MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
34. Gila


__ADS_3

Tuan Garda tak percaya begitu saja dengan ucapan dari pria yang sama sekali tak dia kenal. Dia bukan orang yang mudah dihasut.


"Maaf sebelumnya," ucap Tuan Garda dengan penuh kesopanan.


"Saya mengenal keluarga dari lelaki yang putri saya sukai, dan Anda jangan mengaku-ngaku."


Alwi Prayoga tersenyum kecil mendengar ucapan dari Tuan Garda. Dia mulai menatap lamat wajah pria yang sudah berumur itu.


"Asal Anda tahu, keluarga yang Anda maksud adalah keluarga angkat. Bukan keluarga kandung."


Tuan Garda terkejut mendengar ucapan dari Alwi. Dia bukan mempermasalahkan kasta. Namun, dia tidak tahu tentang itu. Dia kira Rangga adalah putra dari Aksara.


.


Keesokan harinya, Aksa yang tengah fokus bekerja dikejutkan dengan kedatangan Tuan Garda, ayah dari Jihan pemilik salah satu maskapai penerbangan nasional.


"Apa saya mengganggu waktu Anda, Tuan Aksara?"


Aksa sudah berdiri dan melengkungkan senyum ke arah Tuan Garda. Dia menghampiri Tuan Garda dan menjabat tangannya dengan begitu sopan.


"Tidak biasanya Anda memiliki waktu luang seperti ini." Aksa berkata setelah mereka duduk berdua. Tuan Garda hanya tertawa.

__ADS_1


Dia menunjukkan sebuah foto kepada Aksara dan sontak mata Aksa melebar dengan sempurna. Dia tahu siapa pria itu.


"Kemarin dia datang dan berbicara kepada saya perihal lamarannya untuk Rangga."


"Lamaran?" Aksa semakin terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Garda.


"Dia yang adalah paman kandung dari Rangga melamar putri saya."


Aksa menggelengkan kepala dengan cepat. Senyum tidak percaya pun dia tunjukkan.


"Maaf, Tuan Garda. Saya harap Anda jangan terlalu mempercayai ucapan dari pria gila tersebut. Dia memang pamannya, tapi apakah Rangga mengakuinya sebagai paman dia?" tekan Aksara.


"Apa Anda tidak setuju jika putra angkat Anda dan putri saya membangun sebuah rumah tangga?" Tuan Garda mulai memancing Aksa.


"Walaupun perempuan itu gila? Anda akan tetap merestuinya."


Aksa tahu siapa yang dimaksud oleh Tuan Garda. Seketika matanya melebar dan dadanya turun-naik tak terima dengan perkataan ayah dari Jihan tersebut.


"Jangan asal bicara, Tuan. Saya bisa menuntut Anda atas perkataan Anda tadi." Aksa mulai mengancam. Hatinya tak terima jika orang lain menghina anggota keluarganya.


"Saya bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa yang Anda katakan. Bahkan, apa yang hati Anda katakan saja saya sudah tahu."

__ADS_1


Semua orang sudah tahu bagaimana jika Aksara marah. Lemah lembut, sopan santunnya akan hilang dalam sedetik. Inilah yang terjadi pada dirinya sekarang.


"Satu hal yang harus Anda ingat, Tuan. Saya sudah bersama putra saya lebih dari satu dekade. Jadi, saya yang tahu bagaimana putra saya. Bukan orang yang mengaku saudara kandung yang tiba-tiba datang dan berlagak sok tahu semuanya. SAYA YANG TAHU RANGGA ARDANA!"


.


Di negeri kangguru, baik Rangga maupun Aleena sama sekali tak ingin saling melepaskan. Mereka tengah berada di sebuah restoran private di mana Rangga mangajak Aleena sebelum dia kembali ke Jakarta.


"I Will always missing you.".


"Mee too."


Peraduan bibir terjadi. Rangga maupun Aleena sangat menikmati sesapan lembut dan penuh cinta. Mereka berdua saling membalas dan enggan untuk mengakhiri semuanya. Hingga terdengar suara ponsel berdering. Itu membuat kegiatan mereka terhenti. Aleena melihat jelas jika Rangga menolak panggilan tersebut dan banyak tanya di benaknya. Namun, dia tidak berkata. Hanya sorot mata yang meminta penjelasan.


Rangga si manusia peka segera memperlihatkan layar ponselnya. Seketika wajah Aleena berubah dan itu membuat Rangga meraih tangan Aleena. Namun, nama tersebut menghubunginya lagi. Rangga menatap ke arah Aleena.


"Jawablah! Aku ingin dengar." Datar sekali ucapan dari Aleena. Alhasil, Rangga menggeser layar ponselnya ke gagang telepon berwarna hijau.


"Rangga, kapan kamu kembali? Kita harus segera fitting baju untuk acara pernikahan kita."


Tubuh Aleena menegang. Begitu juga dengan Rangga. Rangga menatap ke arah wajah Aleena yang sudah sangat berubah.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2