
Aleena merasa malu ketika ketahuan berciuman dengan Rangga. Beda halnya dengan Rangga yang nampak santai. Sedari tadi Aleena terus bersembunyi di dada bidang Rangga.
"Anggap aja kamu gak pernah liat adegan tadi."
"Gimana-gimana?" tanya Agha seraya sedikit mengejek. "Gampang bener Kakak bilang begitu," lanjutnya lagi. Rangga hanya tertawa sedangkan Aleena sedari tadi tak melepaskan pelukannya pada pinggang Rangga.
"Terus mau Mas apa?" Jika, sudah begini Agha akan menang banyak. Seulas senyum pun sudah terukir di bibir Agha.
"Nanti Mas chat Kakak." Rangga pun mengangguk.
"Mas, jangan manjain anak itu," rengek Aleena yang sudah sedikit mengendurkan pelukannya.
"Mas?" ulang Agha dengan wajah yang terkejut.
Aleena pun berdecak dan melempar Agha dengan jeruk yang ada di samping ranjang pesakitan, tepatnya di atas nakas. Agha pun tertawa begitu juga dengan Rangga. Serta Axel ikut tertawa melihat perdebatan adik-kakak dan sepupu tersebut. Dia melihat ke arah jam tangan di mana sudah waktunya dokter datang untuk memeriksa Rangga..
"Na, keluar dulu, yuk. Sebentar lagi dokter datang." Aleena mengangguk. Sedangkan Rangga seakan tidak ingin ditinggalkan oleh kekasih hatinya.
"Aku pergi sebentar. Setelah pemeriksaan selesai aku akan kembali lagi." Aleena berkata dengan seulas senyum penuh dengan cinta.
"Jangan lama-lama." Kini, Rangga yang manja dan membuat Agha bergidik ngeri.
"Bahaya ini mah kudu bilang Daddy biar langsung dinikahin." Sontak Aleena menatap ke arah Agha dengan sangat tajam hingga remaja tampan itu mengangkat kedua tangannya menandakan menyerah.
"Agha hanya bercanda, Sayang." Rangga mengusap lembut rambut Aleena dan itu membuat Aleena menoleh ke arah kekasihnya.
"Kamu jangan khawatir. Mas akan turuti kemauan kamu." Aleena pun tersenyum dan langsung memeluk tubuh Rangga.
Axel dan Agha ikut melengkungkan senyum. Aleena, perempuan yang sulit jatuh cinta juga perempuan yang sering disakiti kini sudah menemukan kebahagiaan sesungguhnya.
"Na," panggil Axel untuk kedua kalinya. Aleena pun mengangguk dan beranjak dari ranjang pesakitan.
"Aku pergi dulu ya, Mas."
.
Axel dan Aleena masuk ke dalam salah satu ruangan di mana memang sudah disiapkan untuk mereka berdua bersembunyi sementara. Keistimewaan itu mereka dapatkan karena ada campur tangan Agha.
"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan hubungan kamu?" Axel sudah bertanya kepada Aleena dengan sangat serius. Namun, Aleena menjawabnya hanya dengan gelengan kepala..
__ADS_1
"Rangga tidak seperti masa lalu kamu. Dia pemuda baik-baik." Axel menjelaskan.
"Aku ingin menikmati masa ini berdua dulu, Bang."
Axel sangat mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Aleena. Dia juga sangat melihat jelas betapa Aleena menikmati dimanja oleh Rangga. Aleena pun terlihat sedikit bucin kepada Rangga. Namun, itu membuat Axel bahagia.
Axel mengusap lembut ujung kepala Aleena. Itu membuat Aleena menatapnya dengan penuh tanya..
"Saya ikut bahagia karena kamu sudah bahagia sekarang." Seketika hati Aleena mencelis mendengar ucapan dari Axel. Tanpa Aleena sadari dia memeluk tubuh Axel dan anak dari sahabat kakeknya pun membalas pelukan Aleena dengan begitu erat.
"Makasih ya, Bang. Selalu support aku."
Aleena merasa memiliki kakak laki-laki jika bersama Axel. Axel akan selalu memasang badan dan juga mendukung Aleena.
Di kamar perawatan Rangga Agha tengah menatap dalam ke arah sang kakak. Wajah Rangga nampak sangat berseri setelah bertemu dengan Aleena.
"Kak, apa Kakak gak cemburu Bang Axel dekat banget sama Nana?" Agha tidak bermaksud mengompori. Dia hanya sebatas bertanya dan ingin belajar hal lain dari kakaknya. Pasalnya dia tengah suka kepada seorang wanita yang juga sangat dekat dengan saudaranya.
.
Jihan masih mencari tahu perihal keberadaan Rangga yang tiba-tiba menghilang. Dia menanyakan kepada rekan sejawat Rangga. Namun, mereka kompak mengatakan tidak tahu.
"Menyembunyikan apa?" tanya kapten pilot yang selalu bekerja dengan Rangga. "Jika, kami libur kamu akan menggunakan waktu libur kami dengan keluarga."
Di sana Jihan terdiam. Dia bingung harus mencari Rangga ke mana lagi. Anak buah ayahnya pun tak tahu di mana Rangga berada.
Mau tidak mau Jihan pergi ke perusahaan Aksa. Ayahnya sudah melarang, tapi dia yang bandel dan terus berusaha ingin memiliki Rangga hanya karena janji manis Alwi Prayoga.
"Pak, maaf ada yang ingin bertemu dengan Anda."
Sekretaris Aksa membuka pintu dan segera berkata seperti itu. Aksa tak menjawab apapun. Dahinya hanya mengkerut. Kemudian, sang sekretaris menjelaskan.
"Namanya Jihan."
Aksa menghela napas kasar dan dia mulai menatap lekat wajah sekretarisnya.
"Suruh dia masuk, tapi katakan padanya saya hanya memiliki waktu sepuluh menit saja untuk dia."
Sekretaris Aksa menganggukkan kepala. Jika, sudah begitu dia sangat tahu orang yang ingin bertemu dengan dirinya sangatlah tidak penting.
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar dan masuklah Jihan mengenakan pakaian sopan. Sebenarnya Aksa juga tak akan melarang jika Rangga memang sungguhan suka kepada Jihan. Jihan adalah perempuan baik-baik. Dia sopan, tutur katanya lembut. Hanya saja putri bungsunya melarang keras dan larangannya akan membuat persetujuan yang lain tak ada gunanya.
"Permisi, Om."
"Duduklah!"
Aksa mempersilakan Jihan untuk duduk dengan begitu sopan dan juga ramah. Itu mampu membuat Jihan dapat menarik napas lega.
"Om, saya ke sini--"
"Sudahilah mencari Rangga." Seketika ucapan Jihan langsung dipotong oleh Aksa. Itu membuat bibir Jihan terasa kelu.
"Tapi, Om--"
"Putra saya sudah memiliki kekasih. Jadi, jangan pernah sakiti dan rendahkan diri kamu hanya karena seorang laki-laki." Untuk ke sekian kalinya Jihan pun terdiam.
"Putra saya adalah lelaki yang tegas. Sekali dia menolak, hatinya akan semakin keras bahkan akan sekeras batu."
"Tapi, Om ... perempuan itu tidak selevel dengan Rangga. Dia memiliki riwayat penyakit gila."
Gila, kata itu lagi yang Aksa dengar. Darahnya sudah naik ke kepala. Ingin rasanya dia berteriak sangat kencang dan memakai perempuan di depannya.
"Saya bukan tipe manusia yang akan mempermasalahkan masa lalu atau sakitnya wanita yang putra saya sayangi. Waktu tidak akan bisa berputar ke belakang. Putra saya menjalani kehidupan untuk masa depan. Jadi, tidak penting masa lalu calon menantu saya."
Tegas dan penuh penekanan setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Aksara. Sungguh membuat Jihan tak bisa berkata-kata sekarang.
"Jika, saya adalah orang yang seperti itu ... sudah dipastikan saya juga tidak akan merestui kamu karena kamu pun memiliki riwayat penyakit jantung yang membahayakan."
Jihan hanya dapat menelan ludah ketika mendengar kalimat yang sangat mematikan dari seorang Aksara. Perkataan Aksa santai, tapi langsung menusuk ke ulu hati.
Pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang lelaki yang mirip sekali dengan ayah dari Rangga.
"Wih, ada calon mantu rupanya."
Aksa mendelik kesal ke arah Aska yang sudah menunjukkan wajah konyolnya. Sedangkan Jihan sudah tersenyum manis ke arah Aska ketika disebut calon mantu.
"Tapi, sayangnya calon mantu yang enggak direstui."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...