
Baru saja. mereka hendak menuju mobil yang menjemput mereka. Seseorang menabrak tubuh Rangga dari belakang. Timbullah teriakan kesakitan dari Rangga. Itu membuat Aleena menoleh dan punggung Rangga sudah berlumur darah.
"Mas," panggil Aleena.
Niat ingin menolong sang kekasih, tubuhnya malah ditarik paksa oleh pria yang menusuk Rangga.
"Aleena!" Rangga pun berlari mengejar Aleena dalam keadaan punggung belakangnya berlumuran darah.
"Mas, Jangan!"
Aleena tidak ingin sang kekasih mengejarnya. Dia ingin Rangga mementingkan dirinya yang sudah terluka. Aleena memanggil Rangga kembali ketika dia .elihay Rangga tersungkur dengan wajahnya yang pucat..
"Mas!!"
Bertepatan itu tubuhnya didorong masuk ke dalam mobil. Kedua tangan Aleena diikat agar dia tidak bisa memberontak. Aleena masih memeprhagina Rangga yang sudah terkulai tak berdaya di depan bandara. Air matanya sudah turun. Namun,.dia merasa lega karena Axel sudah menolong Rangga.
"Bawa dia, Bang! Bawa dia!"
Di sepanjang perjalanan Aleena masih terbayang wajah Rangga yang pucat. Andai dia tidak terlambat bicara kepada Rangga, ini semua tidak akan terjadi.
"Kamu bodoh, Na! Bodoh!"
Bulir bening tak berhenti menetes. Dia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Dia juga terus berdoa agar kondisi Rangga membaik. Dia tidak ingin hal fatal terjadi pada lelaki yang baru hampir dua Minggu ini membuat harinya berwarna.
"Pasti sakit 'kan , Mas. Maafkan aku."
Aleena masih menyalahkan dirinya sendiri. Bayang wajah Rangga yang lemah masih memutari kepalanya. Dia ingin memeluk Rangga. Dia ingin memenangi Rangga bukan malah sekarang dia bersama laki-laki yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.
"Apa salahku? Kenapa kamu menculik aku?" Aleena sudah membuka suara. Dia tidak mengerti dengan penculikan ini.
"Kenapa juga kamu mencelakai kekasih aku?"
Mendengar kata kekasih membuat pria itu murka. Dia mencengkeram pipi Aleena dengan sangat keras. Matanya sudah memerah menandakan dia sangat tidak suka..
__ADS_1
"Sakit! Lepas!"
Pria itupun melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar hingga kepala Aleena membentur pintu mobil bagian dalam. Aleena pun mengaduh. Pria itu hanya tersenyum ketika mendengar Aleena kesakitan. Sungguh hiburan setelah rasa kesal melanda hatinya.
Ingin rasanya Aleena memaki orang di sampingnya itu. Namun, dia tidak berani. Dia takut jika Rangga akan kenapa-kenapa jika dia marah kepada pria tersebut. Dia juga belum bisa menebak siapa pria yang memakai masker dan topi hitam tersebut. Sedari tadi dia tak mengeluarkan suara. Seakan tak membocorkan identitasnya.
Setiap kali Aleena memolotinya, tak segan pria itu menyakitinya. Berkali-kali Aleena mengaduh hingga berteriak, tapi pria itu semakin senang menyiksanya. Pada saat itu Aleena sudah pasrah. Dia hanya berdoa agar Rangga baik-baik saja. Walaupun dia mati, dia yakin Rangga akan mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.
"Tuhan , tolong jaga Rangga."
Aleena tak memberontak. Dia seakan pasrah saja apalagi Axel lebih mementingkan Rangga dibandingkan dirinya. Itu adalah keputusan yang sangat benar. Walaupun Axel mengejarnya,dia akan menyuruh Axel untuk kembali menolong Rangga. Nyawa kekasihnya lebih penting darinya. Rangga adalah manusia baik. Sedangkan dia manusia yang setengah gila.
Dahi Aleena mengkerut ketika dia baru menyadari bahwasannya dia dibawa ke salah satu hotel. Dadanya sudah berdegup sangat kencang. Dia menatap ke arah pria yang sudah lebih dulu membuka pintu mobil belakang. Sudah pasti dia tidak.akan selamat dari tindakan pria be jat tersebut.
Di dalam ketakutannya Aleena masih bersikap biasa. Dia tidak bisa memberontak karena kedua tangannya diikat. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya didorong dengan kasar oleh pria itu. Di dalam lift pun pria itu menatapnya dengan tatapan yang sangat berbeda. Sikap kejamnya seakan hilang. Malah sekarang dia senang untuk membelai rambut Aleena.
"Tangan itu? Apa dia--"
Pintu lift pun terbuka dan dengan lembut pria itu menarik lengan Aleena keluar dari sana. Seketika Tubuh Aleena menegang ketika pria yang tengah bersamanya sudah membuka pintu kamar hotel yang dia booking. Dadanya berdegup sangat hebat. Hingga dorongan keras dapat Aleena rasakan hingga dia tersungkur ke lantai. Namun, pria itu menolongnya dan mulai membuka ikatan tangan Aleena dengan lembut.
Pria itupun mulai mendekat. Namun, Aleena mencoba untuk mundur. Dia sangat takut. Pria itu mampu melihat ketakutan Aleena dan semakin mengerjai Aleena. Hingga tubuh Aleena terbentur dinding dan sudah tidak bisa kabur lagi.
Perlahan pria itu membuka topinya. Lalu, membuka maskernya. Senyum pun dia berikan hingga membuat Aleena menegang. Bukan hanya topi dan masker yang dia buka, baju yang dia gunakan pun dia buka. Sontak Aleena semakin ketakutan..
"Ja-ngan, aku mohon!"
Aleena sudah tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya gemetar hebat apalagi pria itu semakin mendekat. Dia benar-benar takut pada orang itu. Orang yang dulu berharga di hidupnya, tapi kini berubah menjadi orang yang sangat dia hindari. Namun, Tuhan berkata lain. Dia dipermukaan lagi dengan orang itu.
"Jangan takut, Sayang. Kita bersenang-senang "
Celana jeans yang dia gunakan pun sudah dia turunkan dan itu membuat Aleena semakin katakutan. Apalagi dia melihat ada yang sudah menonjol di balik celaka bokser yang pria itu gunakan.
"Kita ukirkan kenangan indah yang nantinya akan menyatukan kita.x Pria itupun sudah berhasil mengunci tubuh Aleena. Sungguh Aleena ingin menangis sekeras mungkin.
__ADS_1
"E-enggak! Aku mohon jangan, Fa. Jangan!"
"Aku tidak akan melepaskan kamu, Sayang."
Kalfa pun mendorong tubuh Aleena hingga dia terjerembab di atas tempat tidur. Kalfa sudah tersenyum penuh arti. Terlihat gairahnya sudah naik. Aleena terus menggeleng dan mencobap untuk kabur, tapi Kalfa berhasil menarik kaki Aleena.
"Tolong!"
Kalfa malah tertawa. Dia malah mencengkeram pipi Aleena dan menatapnya sangat tajam.
"Mau kamu berteriak sekuat apapun tidak akan dapat didengar. Jadi, jangan macam-macam Aleena. Apa kamu mau aku tusuk seperti kekasihmu itu?"
Sungguh di luar dugaan, Kalfa mengeluarkan pisau yang masih ada sisa darah bekas menusuk Rangga. Dia sudah mengarahkan pisau itu ke leher Aleena.
"Jika, kamu tidak mau menuruti kemauanku ... pisau ini akan menyayat leher kamu." Hanya air mata yang menetes di ujung matanya. Sungguh ini seperti ajal untuk Aleena..
"Bubu, Baba, maafkan Kakak Na."
Kalfa sudah bernafsu. Dia sudah ingin me BB unduh tubuh Aleena..
Dor!
Suara tembakan terdengar dan itu membuat Aleena membeku. Apalagi tubuh Kalfa sudah terjatuh ke atas tempat tidur dengan merintih kesakitan dalam posisi tengkurap
Aleena langsung beranjak dari tempat tidur dengan tubuh yang masih bergetar. Dia ingin segera keluar dari kamar hotel tersebut.
"Jangan pergi, Aleena!" teriak Kalfa.
"Atau kamu akan aku bunuh sama seperti--"
Dor!
"Aargghh!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...