
Ada waktu dua jam untuk mereka beristirahat. Setelah itu mereka harus bertolak ke hotel mewah untuk acara resepsi. Aleena dan Rangga sudah berada di kamar pengantin, yakni kamar Aleena.
"Pegal banget," ucap Aleena sambil melempar heels. Rangga tertawa melihat tingka istrinya yang nampak kesal dengan high heel setinggi lima belas centimeter itu.
Jas yang Rangga pakai pun sudah dia letakkan di sofa kamar Aleena. Dua Kancing kemeja paling atas pun sudah dia buka. Dia menghampiri istrinya yang duduk di tepian tempat tidur.
Dada Aleena berdegup cukup kencang ketika Rangga semakin mendekat ke arahnya. Senyum yang begitu manis tak mampu membuat degupan itu berkurang. Sungguh dia sangat gugup.
Rangga pun duduk di samping Aleena dengan masih menatap manik cantik milik sang istri. Aleena tak bisa berkedip dengan jantung yang bergemuruh. Hingga dia merasakan kedua kakinya Rangga sentuh dan dibawa ke pangkuan Rangga.
"Pegal?" Aleena hanya bisa mengangguk.
Pijatan kecil pun mampu Aleena rasakan dan itu membuat lengkungan senyum hadir di wajah Aleena. Tanpa Aleena minta Rangga sangat peka dengan apa yang dia butuhkan.
"Istirahatlah!" Aleena menggeleng.
"Dua jam adalah waktu yang sangat singkat, Mas."
Rangga tersenyum dengan tangan yang terus memijat kaki putih nan mulus istrinya. Melihat betapa putihnya kaki sang istri membuat Rangga mulai menelan Saliva. Tangannya mulai berani naik ke atas dan itu membuat debaran hebat kembali hadir di hati Aleena.
"Mas--"
Rangga menoleh. Tangan yang tadi berada di kaki kini sudah merengkuh pinggang Aleena. Wajahnya mulai mendekat dan bibirnya pun mulai menyerang bibir Aleena. Aleena yang awalnya gugup kini terbawa akan suasana yang diciptakan Rangga. Hangat dan berubah menjadi sedikit panas. Apalagi tangan Rangga yang sudah masuk ke rok kain yang masih Aleena gunakan.
Rasa geli dan panas mulai Aleena rasakan. Sesapan yang penuh gairah pun membuat Aleena semakin tak karuhan. Tanpa Aleena sadari tubuhnya pun menggeliat bagai ulat.
"Eungghh!"
Lenguhan manja terdengar dengan sangat jelas dan itu membuat Rangga semakin bersemangat. Tangannya kini sudah beralih dari kaki ke bagian dada sang istri. Awalnya dia ragu, tapi naluri kelelakiannya membuatnya berani menyentuh goendoekan yang kencang itu.
"Eungghh! Mas--"
Sesapan itu berhenti, tapi Rangga mulai beralih pada leher Aleena sontak tubuh Aleena lemas tak berdaya menerima permainan manis dan lembut dari suaminya.
Aleena tersadar ketika Rangga mulai membuka kebaya Aleena. Matanya membuka dan memanggil suaminya dengan suara yang parau.
"Mas, aku--"
__ADS_1
Rangga menatap ke arah sang istri. Dia tersenyum tanpa mengehentikan kegiatan tangannya. "Mas tahu, Sayang. Mas gak akan melakukan itu."
Namun, tangan Rangga sudah menurunkan kebaya yang dia gunakan. Tangan Aleena mencoba untuk mencegahnya.
"Mas--"
"Ijinkan Mas mengetahui apa saja yang ada di dalam tubuh kamu, Sayang. Dan ijinkan Mas menikmati keindahan yang tubuh kamu miliki."
Aleena tak bisa berkata apapun ketika mendengar ucapan dari Rangga. Akhirnya, dia pun pasrah. Membiarkan suaminya mulai menjamah tubuhnya. Rangga pun seakan ingin menikmati setiap inchi kulit putih istrinya. Aleena sungguh kegelian dan meremass sprei karena ulah bibir Rangga yang membuatnya tak karuhan.
Tibalah sudah Rangga pada belahan di antara goendukan yang sangat bersih dan putih. Dia menatap ke arah istrinya yang sudah tak berdaya.
"Sayang--"
"Lakukanlah, Mas. Tubuhku ini hanya milikmu."
Baru saja hendak bermain di bagian yang mengandung banyak kebaikan alam, suara gedoran pintu membuat Rangga mengerang kesal. Aleena mulai menaikkan br* yang sudah setengah turun.
"O-pap! Oty-Mam! Buta!"
Ya, di luar sana Abang Er sudah menangis keras. Bangun tidur dia mencari Rangga dan Aleena. Tidak bisa dialihkan sama sekali keinginannya. Alhasil, Restu dengan rasa tak enak hati membawa putranya ke depan pintu kamar pengantin.
Wajah batita itu sudah basah dan suaranya sudah serak. Itu membuat Rangga tidak tega dan segera menggendong Abang Er.
"Maaf," ucap Restu penuh sesal.
"Gak apa-apa, Kak." Rangga menjawabnya dengan senyuman.
"Abang Er kenapa?" Suara Aleena pun terdengar. Dia menghampiri keponakannya yang digendong sang suami. Di depan pintu pun masih ada Restu dengan raut penuh rasa bersalah.
"Maaf ya ganggu kalian."
"Enggak apa-apa, Kak." Jawaban ALeena sama dengan Rangga.
"Abang Er biar di sini aja. Kasihan adiknya keganggu kalau Abang Er nangis terus mah."
"Makasih, ya." Rangga dan Aleena pun mengangguk.
__ADS_1
Setelah Restu pergi, Rangga dan Aleena membawa Abang Er masuk ke kamar mereka. Abang Er sama sekali tak mau turun dari gendongan Rangga.
"Manja banget sama O-pap." Aleena mengusap lembut punggung Abang Er yang nemplok bagai cicak di dada Rangga.
"Begini kali ya kalau nanti kita punya anak." ALeena tersenyum mendengar ucapan dari suaminya.
Aleena mencoba melihat wajah keponakannya dari belakang. Dia malah tertawa.
"Kenapa?"
"Tidur."
Rangga menggelengkan kepala. "Ganggu O-pap aja," guraunya. Aleena memukul lengan Rangga.
Sedangkan Rangga sudah merengkuh pinggang sang istri. Tangan Aleena pun memeluk pinggang Rangga. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia dengan satu anak. Padahal batita yang ada di gendongan Rangga adalah keponakan mereka.
.
Aleena tersenyum ketika melihat suami dan keponakannya tertidur pulas. Aleena duduk di samping sang suami. Menatap lekat wajah Rangga yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Tengah asyik memandangi wajah Rangga, dia terkejut ketika Rangga menariknya hingga terjerembab ke atas tubuh suaminya.
"Mas--" Rangga tertawa. Dia membenarkan rambut Aleena yang masih lembab. Istrinya baru saja keramas untuk menghilangkan hairspray di rambutnya.
"Cantik."
Aleena pun tersenyum. Tak segan dia mencium bibir Rangga dengan singkat. Itu membuat Rangga tersenyum bahagia.
"Lamaan dong, Sayang."
ALeena pun melakukannya. Ketika hendak mengakhiri kecupan itu, bibir Rangga kembali membungkam bibir Aleena. Itu membuat Aleena tak bisa melawan dan lebih memilih menikmati. Suara peraduan bibir dan pertukaran air liur pun terdengar.
Sepasang pengantin baru seakan tak pernah puas dan terus mengeluarkan suara setan. Seorang batita mulai membuka mata. Dia terdiam sesaat. Suara bagai cicak di dinding itu masih jelas terdengar. Posisinya yang miring membuatnya masih mencari cicak di dinding kamar sang Tante. Batita itupun menggeleng.
Rasa kantuknya masih ada dan dia memilih untuk memejamkan mata kembali. Namun, dia kembali mendengar suara cicak yang sangat jelas dan dekat. Matanya mulai dia buka kembali. Masih mencari di tembok yang sama. Tetap tidak ada.
Batita itu mulai membalikkan tubuhnya dengan pelan. Dia memiringkan kepala ketika melihat sang paman melakukan hal yang sama seperti adiknya.
"O-pap Enen."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...