
Semakin hari Rangga semakin bahagia dan bisa tertawa begitu lepas. Dia menikmati setiap pekerjaannya. Di maskapai tempat dia bekerja pun dia selalu menjadi kawan yang asyik dan sangat disukai oleh para rekan juga seniornya.
Kabar perihal kedekatan Rangga dengan anak dari pemilik salah satu maskapai nasional membuat dia menjadi bahan ejekan kawan-kawannya. Namun, Rangga tak mempermasalahkan. Mereka hanya bercanda.
"Traktirannya dong," goda salah seorang rekan dari Rangga. Sang co-pilot itu hanya tertawa. Begitulah keramaian mereka di pesawat sebelum terbang. Rangga yang memang anak Baik selalu disukai rekan-rekannya.
Perihal kabar Rangga yang tengah menjadi trending topik dunia penerbangan dia sama sekali tidak pernah membantah juga mengiyakan bagaimana hubungannya dengan Jihan. Cukup dia, Jihan, dan keluarga mereka yang tahu bagaimana hubungan mereka berdua.
Enam bulan sudah Rangga bisa mengendalikan perasaannya. Dia kini sedang disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaannya yang lain jika tidak mengudara. Dia juga selalu menghabiskan waktu liburnya di rumah orang tua angkatnya.
"Kak," panggil Ghea.
Adik perempuannya itu sudah duduk di samping sang kakak yang tengah fokus pada layar segiempat di depannya. Rangga tersenyum ke arah sang adik dan mengusap lembut rambut adiknya itu.
"Mau apa?"
Jika, sudah begini Rangga pasti tahu sang adik menginginkan sesuatu darinya. Matanya sudah beralih pada Ghea yang sedang menatapnya. Namun, Ghea tidak menjawab. Itu membuat Rangga mengusap lembut rambut sang adik.
"Kenapa, Dek?"
"Mau jalan."
Rangga malah tertawa dan sekarang sudah mengacak-acak rambut Ghea. Dia sangat gemas jika melihat Ghea seperti ini.
"Mau ke mana?"
"Ke mall, Main dan makan."
Sudah beberapa hari ini Ghea ingin pergi mall. Baik kakak atau ibunya sangat sibuk sehingga tidak bisa menemani Ghea ke mall. Melepaskan Ghea pun mereka tidak tega. Tanpa bernegosiasi Ghea dan Rangga pun pergi ke mall. Ghea terus merangkul lengan Rangga.
Rangga mengikuti semua yang diinginkan oleh Ghea. Dari bermain hingga membeli baju yang dia inginkan. Rangga hanya menggelengkan kepala karena selera anak bungsu dari Aksara itu bukan merk sembarangan. Ketika sampai kasir, Ghea hendak mengeluarkan kartu yang dia miliki, tapi Rangga melarangnya.
"Pakai punya Kakak aja."
Sudah pasti Ghea akan senang karena baju yang dia beli bukan dengan harga murah. Senyum pun langsung melengkung sangat lebar.
"Makasih."
Tak segan Ghea mencium pipi sang kakak hingga membuat kasir di sana tercengang karena si perempuan terlalu berani di umum. Bukan turunan Aksa jika Ghea tidak judes.
"Ngapain liat-liat?"
__ADS_1
Si kasir pun tersenyum sembari menggelengkan kepala. Rangga mengusap lembut rambut Ghea dengan menggelengkan kepala pelan. Namun, sang adik malah merengutkan wajahnya. Tangan Rangga mulai merangkul pundak Ghea.
"Makasih."
Rangga mengambil kartu juga belanjaan adiknya yang masih merengut. Baru saja mereka membalikkan tubuh, senyum seorang wanita yang begitu cantik menyapa mereka berdua.
Dahi Ghea mengkerut ketika melihat perempuan yang dia tahu itu siapa. NAmun, dia belum pernah bertemu secara langsung dengan perempuan yang digadang-gadang adalah wanita yang dikencani oleh Rangga.
"Kamu di sini?"
Jihan mengangguk seraya tersenyum manis ke arah Rangga dan juga Ghea. Dia juga tak segan menyapa Ghea dengan sangat ramah. Akan tetapi, adik Rangga itu malah tak merespon sama sekali.
"Ayo, Kak."
Ghea sudah merangkul lengan sang kakak dengan sangat erat. Sangat terlihat jelas betapa Ghea tidak suka dengan perempuan yang ada di depannya.
"Adek lapar."
"Kebetulan dong. Kita makan bareng biar aku yang traktir." Jihan menimpali ucapan dari Ghea.
"Mohon maaf, aku juga masih bisa bayar." Ketus dan judes sekali jawaban dari Ghea. Rangga tidak bisa berkata apapun karena jika adiknya sudah ngambek seperti ini.
"Dek--"
"Adek bisa makan sendiri dan pulang sendiri."
Rangkulan tangan Ghea pun sudah terlepas. Adik dari Rangga itu sudah mulai meninggalkan Rangga dan Jihan hingga Rangga mengejar Ghea dan meninggalkan Jihan.
"Dek--"
"Udah, Kakak makan aja sama perempuan itu. Adek beneran gak apa-apa kok."
"Enggak. Kakak akan makan sama kamu." Rangga tersenyum ke arah sang adik. Kemudian, mengajak Ghea pergi dari toko tersebut.
Bukannya sedih, Jihan malah tertawa. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah adik dari Rangga.
"Benar kata Rangga adiknya terlalu posesif."
Ghea masih melipat wajahnya walaupun Rangga sudah membawa Ghea ke restoran favoritnya.
__ADS_1
"Dek," panggil Rangga. Ghea sama sekali tak menoleh.
"Maafin Kakak."
Rangga terus meminta maaf dan membujuk Ghea untuk tidak marah kepadanya. Namun, adiknya yang posesif itu malah hanya diam saja.
"Selagi Kakak masih berhubungan sama perempuan itu, Adek gak mau ngomong sama Kakak."
Mata Rangga melebar mendengar ucapan dari adiknya itu. Wajah adiknya itu tidak main-main dan membuat Rangga menghela napas kasar.
"Boleh gak Kakak nanya kenapa Adek ngelarang Kakak buat dekat sama Kak Jihan."
"Jangan sebut namanya!" Ghea malah menutup kedua telinganya dan itu membuat Rangga semakin penasaran.
"Kakak akan menyebut nama perempuan itu terus jika kamu tidak memberikan alasan kepada Kakak."
Rangga mencoba untuk bernegosiasi kepada Ghea. Adiknya belum membuka suara. Rangga pun memanggil Ghea untuk kesekian kalinya.
"Adek--"
"Percaya atau enggak, semenjak Kakak hadir di keluarga Daddy ... Adek pernah didatangi oleh dua orang yang bercahaya, satu perempuan dan satu laki-laki. Mereka bilang ke Adek untuk jaga Kakak karena mereka sudah menyiapkan jodoh untuk Kakak."
Rangga terkejut mendengar ucapan adiknya. Dia bertanya di dalam hati siapa dua orang yang datang ke dalam mimpi adiknya.
"Kabar Kakak yang sedang santer pun membuat Adek selalu didatangi oleh dua orang itu. Mereka bilang jika Adek tidak boleh mengijinkan Kakak pacaran. Adek harus jaga Kakak sampai bertemu dengan wanita yang tepat. Wanita yang akan menjadi tulang rusuk Kakak nantinya."
Rangga sangat melihat tidak ada kebohongan di wajah adiknya. Dia tersenyum dan mengusap lembut rambut Ghea. Ada rasa haru karena adiknya sesayang itu kepada dia.
"Makasih, ya. Sudah mau menjaga Kakak."
"Jangan dekat perempuan lain lagi. Adek gak suka dan gak ikhlas."
Rangga tersenyum mendengar ucapan dari Ghea. Dia memeluk tubuh adiknya yang kini sudah beranjak remaja.
"Kakak dan Mas adalah milik Adek." Rangga pun tertawa. "Ketika Adek gak merestui jangan harap hubungan Kakak dan Mas dengan kekasih-kekasih kalian bisa langgeng."
Rangga tergelak dengan begitu keras. Dia sangat gemas kepada adiknya yang comel itu. Dia pun mencubit pipi Ghea yang sedikit chubby.
"Kalau Kakak dekat sama Nana? Adek setuju gak?"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...