
Axel tersenyum jika mengingat bagaimana dia mencari tahu perihal Aleena. Mendadak menjadi detektif Conan. Cukup besar rasa yang dia miliki kepada Aleena. Sikap Aleena yang begitu hangat membuat Axel merasa nyaman.
"Aleena memang anak yang enak diajak bicara."
Remon, ayah dari Axel membuka suara. Axel pun menoleh ke arah ayahnya. Sang ayah seperti cenayang, tahu apa yang tengah dia pikirkan. Tepukan di pundaknya membuat Axel mengerutkan dahi.
"Kuburlah perasaan kamu."
Sebuah perintah yang membuat Axel menukikkan kedua alisnya. Sorot matanya seakan meminta penjelasan lebih lagi kepada sang ayah. Remon hanya tersenyum dan kini duduk di tepian tempat tidur sang putra.
"Aleena adalah adik kamu. Jangan menentang itu."
Seketika rasa bahagia yang tengah melayang dijatuhkan dengan sangat keras ke dasar bumi. Axel terdiam dan sang ayah menggenggam tangannya dengan sangat lembut.
"Jodoh Aleena sudah disiapkan oleh Daddy Gio. Lelaki itupun bukan dari kalangan sembarangan."
"Kalfa?" tebak Axel
Remon hanya tersenyum. Dia mengacak rambut sang putra sembari mengatakan anaknya ganjen. Kemudian, dia berlalu begitu saja hingga membuat Axel hanya bisa terdiam dengan penuh tanya di kepalanya.
"Pah, siapa lelakinya?"
Langkah Remon pun terhenti. Tangannya sudah berada di gagang pintu. Dia pun membalikkan tubuhnya dan melihat Axel menatapnya penuh keingintahuan.
"Nanti kamu akan tahu siapa lelaki yang sangat tulus menyayangi Aleena."
Jawaban yang yang tak berguna sama sekali. Axel hanya menghela napas kasar. Dia bergelut dengan pikirannya sendiri tentang bagaimana nasib perasaannya.
"Apa aku harus menyudahi rasa ini?"
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Axel. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi meja belajar. Bayang wajah Aleena masih menjadi penghuni utama di kepalanya.
"Sudahilah, Bang. Kita itu sudah seperti kakak-adik dengan si triplets. Papa sudah janji kepada Daddy Gio jikalau mereka akan saling menjaga hingga anak cucu mereka. Tidak boleh ada cinta dan sayang karena kita adalah keluarga Daddy Gio."
Acel, adik dari Axel berkata kenyataan yang ada. Bukannya dia tega. Dia hanya tidak ingin kakaknya yang lebih tua lima belas menit itu kecewa nantinya.
"Cukupkan ya perasaannya. Tugas kita 'kan jaga mereka bertiga."
Sulit memang, tapi dia juga sadar diri. Dia tidak boleh melanggar janji ayahnya kepada kakek dari Aleena. Perlahan Axel mulai bisa meredam perasaannya. Hingga rasa itu menghilang dan hanya rasa sayang kepada adik yang dia miliki kepada Aleena.
#off.
__ADS_1
"Pah, sekarang aku tahu siapa yang Papah maksud." Axel tersenyum dengan begitu lebar.
Sebuah foto yang dikirimkan Reksa adalah bukti perasaan cinta yang sesungguhnya. Axel masih memandangi foto itu dengan raut bahagia yang tak berdusta.
"Jika, dulu aku memaksa ... aku tak ubah si kelapa tanpa kepala," gumamnya seraya tertawa kecil.
.
Sedari tadi tangan Aleena terus digenggam oleh Rangga. Aleena tak menolak karena berada didekat Rangga rasanya sangat nyaman dan dia merasa dilindungi.
"Udah sampai."
Aleena pun menoleh ke arah Rangga yang menunjukkan wajah sangat bahagia. Aleena melihat toko baju ternama di Jepang tepat di mana taksi yang mereka tumpangi berhenti.
"Aku ingin kamu yang memilihkan baju untuk aku."
Perkataan Rangga mampu membuat Aleena menatap Rangga lagi. Senyum begitu manis ditunjukkan oleh Rangga.
"Tidak mungkin 'kan aku pakai baju dinas."
Rangga sangat gemas kepada Aleena karena sedari tadi wanita itu hanya terdiam bagai patung bernapas. Tangan Rangga menyentuh kembali pipi Aleena dengan begitu lembut.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu kamu di sini. Menghirup udara yang sama dengan kamu adalah momen yang sangat langka buat aku."
"Jangan menangis. Aku tidak suka."
Bukannya berhenti menangis, air mata Aleena malah semakin deras mengalir. Rangga segera menarik Aleena masuk ke dalam pelukannya.
"Jangan buat aku merasa bersalah karena sudah membuat kamu menangis." Aleena menggeleng pelan. Tangannya pun mulai melingkar di pinggang Rangga dengan begitu erat.
"Aku juga bahagia."
Suara yang sangat kecil, tapi mampu Rangga dengar dengan jelas. Bibir Rangga pun melengkung dengan begitu lebar. Sungguh dia tidak menyangka akan mendengar kalimat yang begitu manis itu.
Mereka berdua bagai sepasang kekasih karena sedari tadi tangan mereka terus bertaut. Aleena memilihkan baju untuk Rangga gunakan dan Rangga hanya mengikutinya dari belakang.
"Tuhan, jangan ambil kebahagiaan ini dariku. Aku mohon."
Aleena sudah selesai memilihkan baju untuk Rangga. Tak ada komplainan dari Rangga dengan apa yang dipilihkan oleh wanita yang dia cintai itu. Setelah membayar bajunya, Rangga langsung mengganti bajunya di ruang ganti toko tersebut. Aleena menunggunya sambil memainkan ponsel. Dia juga mengabarkan keberadaannya kepada Reksa dan Khairan.
Rangga keluar dengan membawa paper bag toko tersebut. Aleena tersenyum ke arah Rangga dan itu membuat Rangga terpaku untuk sesaat.
__ADS_1
"Tuhan, cantik sekali ciptaan-Mu ini."
Rangga tak berkedip sama sekali hingga Aleena meraih paper bag yang ada di tangan Rangga. Dahi Rangga mengkerut ketika Aleena memeriksa baju dinas yang Rangga masuk ke dalam sana.
"Rapihin dong. Nanti 'kan dipakai lagi."
Kalimat yang cukup panjang yang mengejutkan. Rangga nampak tak percaya dengan pendengarannya kali ini. Dia juga belum spenuhnya percaya jika itu semua nyata adanya. Tanpa sadar Rangga mencubit pipinya sendiri hingga dia mengaduh. Sontak Aleena menoleh dan terlihat wajahnya yang cemas.
"Kamu kenapa?"
Rangga malah bersimpuh di depan Aleena. Dia menarik tangan Aleena yang tengah membenahi baju dinas miliknya.
"Tolong cubit sekeras-kerasnya." Kedua alis Aleena menukik tajam tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rangga.
"Aku gak mimpi 'kan bertemu sama kamu. Jalan sama kamu."
Bibir Aleena melengkung untuk kesekian kalinya. Dia mencubit pipi Rangga yang putih, sontak pria yang tengah bersimpuh di hadapannya mengaduh. Aleena malah tertawa.
"Sakit 'kan." Rangga pun mengangguk.
"Aku sedang bersama kamu, Ngga. Ini aku Aleena."
Rangga meletakkan wajahnya di pangkuan Aleena. Tangannya melingkar di pinggang wanita yang dia cinta.
"Jangan sudahi mimpi indah ini."
Aleena tersenyum dan mengusap lembut rambut Rangga. Dia tidak berkata, tapi dia bisa merasakan ketulusan dari ucapan Rangga tersebut.
"Aku juga tidak ingin mimpi indah ini berkahir, Ngga."
Hari ini Rangga dan Aleena sangat dekat. Mereka berdua juga menikmati makan malam berdua di tempat yang cukup private. Rangga tidak ingin kebersamaannya dengan Aleena terganggu dan tidak bisa dia nikmati. Terlihat jelas wajah bahagia mereka berdua. Banyak hal yang mereka obrolkan, dari membahas Agha hingga hal yang lainnya.
Aleena yang baru saja selesai menerima panggilan dari Axel terpana akan ketampanan Rangga yang tengah melamun. Tanpa Rangga tahu Aleena mengambil gambarnya.
Dia tersenyum sendiri melihat hasil gambar yang dia ambil. Tanpa Aleena sadari, dia membuka media sosial dan memposting foto tersebut di akunnya.
"Apa aku tengah bermimpi? Jika, iya ... jangan pernah bangunkan aku dari mimpi indah ini."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...