
Semenjak menjalin menjalin hubungan dengan Rangga, Aleena mulai mau terbuka kepada ayahnya. Dia menemui sang ayah di ruang kerja dan menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya tadi siang. Radit tersenyum dan duduk bersama sang putri.
"Menjelang pernikahan pasti akan banyak ujian. Baik Kakak Na maupun Rangga harus siap menghadapi semuanya. Jangan sampai merusak semua yang sudah kita persiapkan."
Aleena mengangguk sambil menatap ke arah ayahnya. Radit menatap Aleena dengan begitu dalam.
"Baba sangat merindukan hal ini. Di mana anak-anak Baba selalu bercerita kepada Baba."
Hati Aleena tersentil mendengar ucapan dari ayahnya. Dia segera memeluk tubuh ayahnya dengan begitu erat. Aleena pun merasakan hal yang sama.
"Jangan pernah malu bercerita apapun kepada Baba walaupun Kakak Na sudah menikah nanti." Aleena hanya mengangguk kecil.
.
Di kamar yang lain, anak bungsu Radit dan Echa sudah bersujud di kaki sang ibu dengan tangis yang cukup keras. Air mata Echa tak henti mengalir ketika mendengar semua yang putri bungsunya ceritakan. Sakit sekali hatinya dan dia merasa sudah gagal mendidik anaknya itu.
"Adek minta maaf, Bu. Maafkan Adek, Bu." Aleeya masih belum beranjak dari posisi awal. Echa masih terdiam.
Aleesa yang sudah berada di depan kamar sang adik menghentikan langkahnya ketika melihat adiknya bersujud di kaki sang ibu. Dia tidak berani mendekat dan hanya mematung sembari memegang gagang pintu yang belum dia buka sepenuhnya.
"Adek sudah mempermalukan Bubu dan Baba. Adek sudah menjadi aib keluarga."
__ADS_1
Aleesa menegang mendengar ucapan dari adiknya. Hatinya sakit ketika melihat air mata kepiluan yang membasahi wajah ibunya. Dia tidak pernah melihat ibunya menangis seperti itu sebelumnya.
"Kenapa? Apa yang sudah terjadi?"
Aleesa hanya menyimpan tanya. Sebuah clue yang membuatnya memiliki pikiran buruk. Namun, dia mencoba untuk menghilangkannya dan memilih beranjak dari sana. Dia tidak sanggup melihat air mata ibunya terus mengalir deras.
Di ruang keluarga sang suami sudah berbincang dengan Rangga. Langkah Aleesa membuat dua pria tampan itu menoleh. Dahi Restu pun mengkerut ketika melihat mimik wajah istrinya.
"Apa ada yang sakit?" Restu akan selalu khawatir ketika melihat wajah istrinya sendu.
"Enggak, Pi."
Aleesa duduk di samping Restu dan mulai merangkul lengan sang suami. Rangga hanya menggeleng pelan dengan senyum yang mengembang.
"Gak jauh beda lah." Restu pun tertawa begitu juga dengan Aleesa yang sudah tersenyum mendengar jawaban Rangga.
Melihat Rangga dan Restu sudah akrab seperti itu membuat hati Aleesa merasa tenang. Dia tahu bagaimana watak suaminya yang sangat sulit untuk didekati oleh siapapun.
"O-pap."
Suara balita laki-laki membuat Rangga menoleh dan langsung tersenyum. Dia berlari menuju Abang Er yang tengah memeluk botol susunya.
__ADS_1
"Katanya Abang udah bobo?" Anak itu menggeleng. Tangannya sudah dia rentangkan menandakan dia ingin digendong. Restu dan Aleesa tersenyum bahagia melihat sang putra sangat dekat dengan Rangga.
Sang paman membawa Abang Er ke kamarnya lagi dan di ruang tamu hanya ada Aleesa dan Restu sekarang. Aleesa menatap dalam wajah suaminya yang masih terlihat sangat tampan.
"Kenapa?"
Melihat sorot mata Aleesa saja pun Restu sudah bisa menebak jika Aleesa ingin bertanya sesuatu hal.
"Pi, ada apa dengan Yaya?" Dahi Restu mengkerut mendengarnya. Kedua alisnya pun menukik dengan begitu tajam.
"Memangnya kenapa?"
Aleesa semakin menelisik wajah suaminya. Dia sangat tahu jika suaminya sangat pandai menyimpan rahasia. Kali ini, dia tengah mencoba mencari tahu. Apa dia mampu menerobos dinding tebal kerahasiaan suaminya?
"Pi, pasti Papi tahu sesuatu tentang Yaya 'kan." Aleesa masih mendesak. Restu hanya diam.
"Pi--"
"Sudah terjadi sesuatu kepada adik Mami."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...