MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
32. Menarik Mundur


__ADS_3

"Lamarlah!'


Rangga menoleh ke arah belakang ternyata Axel yang berbicara sambil menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat belakangnya. Matanya pun terpejam.


"Aleena bukan wanita biasa. Ketika dia diam dipelukan seseorang itu tandanya dia sudah merasa nyaman. Untuk membuat Aleena nyaman itu sangat susah. Jadi, jangan buang kesempatan."


Rangga melihat ke arah wanita di sampingnya yang tengah terlelap. Apa yang dikatakan Axel itu memang benar. Untuk bisa sedekat ini dengan Aleena pun memerlukan waktu yang sangat lama. Dia sudah mengenal Aleena sangat lama, tapi Aleena bukanlah anak yang mudah didekati. Rangga mencium ujung kepala Aleena dengan begitu dalam dan penuh cinta.


"Kamu memang wanita yang berbeda."


.


Jakarta.


Seseorang baru saja masuk ke dalam ruangan Radit. Dia menyunggingkan senyum yang begitu merekah. Namun, Radit sama sekali tak menyambut senyuman dari pria itu.


"Apa ada hal baik?" Pria itu berkata dengan begitu percaya diri.


"Tidak," jawab Radit datar. Pria itupun menukikkan kedua alisnya. Dia sangat tahu bagaimana Radit. Dia adalah orang yang ramah, tapi kali ini sangat berbeda.


"Lamaran kamu aku tolak."

__ADS_1


Pria itu malah tertawa. Dia melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap Radit dengan sorot mata yang penuh keingintahuan lebih lagi.


"Apa karena lelaki yang sudah dijodohkan dengan anakmu itu oleh mertuamu?"


"Tidak ada sangkut pautnya dengan mendiang mertuaku, Khris."


Khrisna Kharisma, pria itu yang telah melamar Aleena kepada Radit untuk putra semata wayangnya.


"Lalu?"


Khrisna masih bersikap santai. Dia juga tidak marah dengan penolakan dari Radit. Lagipula Radit tidak menjanjikan apapun kepadanya.


"Sikap putramu yang membuat aku membenci putramu!"


"Berengsekk!"


Khrisna mengumpat kesal. Umpatan itu ditujukan untuk tingkah laku putranya yang di luar batas. Dia tidak menyangka jika anaknya akan melakukan hal itu.


"Maafkan anakku, Dit."


Radit menghela napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Ada rasa sedih dari wajahnya.

__ADS_1


"Maaf itu mudah, Khris. Tapi, bagaimana dengan trauma putriku? Untuk menyembuhkan traumanya saja aku harus bekerja keras mengirim banyak orang untuk membuat dia tersenyum dan berdamai dengan rasa traumanya."


Khrisna mengusap lembut pundak Radit. Dia sangat tahu bagaimana terpukulnya Radit ketika melihat putri pertamanya hidup dengan bayang trauma. Radit memang tidak bicara, tapi bagi orang yang dekat dengannya mereka bisa melihat jikalau Radit dilanda kesedihan yang sangat dalam.


"Aku akan menasihati putraku dan aku janji putraku tidak akan mengganggu putrimu lagi."


Khrisna adalah orang baik. Dia adalah manusia setengah dewa, julukan yang diberikan oleh para rekan sejawatnya, termasuk Radit.


Radit menoleh ke arah Khrisna. Senyum hangat Khrisna berikan.



"Aku bukanlah pemaksa. Sedari awal aku meminta putrimu karena aku juga menyukai putrimu yang memiliki hati lembut dan juga cantik. Namun, aku juga tidak memaksa. Jika, kamu ataupun putrimu menolak lamaranku aku tidak marah. Mungkin, putraku tidak berjodoh dengan putrimu."


Dua manusia sabar dan bijaksana dalam satu circle yang sama. Itulah Radit dan Khrisna. Dua manusia yang sangat positif.


"Ketika aku mendengar cerita darimu, itu tandanya putraku tidak cinta kepada putrimu. Hanya sebatas ingin memiliki saja." Radit setuju dengan ucapan Khrisna.


"Aku janji, aku akan menarik mundur putraku."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2