MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
97. Pengantin Dan Tuan Kecil


__ADS_3

Khairan menunduk dalam ketika Rangga mengecup bibir Aleena yang disaksikan oleh semuanya. Masih sangat sakit hatinya melihat itu semua. Ternyata mengikhlaskan itu sangatlah sulit.


Aleeya tersenyum kecut melihat Khairan yang terlihat sangat sedih. Dia memilih untuk kembali fokus pada acara. Kebahagiaan kakaknya sangatlah penting dari apapun. Itulah yang harus Aleeya ingat.


Mirza yang sedari tadi tersenyum ke arah Aleeya dari arah panggung pun tak Aleeya tanggapi dengan serius. Dia tidak ingin menyakiti siapapun dengan keadaannya. Dia juga tidak ingi membuat kecewa.


Pasangan pengantin pun berganti pakaian untuk sesi tamu kedua. Ternyata Aksara mengundang tamu yang sangat banyak sehingga membuat Aleena dan Rangga kewalahan.


"Mas, kaki aku lecet." Aleena menunjukkan kaki putihnya yang memerah karena sedari tadi berdiri tiada henti.


Rangga meminta kepada pihak yang mengatur busana supaya mengganti sepatu Aleena dengan flat shoes. Awalnya pihak busana tidak mau. Namun, Rangga tak diam saja. Dia segera menghubungi pihak butik terkait dan pada akhirnya Aleena diperbolehkan untuk memakai sepatu teplek.


"Kalau bisa mah mending pake sendal jepit swallow aja." Tetap saja pakai flatshoes kakinya terasa perih karena luka lecet.


Tamu semakin banyak. Rangga dan Aleena semakin kewalahan. Aleena yang memiliki senyum indah pun kini berubah menjadi senyum kecut. Untungnya saja dia memiliki suami yang sangat sabar.


Khairan masih dengan pandangannya pada Aleena. Semakin malam wajah Aleena semakin cantik dan itu membuat dia semakin tidak bisa melupakan Aleena. Untuk kesekian kalinya Khairan memilih untuk menjauh dari sana. Dia lebih senang menyendiri meratapi nasib yang sangat malang itu.


"Dengar kabar dari burung-burung," kata Mirza.


"Pengantin perempuan katanya memiliki suara bagus." Mirza menambahkan.

__ADS_1


"Tembak suruh nyanyi pengantinnya." Suara Ghea begitu kencang dan itu membuat Aleena melebarkan mata.


"Mas--"


Aleena merengek bagai anak kecil ketika namanya disuruh naik ke panggung yang tersedia. ALeena sangat malu dan tidak percaya diri. Namun, sang suami malah mendukung. Itu salah satu cara agar dia bisa rehat dari acara salam-salaman yang tiada henti.


"Aleena! Aleena!"


Mau tidak mau akhirnya Aleena menghampiri trio biduan yang sudah tersenyum begitu manis kepada dirinya. Rangga pun berada di samping Aleena untuk menemani istrinya. Khairan hanya menghela napas kasar. Sudah pasti akan ada adegan menyayat hatinya lagi.


Rangga tersenyum ketika melihat istrinya sudah memegang microphone. Begitu juga dengan kedua orang tua Aleena dan keluarganya. Mereka merindukan suara merdu Aleena yang sudah tidak pernah mereka dengar semenjak Aleena mengenyam pendidikan di Singapura.


Aku dan kamu bagai sang surya


Namun selalu dalam keindahan


Ada harga yang harus kita tebus


Keluarga Aleena seketika diam. Mereka tahu akan lagu itu. Lagu yang seakan menggambarkan kisah cintanya terdahulu. Perjalanannya menuju sebuah kebahagiaan yang baru dia raih sekarang.


Semesta kasihan melihat aku

__ADS_1


Bertubi tubi Tuhan mengujiku


Namun aku percaya dalam sabar


Cintaku akan berakhir bahagia


Aleena tersenyum ke arah Rangga. Menandakan jika dia kini sudah mendapatkan bahagia, yakni bersama Rangga setelah banyak ujian yang harus dia lalui.


Rangga memeluk tubuh Aleena dan mengecup kening Aleena dengan begitu dalam. Sorakan ketiga sahabat Rangga membuat semua tamu bertepuk tangan. Acara resepsi yang sangat lengkap. Di mana para pengusaha penuh visual hadir. Tamu yang hadir pun harus melalui pemeriksaan yang ketat karena Aksa dan Radit tidak ingin kecolongan. Masih ada tikus nakal yang masih berusaha untuk menggagalkan acara tersebut.


Abang Er yang tengah dikawal oleh lima bodyguard suruhan sang ayah tengah menatap ke arah seorang perempuan yang sedari tadi menatap ke arah panggung di mana ada paman dan tantenya di sana.


Tangan putihnya mengusap lembut ujung matanya yang berair. Abang Er terus menelisik wajah perempuan yang memakai masker berwarna pink tersebut.


"Tuan kecil," panggil salah satu bodyguard.


Abang Er menunjuk ke arah perempuan yang berdiri tak jauh dari mereka. Sang bodyguard pun mengarahkan pandangannya pada perempuan yang Abang Er tunjuk.


"Kenapa?"


Abang Er menunjuk ke arah pelaminan di mana Rangga dan Aleena sudah duduk di sana. Bodyguard itupun menyatukan clue yang Abang Er berikan. Dia pun mengangguk mengerti. Benar saja perempuan itu kini menuju pelaminan.

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ..


__ADS_2