
Aleena benar-benar merawat Rangga dengan baik. Dia bagai istri sungguhan untuk Rangga. Melayani Rangga Tania diminta. Padahal, Rangga sudah melarang.
"Sayang."
Rangga menarik tangan Aleena hingga terduduk di tepian tempat tidur. Aleena menatap ke arah sang kekasih yang sudah mengusap lembut punggung tangannya.
"Jangan terlalu capek."
Wajah Aleena nampak kusam dan itu membuat Rangga merasa bersalah. Dia menyentuh jerawat kecil yang ada di pipi Aleena dan itu membuat Aleena tersenyum.
"Aku lupa bawa skincare khusus kulit aku, Mas. Makanya gini."
"Setelah Mas keluar dari rumah sakit kita cari skincare kamu itu, ya." Rangga sangat menyakini jika skincare yang Aleena gunakan bukan skincare sembarangan.
"Enggak usah, Mas. Biar nanti aku cari sendiri. Aku gak mau kebersamaan kita diketahui orang lain."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Rangga. Ada rasa sedikit kecewa yang dia rasakan mendengar jawaban dari Aleena.
"Terbatas banget ya kalau menjalani hubungan backstreet begini," keluhnya.
"Mas--"
Rangga menyandarkan tubuhnya di bed yang sudah dinaikkan bagian kepalanya. Aleena menatapnya dengan rasa bersalah.
"Belum waktunya, Mas." Aleena menatap dalam wajah Rangga.
"Sampai kapan?" Bukannya menjawab, Aleena malah memeluk tubuh Rangga.
"Maafkan aku, Mas."
Rangga memejamkan matanya sejenak. Jika, sudah begini dia tidak akan pernah memaksa Aleena. Bukan tanpa alasan dia tidak ingin menorehkan luka pada Aleena. Dia harus belajar mengerti Aleena untuk sekarang. Toh, hubungannya baru seumur jagung. Dia harus bisa beradaptasi dengan sikap Aleena.
"Maafkan Mas juga, ya. Mas terlalu banyak menuntut kamu."
Aleena mengendurkan pelukannya. Dia menatap dalam wajah Rangga. Mata mereka berdua pun terkunci dan Rangga mencium bibir Aleena dengan singkat. Kemudian, dia tersenyum begitu juga dengan Aleena.
Melihat Aleena yang sebahagia ini membuat Rangga sangat bahagia. Ketika bersama Kalfa, Aleena tidak sebahagia ini. Aleena cenderung dikekang dan gerakannya dibatasi oleh Kalfa.
Ketika malam tiba, Aksa dan Agha datang dan dua sejoli itu sedang menonton drama Korea kesukaan Aleena.
"Daddy bawa makanan."
Agha sudah menunjukkan telur gulung kesukaan Aleena dan dirinya. Itu membuat Aleena berubah menjadi anak kecil dan Rangga hanya menggelengkan kepala. Dua sepupu itu kini sedang berbagi makanan sambil bercerita tentang makanan kekinian yang banyak Aleena tidak ketahui.
"Sesederhana itukah kebahagiaan Aleena?" gumam Rangga dengan mata yang tak teralihkan pada sosok perempuan yang semakin hari semakin dia cintai.
"Cinta untuk Aleena itu sangat sederhana, hanya saja perlu kesabaran dan juga ketulusan ekstra untuk membuatnya tersenyum bahagia."
Rangga menatap ke arah sang ayah ketika Aksa menimpali ucapannya tersebut. Aksa mengusap lembut pundak sang putra.
"Dia berbeda. Jadi, jangan pernah buat dia kecewa karena Daddy tidak pernah melihat Aleena sebahagia ini sebelumnya."
"Jaga dia, dan jangan rusak dia. Dia adalah wanita mahal, dan hanya lelaki beruntung yang bisa mendapat balasan cinta darinya." Rangga mengangguk mengerti mendengar ucapan dari sang ayah.
Aksa menghampiri putra dan calon menantunya. Ikut bergabung bersama Aleena dan Agha.
__ADS_1
"Kamu gak akan pulang?" tanya sang paman kepada Aleena.
"Setelah Rangga keluar dari rumah sakit Nana akan pulang ke rumah, Uncle."
Ya, Ranggalah yang menyuruh Aleena untuk pulang. Bagaimanapun pasti kedua orang tuanya sangat merindukan Aleena.
"Sayang, apa kamu gak akan pulang?"
Aleena menggeleng. Dia belum ingin bertemu dengan sang ayah karena sudah pasti sang ayah akan membahas perihal Khairan. Dia tidak ingin mengingat hal itu.
"Pulanglah! Rumah adalah tempat ternyaman yang tidak terkalahkan oleh tempat indah di manapun." Tangan Rangga sudah membelai rambut Aleena.
"Pasti kedua orang tua kamu sangat merindukan kamu," lanjutnya lagi.
"Tapi--"
"Keluarga adalah orang yang akan menerima kamu dengan tangan terbuka ketika dunia jahat kepada kamu." Aleena masih mendengarkan ucapan kekasihnya itu.
"Mas juga akan pulang ke rumah Daddy."
Kini, Rangga menatap ke arah Aleena. Menunggu jawaban dari kekasih hatinya itu. Aleena pun mengangguk pelan dan itu membuat Rangga tersenyum bahagia.
.
Axel dan Aleena sudah keluar terlebih dahulu dari rumah sakit. Tentunya dengan pengawalan yang sangat ketat.
"Bang," panggil Aleena ketika sudah masuk ke dalam mobil.
"Tenang saja. Saya tidak akan membocorkan semuanya." Itulah jawaban dari Axel tanpa menoleh ke arah Aleena. Dia bagai cenayang yang tahu akan apa yang ada di kepala Aleena.
"Jangan takut," ucap Axel ketika Aleena sudah keluar dari mobil.
Aleena berjalan lebih dulu dan Axel berada di belakangnya. Bel pun dia tekan dan asisten rumah tangga di sana terkejut ketika melihat Aleena ada di depan pintu. Pekerja di rumah Radit itu langsung berteriak..
"Tuan! Nyonya! Mbak Aleena pulang!"
Suara itu menggema ke seluruh kamar dan itu membuat Radit dan Echa segera keluar kamar. Tubuh mereka berdua membeku ketika melihat senyuman yang begitu tulus yang diberikan oleh Aleena.
"Kakak Na," panggil lemah sang ibu.
Mendengar suara lembut itu membuat hati Aleena terenyuh. Matanya mulai berembun dan Aleena segera berhambur memeluk tubuh sang ibu. Air matanya pun menetes di dalam pelukan Echa.
"Bubur rindu kamu, Kakak Na. Sangat rindu."
"Kakak Na juga rindu Bubu."
Radit hanya tersenyum melihat istri dan putri pertamanya melepas rindu seperti itu. Dia membelai lembut rambut Aleena. Sedangkan Axel ikut melengkungkan senyum melihat betapa hangatnya pelukan seorang ibu untuk anaknya. Membuat dai rindu akan sosok ibu dan ayahnya.
"Masih pagi, jangan nangis-nangisan."
Radit pun membawa Aleena dan Echa ke ruang keluarga. Di mana mereka bisa melepaskan rindu di sana. Baru saja hendak mengikuti Aleena, suara Restu terdengar.
"Ngapain lu?"
Axel pun berdecak kesal. Dia menatap tajam ke arah adik ipar Aleena tersebut.
__ADS_1
"Gua kira lu udah ke pluto. Ternyata masih di sini-sini aja," cibir Axel. Kini, gantian Restu yang kesal.
Dua manusia tersebut adalah teman satu angkatan yang hobi adu mulut padahal dalam satu circle yang sama, yakni ikut ke dalam kegiatan bela diri yang sama.
.
Aleena merasa bahagia karena bisa kembali ke kamarnya. Dia melihat ke setiap sudut kamarnya tersebut. Namun, ada yang berbeda di sana. Aleena masih berdiri di depan meja belajarnya.
"Udah aku buang foto si kelapa busuk itu." Aleena menoleh. Dia melihat wajah Aleesa yang sangat serius dengan perkataannya.
Aleena malah tersenyum dan menghampiri sang adik. Dia mengusap lembut perut Aleesa yang sedang dihuni oleh embrio Restu.
"Makasih ya, bumil."
Wajah Aleesa kini berubah sendu. Dia menatap sang kakak dengan sangat serius.
"Aku ingin melihat Kakak bahagia. Sudah waktunya Kakak bahagia."
Aleena sangat tersentuh mendengar penuturan Aleesa dan dia langsung memeluk tubuh adiknya.
"Janjilah padaku, Kak. Cari dan dapatkan kebahagiaan Kakak" pinta Aleesa.
"Ketika Kakak sudah mendapatkannya, jangan pernah Kakak lepaskan walaupun itu saudara Kakak yang minta. Kakak boleh egois kok."
Aleena semakin tersentuh mendengar ucapan dari sang adik. Hanya keluarganya lah yang benar-benar tulus kepadanya. Juga, seorang lelaki yang kini selalu membuatnya merasakan kebahagiaan yang berbeda.
.
Rangga yang baru saja keluar dari rumah sakit disambut oleh sang ibu. Sedangkan kedua adiknya masih sekolah.
"Jangan sakit lagi, Kak," ujar sang ibu. "Sakit kamu itu buat Mommy sangat cemas." Rangga memeluk tubuh ibu angkatnya. Betapa dia sangat beruntung masuk ke dalam keluarga yang penuh cinta.
"Maafkan aku, My."
-
Ketika malam tiba, Rangga dikejutkan dengan kehadiran keluarga besar sang ayah. Sudah ada Aska dan juga istrinya. Tentunya dengan si kuartet yang sudah membuat kebisingan.
Baru saja Rangga hendak bergabung dengan mereka, dia melihat ayah dari Aleena tiba di rumah sang ayah. Tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang.
"Om."
Rangga yang memang memiliki attitude luar biasa langsung mencium tangan Radit dan juga Echa setelah menyapa mereka.
"Makin ganteng aja, Ngga."
Rangga hanya tersenyum menjawab pujian dari ibunda Aleena Namun, ujung matanya melihat ke arah Aleena yang tengah memeluk Ghea.
"Ba, boleh gak pilot ini kita comot jadi mantu?"
Sontak mata Rangga melebar begitu juga dengan Aleena yang kini sudah menatap ke arah sang ibu yang tiba-tiba berkata seperti itu dengan melengkungkan senyum penuh kebahagiaan.
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1