MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
25. Menjaga Rahasia


__ADS_3

Rangga memilih untuk menunggu Aleena di depan rumahnya hingga pagi datang. Bodyguard yang menemani Aleena ke konser hanya menggelengkan kepala melihat sikap Rangga. Dia melihat betapa Rangga sangat menyayangi Aleena.


"Sudah jarang sekali lelaki seperti ini di zaman sekarang," gumam sang bodyguard.


Dia menepuk pundak Rangga yang tertidur di depan pagar rumah ketika mentari masih malu-malu menampakkan wajahnya pada negeri sakura. Rangga sedikit terperanjat dan senyum kecil diukirkan oleh bodyguard Aleena.


"Masuklah!" titahnya. "Kita ngopi di dalam."


Rangga mengangguk dengan senyum yang terukir di bibirnya. Sebelum menikmati kopi, Rangga meminta ijin untuk ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya.


"Silahkan!"


"Terima kasih."


Sikap Rangga yang sangat sopan pasti membuat semua orang yang melihatnya sangat respect kepadanya. Ditambah wajah Rangga yang sangat tenang membuat orang senang melihatnya. Dia juga adalah manusia yang sangat asyik diajak bicara.


Tak terasa mereka berbincang cukup lama hingga terdengar suara pintu terbuka. Reksa lah yang datang. Anak itu memang selalu bergabung dengan para bodyguard jika pagi hari. Dia merasa nyaman dengan para orang kepercayaan dari keluarga Wiguna dan Addhitama.


Rangga memperlihatkan sebuah foto kepada Reksa. Dia malah menukikkan kedua alisnya dan menggeleng. Itu bertanda remaja itu tidak tahu. Rangga masih bingung siapa yang mengambil gambarnya dan juga Aleena.


"Apa Aleena sudah bangun?" Reksa mengangkat kedua bahunya. Dia tidak tahu. Rangga menghela napas kasar.


Satu jam berselang, Rangga meminta ijin kepada Reksa dan juga bodyguard Aleena untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuklah!" Reksa mengijinkan begitu juga dengan bodyguard yang sedang bersama mereka.

__ADS_1


Baru saja masuk, dia dikejutkan dengan tatapan sinis Khairan. Rangga mencoba untuk menyapanya. Namun, Khairan malah menunjukkan wajah yang tak bersahabat.


"Ngapain lu? masih pagi buta begini udah ke mari?"


"Yang jelas saya ke sini bukan untuk menemui kamu."


Rangga bisa memotong ucapan Khairan dan itu membuat Khairan mengerang kesal. Di mata Khairan, Rangga adalah manusia yang menyebalkan. Tanpa banyak bicara lagi Rangga meninggalkan Khairan dan menuju kamar Aleena.


Khairan yang hendak melarang malah ditarik paksa oleh Reksa. Pagi hari yang sangat menyebalkan untuk Khairan. Apalagi Reksa yang seakan tidak mengijinkan dirinya berduaan dengan Aleena. Malah anak itu pro kepada Rangga.


"Gak usah kepo!" Reksa berkata dengan sangat tegas. Khairan mendengkus kesal untuk kesekian kalinya.


.


Aleena yang mendengar suara ketukan pintu segera menuju ke arah pintu kamarnya. Dia yang baru saja bangun tidur dengan wajah yang sangat polos langsung membukakan pintu. Dia terkejut ketika melihat Rangga ada di depan kamarnya. Baju yang Rangga gunakan pun baju yang kemarin. Itu membuat Aleena mengerutkan dahi.


"Jangan bahas itu lagi," larang Aleena.


"Kamu pasti--"


"Hanya keluarga aku yang tahu. Jangan sampai yang lain tahu," ujarnya.


Rangga menghembuskan napas kasar. Mimik wajah Aleena menunjukkan rasa kecewa yang mendalam.


"Kamu gak marah?"

__ADS_1


"Mungkin ini harus jalannya. Serapat-rapatnya bangkai disembunyikan, tetap saja akan terendus baunya 'kan."


Rangga meraih tangan Aleena. Dia tersenyum ke arah Aleena dan tanpa Rangga duga Aleena memeluk tubuh Rangga. Tak ada suara, tapi kepala Aleena yang diletakkan di dada Rangga menunjukkan dia belum siap hubungannya diketahui siapapun.


"Aku akan tetap menjaga rahasia hubungan kita agar orang lain tak tahu. Hanya kita, dan keluarga kita yang tahu." Tangannya sudah mengusap lembut rambut Aleena.


Adegan manis itu disaksikan oleh Khairan secara langsung. Hatinya hancur berkeping-keping. Dia melihat betapa eratnya tangan Aleena melingkar di pinggang Rangga.


.


Aksa datang ke rumah Radit ketika hari masih gelap. Pakaian yang Aksa gunakan pun sangat santai.


"Bandit!"


Seperti biasanya tidak ada kesopanan yang adik ipar Radit ucapkan. Sudah biasa dia seperti itu. Bukan sekali dua kali Aksa memanggil Radit hingga sang empunya nama yang masih memejamkan mata mendengkus kesal karena teriakan sang istri di kamar mandi.


"Temuin dulu tuh si Abang," omel Echa yang rambutnya masih penuh dengan busa shampo. Dia sudah berada di depan pintu kamar mandi.


"Iya."


Radit turun dari tempat tidur dan segera keluar menemui Aksa dengan rambut berantakan.


"Ngapain sih? Masih subuh udah rusuh." Radit malah mengomeli adik iparnya yang tengah asyik makan pisang.


"Gua mau ngelamar anak lu buat anak gua."

__ADS_1


...***To Be Continued***...


Komen dong ...


__ADS_2