
Ketika menuju hotel untuk mengecek persiapan, Aleena merasa perutnya sakit. Wajah Aleena pun nampak berbeda.
"Kenapa, Sayang?"
"Perut aku sakit, Mas."
Rangga mulai mencari minimarket terdekat. Dia memarkirkan mobilnya di sana. Aleena menatap ke arah sang calon suami. Rangga hanya tersenyum.
"Bukankah tanggal segini waktunya kamu kedatangan tamu?" Aleena terkejut mendengar ucapan Rangga.
"Coba cek ke kamar mandi."
Rangga sudah membuka seat belt dan membukakan pintu untuk Aleena. Mereka berdua masuk ke minimarket. Aleena menuju kamar mandi yang ada di minimarket di sana. Sedangkan Rangga tengah memilih roti Jepang untuk Aleena. Juga underwear yang dijual di sana.
"Gak malu beli begituan?" celetuk salah seorang pria yang ada di samping Rangga.
"Gua sih ogah mau dibayar berapapun."
Rangga hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian, dia menjawab, "buat apa malu? Ini adalah salah satu kebutuhan istri saya. Bukankah sebagai seorang suami harus memenuhi kebutuhannya?"
Ternyata di belakang Rangga ada Aleena yang mendengar semuanya. Untuk kesekian kalinya dia merasa benar-benar diratukan oleh Rangga. Pria pilihan sang pipo ternyata tidak salah.
"Mas," panggil Aleena. Rangga dan pria yang ada di samping Rangga menoleh.
"Dugaan Mas benar?" Aleena pun mengangguk.
Rangga menghampiri Aleena dan menariknya meninggalkan pria yang masih menatap ke arah Rangga.
"Bayar dulu, terus kamu pake."
__ADS_1
Hal kecil, tapi sangat berarti. Sikap Rangga sedari dulu tak berubah dan itu membuat Aleena tersenyum bangga. Sebuah kartu Rangga berikan kepada kasir. Setelah selesai dibayar, dia menyerahkan kebutuhan Aleena tersebut dan menunggu Aleena di luar.
Sedang fokus pada layar segiempatnya, suara pintu mobil ditutup membuat Rangga menoleh. Sang calon istri sudah duduk di kursi penumpang depan.
"Sudah?" Aleena pun mengangguk. "Apa perlu beli baju?"
"Enggak usah, gak tembus kok."
Di tengah perjalanan, Aleena mulai bertanya sesuatu. "Kenapa Mas bisa tahu tanggal datangnya tamu aku?" Aleena benar-benar penasaran.
"Mas 'kan pernah beliin pembaloet dan obat sakit perut yang biasa kamu minum kalau lagi datang tamu. Apa kamu lupa?" Rangga melirik sekilas ke arah Aleena.
Nampak Aleena berpikir sejenak. Akhirnya, dia ingat. Aleena menatap kembali Rangga yang tengah fokus pada jalanan.
"Apa Mas mencatat tanggalnya? Bukankah itu sudah sangat lama?" Rangga mengangguk. Aleena pun menganga tak percaya.
"Hal yang kadang dianggap sepele dan cenderung tak penting, pasti akan dibutuhkan suatu saat nanti. Sekarang terbukti 'kan." Rangga menatap ke arah Aleena seraya tersenyum.
"Lama amat lu!" Yanuar sudah bersungut.
"Biasa mampir dulu sebentar ke minimarket."
"Beli kon dom?" Mulut Mirza sungguh tak bisa direm jika sudah berkumpul dengan para sahabatnya.
Semua mata malah tertuju pada Rangga sekarang. Sontak Rangga menggelengkan kepala dengan cepat.
"Si be go kalo ngomong suka gak pernah disaring." Rangga pun mengomel. Rangga sudah memeluk tubuh Aleena karena wajahnya sudah memerah mendengar ucapan Mirza.
"Lah siapa tahu lu udah persiapan dari sekarang." Mirza masih kekeh dengan tebakannya.
__ADS_1
"Pengantin baru ngapain pake Kon dom. Langsung tembak di dalem lebih mantap." Yanuar malah semakin membuka obrolan panas.
"Tutup kuping kamu, Sayang. Bahaya obrolan dua manusia ini mah."
"Eh, gua ngomong kenyataan, ya." Yanuar sama saja seperti Mirza.
"Kalian ngomongin hal yang belum pernah kalian rasakan." Mas Agung membuat Yanuar dan Mirza terdiam. Mereka berdua berbicara seperti itu karena banyak mendengar dari orang yang sudah pernah menikah dan melakukan malam pertama.
"Nah, mingkem 'kan." Rangga merasa ada yang membela.
"Kalau buat pemula pake tisue magic biar cepet tegang dan keras. Jadi, gak terlalu lama pemanasannya."
Rangga kira Mas Agung adalah temannya yang paling waras. Ternyata sama saja otaknya harus disapu. Mirza dan Yanuar malah tertawa.
"Jangan ngomongin malam pertama dulu." Rangga angkat suara.
"Kenapa?" Kompak tiga bujang karatan bertanya.
"Red flag sedang berkibar."
Mirza, Yanuar, dan Mas Agung malah tergelak bahagia.
"Padahal kita sengaja datang ke sini buat pasang cctv di kamar hotel pengantin. Mau lihat siaran langsung belah duren sahabat kita. Prakteknya sama enggak sama tutorial yang sering lu tonton."
Sontak mata Aleena melebar mendengar omongan Mirza. Aleena yang tengah berada di pelukan Rangga mulai memundurkan tubuhnya.
"Mas!!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...