MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
7. Memperbaiki Diri


__ADS_3

Selama di rumah sang ayah, Rangga banyak merenung. Dia banyak berpikir tentang hati dan masa depannya. Apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya memang benar. Dia harus menegakkan kepalanya dan tak boleh menyerah.


Sebuah keputusan sudah dia ambil. Dia hanya tinggal menunggu sang ayah dan membicarakan berdua. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Rangga, Bayang wajah Aleena terus berputar di kepalanya. Namun, keputusannya sudah sangat bulat. Harus ada yang dia korbankan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Sang ayah sudah menyilangkan kakinya di sofa panjang yang ada di ruang kerja miliknya. Rangga yang baru saja masuk bingung harus memulai dari mana.


"Ada apa?" tanya sang ayah sekali lagi. Aksa dapat melihat sang putra ingin berbicara hak yang penting.


"Aku akan menerima tawaran Daddy untuk masuk ke dalam jajaran perusahaan."


Aksa tersenyum lebar mendengar ucapan dari putranya tersebut. Selama lebih dari dua tahun menunggu akhirnya dia mendapat jawaban penuh kepastian dari putranya.


"Tapi, aku juga tidak ingin meninggalkan pekerjaanku. Aku ingin tetap mengudara."

__ADS_1


Aksa menurunkan kakinya yang sebelumnya dia silangkan. Dia menepuk sofa yang ada di sampingnya. Menyuruh Rangga duduk di sana. Sang putra pun menuruti perintah dari ayahnya.


"Apa kamu serius?" Rangga mengangguk.


"Apa alasan kamu mau bekerja sama dengan Daddy?" Rangga seperti sedang disidak oleh ayahnya sendiri.


"Aku ingin menegakkan kepalaku dan bilang kepada dunia bahwa aku sudah pantas."


Kalimat yang mengandung banyak arti. Aksa hanya menganggukkan kepala dan dia sangat tahu maksud dari kalimat itu apa.


"Baiklah. Daddy sudah menyiapkan pekerjaan yang pantas untuk kamu ketika kamu libur terbang."


.


Di lain negara, Aleena nampak ketakutan karena Kalfa masih mencarinya. Apalagi Axel sudah melarang Aleena untuk keluar rumah.

__ADS_1


"Udah gila kali tuh orang." Khairan sangat murka.


Axel tak menjawab apapun. Dia malah mengkhawatirkan akan keadaan Aleena. Setelah Rangga pergi dan dia melaporkan bahwa Kalfa ingin menghabisi Rangga, tidak ada keceriaan yang wajah Aleena tunjukkan. Dia selalu sendu dan seperti orang yang memikirkan hal berat.


"Pokoknya kamu di rumah aja, Na. Jangan ke mana-mana."


Aleena tidak menjawab. Hot cokelat yang sudah dia buat pun dia anggurkan begitu saja. Tiga hari yang lalu dia melihat postingan Rangga di akun media sosial. Hatinya sangat perih ketika membaca caption dari postingan tersebut.



Menyaksikan senja di pinggir pantai dengan aduan hati yang begitu perih kepada mereka yang telah menyatu dengan air laut. Setiap sapuan ombak yang mendekat ke kaki, rasanya seperti diajak untuk bergabung bersama mereka yang telah pergi. Alunan suara deburan ombak selalu membuat diri ini refleks memejamkan mata. Suara syahdu itu seperti nyanyian Nina bobo yang sering mereka nyanyikan ketika malam tiba. Nyanyian yang hanya menjadi kenangan dan selalu ada di dalam ingatan.


Kalian akan selalu ada di dalam hati ini walaupun kenangan kita bertiga terlalu sedikit. Maaf, jika semakin dewasa anak kalian ini semakin sering mengadu dan semakin cengeng. Hanya kata andai yang sering terlintas di kepala jika si anak cengeng ini tengah lelah dengan semuanya.


Aku ingin memeluk kalian. Aku rindu kalian. 😊

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2