepakat jika tidak ada yang boleh mereka sembunyikan. Termasuk ponsel. Aleena berhak tahu isi ponsel Rangga begitu juga sebaliknya.
Dahi Rangga mengkerut ketika membaca pesan tanpa nama yang masuk ke pesanan Chay nomor calon istrinya.
"Na, apa kabar?"
"Pasti kamu sudah bahagia sekarang."
"Kamu sudah bersama lelaki yang pantas dengan kamu."
"Aku ikut bahagia walaupun hati aku masih belum bisa menerima."
"😢"
__ADS_1
"Na, apa kamu sudah memaafkan aku? Atau kamu masih marah sama aku?"
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Oh iya, Ayahku bilang aku harus datang ke acara bahagiamu. Apakah kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiranku nantinya?"
"Aku tunggu balasannya, Na. Apapun jawaban dari kamu, aku akan terima."
.
Khairan menunggu pesan balasan dari Aleena. Dia sedikit cemas karena takut Aleena tak membalas pesannya dan itu menandakan jika Aleena masih marah kepadanya. Dia memang sudah bodoh. Mencintai, tapi mengotori.
Sepuluh menit berselang, ponsel Khairan berdering. Dia segera membuka kunci layar ponselnya.
Aleena.
"Datang saja. Aku tidak keberatan."
"Tapi, setelah itu lupakan aku karena aku sudah bahagia dengan suamiku."
.
"Mas, kenapa kamu--"
"Mas hanya ingin menunjukkan kepadanya jika mencintai dalam diam tidak selamanya menyakitkan. Sebuah ketulusan cinta akan membuka jalan dan membawa menuju sebuah kebahagiaan, yakni bersama orang yang disayang."
Aleena tersenyum mendengarnya. Dia menatap sang calon suami yang kini ada di sampingnya.
"Buktinya, sekarang Mas bisa milikin kamu. Sebentar lagi kamu akan sepenuhnya menjadi milik Mas."
Tangan Rangga sudah berada di pipi Aleena. Mata mereka pun sudah saling mengunci. Perlahan, tapi pasti wajah Rangga sudah semakin mendekat ke arah Aleena yang sudah memejamkan mata. Hembusan napas Rangga sudah dapat Aleena rasakan. Menunggu peraduan bibir yang memabukkan karena sesapan yang begitu mengasyikkan.
"O pap Danan!!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...