MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
34. Pikiran Yang Bercabang


__ADS_3

Aleena melepaskan genggaman tangan Rangga karena terkejut dan sekaligus tak menyangka. Namun, Rangga segera memeluknya dengan begitu erat karena dia sangat yakin jika Aleena akan pergi meninggalkan dia. Dari mimik wajahnya saja terlihat kekecewaan yang mendalam.


"Sayang, itu tidak benar."


"Kenapa Mas gak bilang dari awal? Kenapa Mas--"


Rangga mengendurkan pelukannya. Dia menatap lamat mata Aleena.


"Mas gak memiliki hubungan apapun dengan Jihan, Sayang. Mas hanya rekan kerja saja."


Aleena memang melihat jika tidak ada kebohongan yang Rangga katakan. Kekasihnya itu jujur, tapi dia masih ragu. Dia takut tertipu.


"Tapi, dia memgatakan--"


Rangga membungkam bibir Aleena dengan kecupan manis yang begitu lembut. Aleena terkejut, tapi permainan Rangga membuatnya mulai terbuai. Puas bermain bibir, mereka berdua menarik mundur kepala mereka masing-masing.


"Mas akan buktikan kepada kamu jika apa yang dikatakan oleh Jihan itu tidak benar. Mas janji." Aleena hanya diam saja mendengar ucapan dari Rangga..


"Tapi, kamu juga harus janji sama Mas kalau kamu tidak akan pergi. Mas tidak ingin kamu lari lagi," pinta Rangga.


"Jangan sakiti dia, Mas."


"Mas lebih tidak ingin menyakiti hati kamu, Sayang."


Rangga mengecup kening Aleena dengan begitu dalam. Ketulusannya itu bisa Aleena rasakan.


"Janji ya sama Mas, kamu gak akan pergi hanya karena berita ini. Mas berani memastikan seratus persen jika ini tidak benar."


Akan tetapi, Aleena masih membeku dan itu membuat Rangga sedikit merasa khawatir. Hingga Rangga menarik lembut tangan Aleena dan membawanya keluar dari restoran tersebut. Tak ada obrolan di antara mereka.berdua ketika mereka sudah ada di dalam mobil. Rangga hanya terus menggenggam tangan Aleena.


Mereka tiba di sebuah mall besar dan Rangga berhenti di sebuah toko perhiasan merk ternama. Di situ Aleena terkejut dan menatap penuh kebingungan ke arah Rangga. Terlebih Rangga mengatakan jika dia ingin cincin kawin..


"Mas--"

__ADS_1


Rangga yang masih menggenggam erat tangan Aleena tak menjawab ucapan Aleena. Matanya masih memperhatikan cincin kawin yang ada di toko perhiasan tersebut. Setelah melihat ada yang cocok untuknya dan Aleena, Rangga segera membayar cincin tersebut dan itu membuat Aleena tecengang. Harga cincin itu tidak main-main.


Tanpa banyak kata Rangga memakaikan cincin berhiaskan berlian di jari manis Aleena. Cincin yang sangat cantik dan membuat Aleena tak melepaskan pandangannya pada cincin tersebut.


"Mas tidak akan meminta ijin untuk memasangkan cincin ini. Mas hanya meminta, jangan pernah kamu lepaskan cincin ini selama Mas ke Jakarta."


Rangga pun memasangkan cincin tersebut di jari manisnya dan itu membuat Aleena hampir meneteskan air mata. Rangga adalah definisi pria tak banyak bicara, tali gesit dalam bertindak.


"Kita sudah memakai cincin yang sama dan Mas janji kita akan selalu bersama." Rangga mulai menunjukkan cincin yang dia gunakan. Terlihat begitu indah ketika sudah tersemat di jari manis Rangga yang putih.


Tanpa Rangga duga Aleena berhambur memeluk tubuhnya. Tangannya begitu erat melingkar di perut Rangga Begitu juga dengan Rangga yang sudah membalasnya tak kalah erat. Sebenarnya, Aleena bukan orang yang mudah termakan oleh gombalan. Namub, apa yang dikatakan oleh Rangga sangatlah tulus dan tidak ada kebohongan sama sekali. Itu yang membuat Aleena seperti itu. Ada sedikit kelegaan yang Rangga rasakan jika sudah begini.


"Mas akan menyelesaikan semuanya ya, Sayang. Mas janji Mas akan kembali."


Baru menikmati indah dan manisnya kebersamaan dengan Rangga, sekarang dirinya harus kembali menjalani hubungan yamg sedikit rumit. Mau tidak mau Aleena pun melepaskan Rangga untuk pergi.


Kekhawatiran Aleena mampu Axel rasakan. Dia mulai mendekat ke arah Aleena dan duduk di samping Aleena yang tengah memandang lurus ke depan.


"Apa ada yang tidak saya tahu?"


"Apa perlu saya menghajar Rangga?"


Kalimat Axel membuat Aleena menoleh kembali ke arah Axel dengan gelengan kepala yang cukup cepat.


"Jangan!"


"Kalau begitu ceritakan ada apa?"


Dalam hati Axel dia tersenyum ketika melihat Aleena yang. ketakutan pada saat dia mengatakan bahwa dia akan menghajar Rangga. Ada rasa yang begitu besar yang Aleeba miliki untuk Rangga. Axel mulai mendengarkan apa yang diceritakan Aleena. Suara Aleena sangat sendu ketika mengatakan itu semua.


"Bagaimana jika itu memang benar, Bang? Apa memang aku diciptakan hanya untuk dilukai?" .


"Jika, dia berani menyakiti kamu. Saya yang akan menghadap ke ayah kamu dan melamar kamu." Aleena pun terkejut mendengar ucapan. Axel yang begitu tegas itu.

__ADS_1


"Saya tidak main-main dengan ucapan saya ini."


.


Dada Rangga sudah turun-naik ketika mendapat info dari adiknya tentang sebuah penghinaan. Wajah marahnya nampak terlihat jelas.


"Mas dapat kabar dari orang kepercayaan Daddy jika tadi pemilik maskapai nasional datang menemui Daddy. Dia bilang, jika Tuan Garda menghina Nana."


Itulah penyebabnya kenapa wajah penuh kemurkaan terlihat begitu jelas di wajah Rangga. Mendapat sedikit penjelasan dari Agha saja pun sudah membuatnya naik darah. Sedang dikuasai hawa panas, suara ponsel Rangga berdenting. Kini, sang adik perempuan yang mengirim pesan kepadanya.


"Adek gak ridho lahir batin kalau Kak Rangga memperistri si Jin perempuan itu. Jangan pernah anggap Adek sebagai adiknya Kak Rangga. Anggap aja kita gak pernah kenal dan kita bukan keluarga."


Rangga semakin menghela napas kasar setelah membaca pesan dari sang adik. Dia juga menyambungkan dengan ucapan Jihan dan Rangga meyakini sedang ada masalah perihal dirinya. Ghea adalah orang yang Rangga dan Agha takutkan jika menyangkut restu. Adik mereka itu adalah tipe orang yang selalu merealisasikan perkataannya.


Kabar perihal Tuan Garda yang menemui Aksa memang sudah sampai ke telinga keluarga besar Wiguna. Aska dia tertawa ketika Aksa menceritakan semuanya.


"Tuh manusia gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nongol. Bukannya sujud di kaki keponakannya malah bikin ulah." Aska menggelengkan kepalanya tak percaya.


.


Pikiran Rangga kini sangat bercabang. Bagaimana tidak, dia harus menjelaskan kepada Axel. Belum lagi adiknya yang terus menteror dirinya. Juga Aleena yang terus membuatnya ketar-ketir.


Tibanya di Jakarta, orang yang pertama dia temui adalah Jihan. Betapa bahagianya Jihan ketika Rangga memintanya untuk bertemu. Rangga meminta Jihan untuk menemuinya di sebuah kedai kopi tempat favorit Rangga dan dengan senang hati Jihan segera meluncur ke sana.


Senyum di wajah Jihan tak pernah pudar. Apalagi kini dia sudah sampai di kedai kopi di mana Rangga menunggunya. Dia sangat hafal bagaimana punggung Rangga hingga membuat langkahnya mulai dipercepat. Namun, langkahnya terhenti ketika dia mendengar cukup jelas suara Rangga.


"... iya, Sayang. Mas janji."


Deg.


Jantung Jihan berhenti berdetak untuk beberapa detik ketika mendengar Rangga memanggil sayang. Muncul sebuah ketakutan di hatinya.


"Sayang?"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2