MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
106 Gugup


__ADS_3

Rangga membawa Aleena ke sebuah hotel berbintang yang dia tahu harga per malamnya mahal. Wajah sumringah terlihat begitu jelas di wajah Rangga. Sedangkan Aleena tampak gugup sedari mereka keluar dari restoran.


Tangan Aleena terasa dingin ketika Rangga menggenggam tangannya menuju kamar hotel yang sudah dia pesan.


"Sayang," panggil Rangga dengan begitu lembut.


Dia mengehentikan langkahnya dan menatap dalam ke arah sang istri.


"Jangan gugup. Aku tak seganas harimau yang kelaparan kok."


Bukannya tenang, hati Aleena semakin tak karuhan. Dia takut, dia grogi dan dia masih memikirkan pusaka jamur yang memiliki varises.


"Lebih besar dari pisang sunprise. Apa bisa masuk?"


Aleena malah memikirkan hal bodoh. Betapa kerasnya si pusaka jamur yang mengidap varises itu jika sudah terkena aliran darah panas. Apa tidak akan patah ketika masuk ke dalam lubang kecil miliknya? dan apa lubang miliknya tidak akan robek?


Rangga sudah mengendurkan dasi yang ada di lehernya. Lalu, melemparnya ke sembarang tempat. Tangannya pun sudah membuka kancing kemeja yang dia gunakan satu per satu. Kini terlihat begitu jelas dada bidang nan putih bersih dan itu mampu membuat Aleena menelan ludah.


Aleena masih membatu di tempat semula. Rangga sudah mendekat dan mulai meletakkan tangannya di leher sang istri. Pergulatan bibir pun terjadi. Dari ritme hangat kini berubah panas. Di mana tangan kanan Rangga sudah mulai menyusup ke bagian bawah dress Aleena. Berhasil menyentuh roti sobek bagian belakang tubuh sang istri yang begitu kenyal.

__ADS_1


"Eunghh!"


Mendengar suara yang begitu seksi membuat Rangga menggendong tubuh ALeena di depan tubuhnya bak kangguru. Aleena pun melingkarkan tangannya ke leher sang suami dengan kedua kaki melingkar di punggung Rangga. Sesapan mereka tak berhenti hingga Rangga perlahan menjatuhkan Aleena ke atas tempat tidur super king size. Mulai menyusuri Setiap inchi wajah Aleena dan kini turun ke leher putih yang masih meninggalkan noda merah karena ulahnya.


Tangannya pun ikut bekerja meremas apa yang dia bisa remas. Tangan satunya sudah masuk ke bagian inti yang nantinya akan menjadi tempat ternyaman bagi si pusaka jamur varises.


Suara seksi terus terdengar dan Aleena sudah tak sadar apapun karena sentuhan yang sangat membuatnya dimabuk kepayang. Kain yang menempel di tubuhnya pun sudah tak tersisa. Rangga dapat menikmati keindahan yang dimiliki istrinya dengan mata telan Jang. Apalagi sejumput bulu hitam ikal membuat dirinya menelan Saliva dengan begitu kencang. Sungguh dia tidak tahan.


Dibukanya sedikit demi sedikit belahan yang di atasnya terdapat sejumput rambut ikal. Terlihat biji kacang berwarna merah muda yang begitu menggoda. Apalagi aroma khas yang tak pernah dia hirup membuat gairah kelelakiannya memuncak.


Rangga teringat akan sebuah film yang pernah gak sengaja dia tonton. Kepalanya sudah sangat kotor hingga lidahnya menjulur ke arah belahan tersebut.


"Mas--"


"Jorok, Mas."


"Nikmat, Sayang."


Rangga memulai kembali aktifitas lidahnya dan membuat Aleena menjerit nikmat.

__ADS_1


"Mas--"


Rangga tak menghiraukan hingga sebuah cairan begitu deras layaknya air kemih, tapi berwarna bening muncrat. Sungguh Rangga sangat takjub. Pelumas kental pun ikut keluar dari lubang kecil bagai pan tat ayam yang kembang kempis.


"Enak?"


Rangga sudah merangkak menuju atas. Dia mencium kening sang istri dengan begitu lembut. Mengusap lembut keringat yang membasahi dahinya.


"Lemes, Mas."


"Tapi, ini Mas udah sangat tegang, Sayang." Rangga menuntun tangan Aleena menuju pusaka jamur yang sudah tegak dengan urat varises sebesar cacing kalung.


"Mas, masukin, ya."


Wajah Aleena pun mulai memucat. Dia menelan ludah untuk kesekian kali. Wajah sang suami terlihat sudah tidak sabar.


"Tapi, ti tit varises Mas yang keras kayak kayu jati ini gak akan patah di dalam 'kan?"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2