
"Uhuk!"
Batuk palsu keluar dari mulut Agha dan itu membuat semua mata tertuju pada putra kandung Aksara sekarang.
"Mas, kenapa?" Sang adik langsung bertanya. Pasalnya sedari tadi sang kakak tidak terlihat sakit.
"Keselek biji salak."
"Gak sekalian biji kedondong," timpal sang om, Askara.
Mereka semua pun tertawa mendengarnya. Sedangkan Aksa menatap penuh senang ke arah Rangga dan Aleena. Dia akan menutup mulutnya, tapi dia juga yakin keluarganya yang lain pasti akan segera tahu. Pandangan Rangga kepada Aleena itu sangat berbeda. Begitu juga dengan pandangan Aleena kepada Rangga. Apalagi keluarga besar Aksara adalah manusia peka.
Mereka menikmati semua makanan yang sudah Aksa siapkan. Rangga dan Aleena harus menjaga jarak karena mereka masih tidak ingin hubungan mereka diketahui keluarga.
"Ngga, gua mau itu dong." Ibu hamil dengan santainya menyuruh Rangga untuk mengambilkan sate. Seketika Aleena menatap tajam ke arah Aleesa.
"Kenapa?" tanya Aleesa.
"Gak baik tahu nyuruh begitu."
"Tumben amat," balas Aleesa..
"Bukannya begitu, Kak Restu 'kan ada kenapa gak--"
"Gak apa-apa kok." Rangga memotong ucapan Aleena dan itu membuat Aleena menatap ke arah kekasihnya yang sangat tampan malam ini.
Rangga pun menatap ke arah Aleena dan dia tersenyum manis ke arah perempuan yang sangat dia cintai.
"Love you," kata Rangga dengan mulut yang bergerak tanpa suara. Sontak mata Aleena melebar dan Rangga malah mengulum senyum. Berlalu meninggalkan Aleena dan Aleesa.
"Kak, Rangga itu baik loh. Apalagi sekarang dia udah sukses. Makin ganteng lagi."
"Lalu?" Aleena mengambil satu tusuk sate yang tengah dinikmati oleh sang kakak.
"Bukalah hati Kakak untuk Rangga. Dia itu anaknya tulus banget. Sampai sekarang aja sikapnya gak berubah. Apapun mau dia lakuin padahal kasta dia sama kita itu udah setara."0
Pandangan mata Aleena kini tertuju pada Rangga yang tengah sibuk membantu mereka yang menginginkan ini dan itu. Sedari kecil Rangga tidak bisa diam. Sampai dia dewasa dan sudah memiliki pekerjaan yang sangat layak dia masih tetap sama.
"Bubu juga sepertinya sangat menyukai Rangga."
Aleena hanya terdiam. Dia bingung mau berkata apa. Semesta seakan terlalu cepat melancarkan hubungannya dengan Rangga. Dia belum siap, dia masih meraba-raba hatinya karena sebuah trauma yang kapanpun bisa hadir lagi.
Setelah menikmati makanan yang tersedia, Aksa menginginkan mereka semua foto bersama. Mereka berpose dengan pasangan masing-masing. Rangga dan Aleena malah dipisahkan oleh anak lelaki ketiga Askara, Apang.
Tanpa Rangga dan Aleena duga, Ghea menarik tangan Apang agar Apang berfoto bersama dirinya. Rangga dan Aleena pun saling tatap, dan Rangga malah merengkuh pinggang Aleena hingga posisi mereka sangat dekat. Aleena menatap ke arah Rangga begitu juga dengan Rangga yang tersenyum ke arah Aleena.
Ketika foto itu jadi, semua orang berteriak histeris ketika melihat foto tersebut. Aleena yang tengah berada di lapangan basket tempat Agha berlatih basket menoleh ke arah di mana keluarganya tengah berkumpul. Beginilah Aleena, dia tidak bisa berlama-lama berada di tengah keramaian.
__ADS_1
Secangkir susu hangat sudah ada di depannya. Ada tangan yang memberikannya dari arah samping. Senyum tulus Rangga berikan kepada Aleena.
"Kenapa ke sini?"
"Kok nanya kenapa? Nemenin pacarlah." Rangga sedikit bersungut menjawab pertanyaan Aleena.
"Bukan begitu." Aleena meraih cangkir susu yang Rangga berikan. "Nanti mereka curiga."
"Biarin aja." Rangga malah duduk di lapangan basket tersebut. Namun, Aleena masih berdiri di samping Rangga dan membuat Rangga menarik lembut tangan Aleena agar duduk bersamanya juga di sana.
Keluarga Aleena yang ada di dalam rumah bersorak gembira ketika melihat adegan tersebut. Aleesa sudah memeluk tubuh sang suami.
"Kok kayak liat drama sih," ucapnya. Restu hanya menggeleng mendengar ucapan dari istrinya.
Radit, dia terus memperhatikan putrinya. Dia melihat betapa nyamannya Aleena bersama Rangga. Walaupun dia tidak tahu apa yang Aleena dan Rangga bicarakan, tapi dia dapat melihat jikalau Aleena tengah tersenyum ceria bersama Rangga.
"Dari foto ini aja udah terlihat jelas bahwa di antara mereka berdua ada apa-apanya." Aska mulai mengompori keluarga yang lain sambil menunjuk gambar Aleena dan Rangga yang saling pandang dengan sorot mata penuh cinta.
"Masalahnya sih yang memiliki restu tertinggi di keluarga itu si Adek," sahut Agha.
Semua orang kini menatap ke arah Ghea hingga membuat anak itu berdecak kesal.
"Kak Rangga cuma milik Adek!"
Baru juga berkata seperti itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang sangat cantik berperawakan bak model dengan kulit putih. Mereka tahu perempuan itu siapa.
"Ri, apa dia pacarnya Rangga?" tanya Echa. Ada rasa tidak suka ketika ibu dari Aleena itu melihat Jihan.
"Bukan, Bubu!" jawab Ghea dengan sangat tegas. "Adek yang akan ada di barisan pertama untuk menolak perempuan itu."
Jari telunjuk Ghea sudah terarah pada wajah Jihan. Itu membuat semua orang tercengang. Anak bungsu dari Aksa ternyata seberani itu.
Rangga dan Aleena kembali ke dalam rumah. Seketika langkah Aleena terhenti karena melihat Jihan di sana. Begitu juga dengan Rangga. Dia langsung menoleh ke arah Aleena yang memasang wajah tak bersahabat. Sedangkan Jihan sudah memanggil namanya.
Aleena sudah memasang wajah yang sangat datar ketika Jihan tersenyum ke arah kekasihnya. Dia hendak meninggalkan Rangga, tapi dengan cepat Rangga mencekal tangannya hingga Aleena menatapnya. Gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Rangga.
Namun, jin perempuan itu sudah mulai melangkahkan kaki. Ghea yang hendak melarang Jihan dilarang oleh sang ayah. Aksa ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rangga.
"Tapi, Dad--"
Aksa hanya menggelengkan kepala dan itu membuat Ghea terdiam dan menghentikan tindakannya. Agha pun satu pemikiran dengan sang ayah. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan sang kakak.
"Ngga, kamu ke mana aja? Aku nyari kamu." Jihan berkata dengan sangat lembut dan itu membuat wajah Aleena segera berpaling dari Rangga.
Namun, tak Rangga biarkan itu terjadi. Dia malah menarik tangan Aleena hingga Aleena membentur dada bidang Rangga. Mata mereka pun saling menatap kembali. Sontak keluarga Aleena di sana sedikit riuh.
"Jangan pergi! Kita hadapi sama-sama." Tangan Rangga sudah merengkuh pinggang Aleena hingga membuat tubuh Jihan menegang melihatnya.
__ADS_1
Keluarga Aleena seperti tengah menonton drama secara langsung. Begitu romantis dan tidak boleh ditinggalkan drama seru tersebut. Mereka masih asyik menonton drama antara Rangga, Aleena dan Jihan.
"Ngga--"
"Maaf, Jihan."
"Wah! Seru nih."
Begitulah kata keluarga Aleena. Restu malah sudah memakan kacang almond yang tersedia di sana. Juga Aska sudah membuka toples berisi keripik singkong, dan si kuartet sibuk mengunyah keripik pisang asin dan manis.
"Aku tidak akan pernah menarik perkataanku sebelumnya."
Tegas dan jelas kalimat yang diutarakan oleh Rangga. Itu membuat mata Aleena tak berpaling dari Rangga. Dia pun tak mempedulikan keluarga besarnya tengah menonton dirinya.
"Aku bukan lelaki Cemen yang akan meminta bantuan orang lain hanya untuk sekedar melamar wanita yang aku cinta. Aku bisa melakukan itu sendiri."
Jihan pun membeku. Semua orang pun menganga mendengar ucapan dari Rangga. Ketegasan yang Rangga tunjukkan menandakan jika dia memang serius dengan perkataannya. Tidak ada akting di sana. Sisi lain dari Rangga baru mereka ketahui.
"Lagipula dari awal aku hanya menganggap kamu sebagai rekan kerja. Kedekatan kita hanya sebatas itu. Tidak lebih, kurang mungkin iya."
Penonton pun menahan tawa ketika mendengar perkataan konyol dari Rangga. Namun, itu mampu menghibur mereka.
"Tapi, Ngga--"
"Cukup, Jihan!" ucapnya dengan penuh penekanan.
"Aku akan buktikan jika aku bukanlah lelaki Cemen kepada kamu."
Jihan terdiam, dia masih memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Rangga. Tak dia sangka, Rangga malah menarik lembut tangan wanita yang tengah bersamanya berjalan menuju ke arah seorang pria yang sedari tadi tak bereaksi. Kini, jantung Aleena lah yang berdisko ria.
"Mas, kamu mau melakukan apa?"
Hati Aleena lah yang berkata seperti itu. Mulutnya kelu dan tidak bisa mengeluarkan satu huruf pun.
"Om Radit."
Deg.
Sungguh jantung Aleena semakin cepat berdebar. Tangannya pun sudah sangat dingin. Namun, kali ini Rangga seakan tidak mempedulikannya.
"Aku ingin melamar anak Om Radit yang sudah seminggu ini aku pacari."
Duarr!!
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1