
Ditinggal mengudara oleh sang kekasih hati membuat Aleena merasa sedih. Baru merasakan manisnya perhatian dan kasih sayang dari orang yang sangat tulus malah harus terpisah kembali. Langkah gontainya membawa Aleena menuju dapur. Dia ingin minum yang segar.
"Na, kulineran yuk."
Baru saja tangan Aleena membuka lemari pendingin suara Khairan sudah terdengar. Pemuda itupun mulai mendekat ke arah Aleena.
"Kita ke sini mau berlibur, bukan malah ngerem di dalam rumah."
Kedua tangan sudah Khairan lipat di depan dada. Namun, Aleena tak mengindahkan ucapan dari pemuda tersebut.
"Kamu malah asyik jalan sama lelaki lain."
Nada kesal terdengar sangat jelas. Itu membuat Aleena menatap ke arah Khairan dengan kedua alis yang menukik tajam.
"Kenapa sih, Na? Apa kamu memang ada hubungan sama si pilot itu?"
Tubuh Aleena menegang ketika mendengar ucapan dari Khairan. Mulutnya mendadak kelu.
"Aku ini cemburu, Na. CEMBURU!"
Aleena bingung harus menjawab apa. Namun, wajahnya nampak biasa saja. Dia terkejut ketika Khairan meraih tangannya dan menatapnya dengan begitu dalam. Aleena merasa bingung dengan Khairan sekarang. Awalnya mengajak dia kulineran sekarang malah membahas hal yang lain.
"Aku sangat mencintai kamu, Na. Cinta dan sayang sama kamu."
Aleena terbengong mendengar kalimat yang tidak dia sangka akan keluar dari mulut Khairan Tidak ada kebohongan yang sorot mata Khairan pancarkan. Juga nada bicara Khairan sangatlah serius. Itu membuat Aleena tak bisa berkutik.
"Apa harus aku mendatangi kedua orang tua kamu untuk langsung melamar kamu? Menunjukkan bahwa aku serius dengan perkataan aku ini."
__ADS_1
Seketika mata Aleena melebar. Dia menggeleng dengan cukup kencang.
"Jangan!"
Larangan itu membuat Khairan terkejut. Dia semakin menatap penuh tanya ke arah wanita yang sangat dia sayangi itu. Aleena merutuki kebodohannya karena sudah sedikit meninggikan suaranya kepada Khairan. Itu menimbulkan rasa curiga yang semakin besar untuk pemuda di depannya.
"Maksud aku--"
"Kamu belum siap untuk membuka hati?" potong Khairan. Seketika kepala Aleena mengangguk. Khairan tersenyum tipis.
"Kamu tidak bisa membuka hati kepadaku, tapi kepada si pilot itu--"
Khairan sudah meninggikan suara. Dia menatap Aleena dengan tatapan tajam sekarang. Kesabaran Khairan sudah mulai hilang.
"Aku melihat kamu sangat dekat dengannya. Sedangkan kepadaku, kamu seperti terus menghindar. Padahal, yang selalu ada untuk kamu adalah aku. AKU, Na!"
Aleena terdiam, dia tidak berkata apapun. Kalimat Khairan membuatnya tak bisa menjawab ataupun menyanggah ucapan Khairan.
Dada Khairan sudah turun naik. Dia sudah meletakkan kedua tangannya di samping pinggang dengan mata yang terus menatap Aleena.
"Apa kamu lupa bagaimana terpuruknya kamu ketika berpisah dari Kalfa? Aku yang ada untuk kamu. Aku yang selalu mengusap air mata kamu. Aku yang disuruh untuk menjaga kamu oleh ayah kamu. Aku juga yang disuruh untuk menyembuhkan trauma kamu. Apa kamu melupakan itu?"
Mata Aleena sudah berembun mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Khairan. Kalimat yang sangat menyudutkannya. Hingga dia terdiam membeku.
"Kamu itu egois, Na! Egois!" Telunjuk Khairan sudah menunjuk ke arah wajah Aleena. Mimik Khairan pun sudah terlihat begitu marah.
"Hanya ingin dimengerti, tanpa mau mengerti juga menghargai perasaan yang aku miliki. Harusnya kamu mikir, kenapa aku bisa sebaik itu kepada kamu? Pasti ada penyebabnya. Bukan malah seperti orang bodoh tak mengerti dengan kode yang sudah berkali-kali aku berikan kepada kamu."
__ADS_1
Kalimat terakhir itu membuat Aleena tersenyum tipis sambil menahan air mata yang sudah ingin menetes.
"Kamu itu pintar, tapi bodoh perihal perasaan dan go blok akan cinta."
Aleena merasa tidak tahan dengan perkataan Khairan kali ini. Dia mulai membuka suara.
"Aku memang wanita bodoh dan bisa dikatakan go blok. Jadi, jangan pernah mencintai wanita seperti aku yang tidak ada bagus-bagusnya ini."
Berkata dengan senyum kecil dan mata berair. Itulah yang Aleena lakukan. Dia pun pergi begitu saja meninggalkan Khairan dengan air mata yang mulai terjatuh. Sangat sakit sekali Aleena mendengar perkataan tersebut dari lelaki yang dia anggap teman baiknya. Selama dia berteman dengan Khairan tidak pernah Khairan berkata kasar seperti itu. Apalagi mengatai dirinya dengan kata seperti itu.
Khairan yang gantian membeku ketika mendengar balasan dari Aleena. Apalagi dia melihat jika tangan Aleena mengusap ujung matanya.
"Kenapa gua jadi bodoh begini?" erangnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Khairan segera mengejar Aleena, tapi Aleena sudah masuk ke dalam kamar dan terdengar suara pintu dikunci dari dalam.
"Na!" panggil Khairan sambil mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban.
Khairan terus berusaha mengetuk pintu kamar Aleena, tapi tak kunjung ada jawaban. Dia tak pantang menyerah, terus saja mengetuk pintu. Tetap saja tidak ada jawaban.
"Na, maafkan aku. Tolong bukain pintunya, Na."
Reksa berdecak kesal dan membuat Khairan menoleh. Anak remaja itu menggelengkan kepala dengan tangan yang dilipat di atas dada.
"Gimana reaksi Bang Axel dan Om Radit jika tahu Kak Nana dikatain seperti itu sama orang yang mereka berdua percaya untuk menjaga Kak Nana?" Wajah songong Reksa sudah dia tunjukkan.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...