
Khairan sangat murka ketika Rangga sudah tak ada lagi di sana. Dia berteriak bak orang gila. Sedangkan Reksa hanya menontonnya saja.
"Mau lu gila sekalipun, gak akan merubah perasaan Kak Nana." Sontak Khairan menatap tajam ke arah Reksa yang berbicara dengan begitu santainya.
"Lu bisa lihat 'kan gimana Kak Nana ketika bersama Kak Rangga," tambah Reksa lagi. "Apa bersama lu dia juga seperti itu?"
Mulut Khairan terbungkam mendengar Omelan dari seorang Reksa Adiputra. Tidak ada yang salah dari ucapan Reksa tersebut. Dia memang melihat jelas bagaimana Aleena ketika bersama Rangga. Dia melihat Aleena yang berbeda jika bersamanya dan juga Axel.
.
Khairan merenungi nasibnya sekarang. Dia yang membawa Aleena ke Jepang, tapi dia yang diabaikan oleh Aleena.
"Apa gua harus mengalah?"
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Khairan. Dia memilih ke dapur di mana ada Aleena di sana yang tengah membuat susu. Matanya menatap punggung Aleena dengan begitu pilu.
"Kenapa sangat sulit mendapatkan kamu, Na."
Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya. Suara Aleena yang terus memanggilnya pun tak membuatnya sadar dari lamunannya.
"Khai!"
Usapan lembut di pundak Khairan barulah membuat dia tersadar. Aleena menatapnya bingung.
"Kamu kenapa?"
Khairan menggeleng. Dia mencoba untuk tersenyum ke arah Aleena. Kemudian, dia mengambil susu yang tengah Aleena genggam dan meminumnya.
"Khairan!"
Lelaki itu malah tertawa. Sedangkan Aleena sudah merengutkan wajahnya.
"Bikin lagi," ujar Khairan tanpa dosa. Wajah Aleena belum berubah sama sekali.
"Ya udah aku bikinin."
"Gak usah!"
Aleena kembali membalikkan tubuhnya menuju dapur seraya mendumal kesal. Khairan pun tersenyum perih. Dia benar-benar mengagumi wanita yang sudah hampir dua tahun dia kenal itu.
Khairan mendekati Aleena yang tengah meletakkan susu bubuk ke dalam gelas. Dia bersandar di dinding dapur seraya memperhatikan Aleena yang masih marah kepadanya. Terdengar suara hembusan napas kasar.
"Na, kamu anggap aku apa sih?"
Aleena yang sedang menuangkan air untuk dia panaskan menghentikan kegiatannya. Dia menoleh ke arah Khairan yang tengah menatapnya dengan begitu dalam.
"Kenapa kamu bersikap beda kepadaku?" Aleena semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Khairan. Dia menukikkan kedua alisnya dengan sangat tajam.
"Kamu begitu terbuka kepada Axel, dan kamu juga begitu bahagia bersama pilot itu, tapi kepadaku kamu tidak seperti itu. Kenapa, Na?"
__ADS_1
Aleena sangat terkejut dengan kalimat lanjutan yang dilontarkan oleh Khairan. Apalagi wajah lelaki yang ada di hadapannya ini terlihat sangat menyedihkan.
"Aku butuh penjelasan dari kamu, Na. Aku ini sayang sama kamu. Bahkan sudah lebih tiga kali aku menyatakan perasaan aku kepada kamu, tapi kamu selalu bersembunyi dari kata belum siap. Kenapa, Na." Khairan mulai mendesak Aleena untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku memang belum siap untuk membuka hati." Aleena menjawab pertanyaan Khairan dengan begitu tegas.
"Tapi, kepada Rangga--"
"Aku mengenal Rangga sedari aku kecil. Aku sudah berteman dengannya sama seperti aku berteman. dengan Bang Axel," potong Aleena.
"Jika, kita berbicara dengan orang yang sudah lama kita kenal apalagi sudah sedari kecil akrab dengan kita pasti akan lebih nyaman dan lepas 'kan. Mereka bukan orang baru dalam hidup aku."
"Apa benar?"
"Jadi, kamu tidak memiliki perasaan kepada pilot itu?" Khairan mulai mengorek hati Aleena.
"Hanya sebagai teman."
Jelas, pada dan singkat jawaban dari Aleena. Juga mimik wajah yang sangat serius. Itu membuat Khairan sedikit melengkungkan senyum.
"Yes! Gua masih punya kesempatan."
.
Rangga mengerutkan dahi ketika pagi baru datang ada sebuah pesan masuk. Nomornya pun tak dia kenali. Dia membuka pesan tersebut.
Rangga sudah bisa menebak itu pesan dari siapa. Dia menghela napas kasar. Paginya disambut hal yang tidak mengenakkan.
"Ok. Kita bertemu di sana."
Rekan Rangga terlihat heran ketika melihat Rangga sudah rapi dengan pakaian santainya di pagi hari.
"Mau ke mana?" tanya salah seorang pramugara.
"Kayak gak tahu orang yang lagi kasmaran aja," sahut sang kapten. Rangga hanya tersenyum. Apa yang dikatakan oleh rekannya pasti akan dia sambut dengan senyuman yang begitu manis.
"Aku pergi dulu, ya."
"Kok saya merasa lebih setuju dengan wanita ini," ujar sang kapten ketika Rangga sudah pergi.
"Wajah bahagia Rangga sangat terlihat jelas jika bersama wanita ini dibanding anak dari pemilik maskapai nasional." Sang kapten mengangguk setuju.
.
Rangga tak lupa memakai masker dan juga topi yang akan menjadi barang wajib dipakai ketika bepergian. Dia tidak ingin wajahnya menjadi pusat perhatian banyak orang.
Tibanya di tempat ramen yang Khairan inginkan, dia melihat sudah ada lelaki yang menjadi teman dari Aleena. Dia segera menghampiri Khairan dan menyapanya dengan lembut.
__ADS_1
"Duduk lu!"
Belum apa-apa Khairan sudah ngegas. Untungnya Rangga adalah manusia penyabar. Jadi, tidak akan pernah dia ambil hati ucapan dari Khairan tersebut.
"Ada yang mau gua tunjukin ke lu."
Dahi Rangga mengkerut mendengar ucapan dari Khairan. Wajah Khairan nampak tersenyum kecil dan itu membuat Rangga sedikit curiga.
"Apa?"
Rangga sudah menyahuti ucapan dari Khairan. Dia masih bersikap tenang. Akan tetapi, Khairan malah bertanya sesuatu terlebih dahulu kepada Rangga.
"Lu punya perasaan sama Aleena?"
Rangga tersenyum tipis mendengarnya. Dia membuka topinya dan membenarkan rambutnya. Kemudian, menatap ke arah Khairan dengan sangat serius.
"Kenapa kamu bertanya sesuatu yang sudah kamu ketahui jawabannya." Khairan pun terdiam seketika.
"Tanpa aku menjawab, kamu bisa melihatnya 'kan."
Ternyata lelaki di depannya itu sangatlah percaya diri. Khairan tak menyangka. Dia kira Rangga adalah lelaki yang mudah untuk ditumbangkan.
Ada rasa kesal di hati Khairan. Dia pun semakin menatap tajam ke arah Rangga. Namun, Rangga malah bersikap biasa dan semakin santai. Sungguh pembawan Rangga sama seperti ayah Aleena, Radit.
"Gua yakin lu akan kaget mendengar ini."
Khairan pun mulai meraih ponselnya. Dia membuka ponsel miliknya dan mencari sesuatu di sana. Lengkungan senyum mulai hadir. Eenagkan Rangga terlihat penasaran.
"Kita lihat, Apa lu masih bisa percaya diri?"
Tangan Khairan mulai menekan sesuatu dan terdengarlah suara Aleena di sana. Seketika tubuh Rangga membeku. Senyum licik Khairan tunjukkan. Ya, tanpa Aleena ketahui Khairan merekam percakapannya semalam. Dia ingin mendengarkan rekaman tersebut secara langsung kepada Rangga agar pilot muda itu sadar diri.
"Jadi, kamu tidak memiliki perasaan kepada pilot itu?"
"Hanya sebagai teman."
Senyum tipis melengkung di sudut bibir Khairan. Dia pun segera memperhatikan bagaimana mimik wajah Rangga sekarang setelah mendengarnya. Rangga terdiam dan itu membuat Khairan merasa senang.
"Lu dengar 'kan apa yang dikatakan oleh Aleena." Wajah songong sudah Khairan tunjukkan. Rangga pun menatap ke arah teman Aleena itu.
"Apa kamu percaya seratus persen dengan ucapan wanita zaman sekarang? Bukankah wanita itu seringnya berdusta? Suka tidak mengakui perasaannya yang sesungguhnya."
Khairan tercengang dan kini dia yang terdiam membeku mendengar jawaban dari Rangga.
"Walaupun dia menganggap aku teman, tak masalah. Aku adalah TTS bagi Aleena, TEMAN TAPI SPESIAL."
...***To Be Continue***...
Komen dong .../
__ADS_1