MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
74. Ke Perusahaan


__ADS_3

Baru saja mereka deal perihal waktu yang tepat untuk menyelenggarakan akad, sebuah kabar mengejutkan membuat Rangga girang bukan main.


"Aleesa sudah di rumah sakit. Dia mau melahirkan."


Aksa berkata kepada Radit dan Echa. Kabar itu mampu membuat kedua orang tua Aleesa melebarkan mata. Begitu juga dengan Aleena


"Yeay! Kawin!"


Teriakan bak anak kecil keluar dari mulut Rangga dan sontak Aleena memukul pundak kekasihnya itu. Sungguh sangat kekanak-kanakkan.


"Ini lahiran, Serangga! Bukan kawinan!" Aska yang masih terhubung dengan Aksa mulai membuka suara.


"Kita pulang sekarang." Suara Radit begitu tegas. Dia tidak ingin melewatkan momen bahagia putrinya. Begitu juga dengan Echa yang memperlihatkan raut kecemasannya.


Tanpa menunggu lama, Aksa memesan tiket penerbangan malam itu juga. Memilih penerbangan paling cepat. Tak peduli berapa biayanya.


"Kakak Na ikut pulang juga."


Rangga menoleh ke arah Aleena. Wajah Aleena nampak serius. Kedua alis Rangga menukik dengan tajam.


"Abang Er pasti gak ada yang jaga."


Perkataan Aleena membuat Rangga menghela napas kasar. Jika, mendengar nama anak itu hatinya langsung luluh. Balita yang menjadi penghubung dirinya dan Aleena.


Mereka semua bertolak ke Jakarta. Tentu saja Aleena dan Rangga tak bisa terlepas. Namun, ada pengganggu kecil yang berada di samping Rangga. Siapa lagi jika bukan Ghea. Rangga hanya menghela napas kasar ketika adiknya itu terus bergelayut manja di lengannya. Sedangkan Aleena memasang wajah tak suka sehingga membuat Rangga merangkul pundak Aleena, mengecup pelipis samping sang calon istri.


"Gini kali ya kalau punya istri dua." Sontak mata Aleena melebar dan dengan kerasnya dia mencubit perut Rangga hingga dia mengaduh cukup keras.


"Sayang, perut Mas ini nanti biru-biru."


"Belum juga nikah udah punya pikiran gila," omel Aleena.


.


Tibanya di Jakarta, mereka langsung menuju rumah sakit. Namun, Rangga dan Aleena tidak diperbolehkan ke sana. Mereka harus segera langsung ke rumah Radit karena Abang Er sedang panas. Di sana hanya ada Nesha yang menjaga Abang Er.

__ADS_1


Tibanya di rumah sang ayah, Aleena segera ke kamar Abang Er dan meninggalkan Rangga begitu saja. Itu membuat Rangga berdecak kesal.


"Abang Er!"


Balita yang sedang terbaring di atas tempat tidur menoleh. Tiba-tiba mata balita itu berair.


"Onti Mam."


Aleena memeluk tubuh Abang Er. Tangis Abang Er pun pecah.


"Jangan nangis, gantengnya Onti." Abang Er memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat.


Aleena menggendong Abang Er dan mencoba untuk menenangkannya. Nesha yang melihat Aleena begitu sayang kepada Abang Er melengkungkan senyum yang begitu lebar.


Rangga menghampiri sang calon istri yang tengah menggendong Abang Er. Tangannya mengusap lembut rambut anak dari calon adik iparnya tersebut.


"O pap." Abang Er sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Rangga, meminta digendong oleh Rangga.


"Ya ampun, kalian udah cocok deh punya anak."


"Doain aja ya, Tan." Rangga menjawabnya dengan begitu lembut.


.


Setelah mengajak Abang Er bermain di mall, Rangga melakukan mobilnya bukan ke arah rumah Aleena.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Aleena dengan menatap ke arah Rangga. Sedangkan dirinya tengah memangku Abang Er yang sudah terlelap.


"Kantor."


Mobil sudah terparkir si salah satu perusahaan maskapai terbesar nasional. Aleena masih bingung kenapa dia ada di sini.


"Mas, kenapa kita ke sini?"


"Ini kantor Mas, Sayang." Aleena pun tercengang.

__ADS_1


Aleena tahu jika perusahaan ini dulunya milik dari ayah Jihan. Dia tidak menyangka jika sekarang malah jadi milik sang paman. Aleena tahunya jika Rangga bekerja di salah satu perusahaan milik sang paman.


"Ini bukannya--"


"Pemilik saham terbesar di perusahaan ini ternyata Kakek Genta dan juga Kakek Addhitama." Aleena terdiam mendengarnya.


"Setelah seperempat abad perusahaan ini berdiri, baru diketahui kenyataan yang sesungguhnya. Ditambah pemiliknya terdahulu sudah membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan kemurkaan dari seorang Daddy Aksara."


Aleena hanya menghela napas kasar. Masih ada pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Namun, Rangga segera menggenggam tangan Aleena dan membawanya masuk ke dalam perusahaan tersebut.


Semua karyawan menunduk hormat kepada Rangga. Mereka pun menatap bingung ke arah Rangga yang menggandeng seorang perempuan yang tengah menggendong balita.


"Apa Pak Rangga sudah memiliki istri?" Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.


Aleena sangat malu dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Namun, Rangga tidak suka.


"Tegakkan kepala kamu!" Begitulah titah Rangga dengan begitu tegas.


Tibanya di depan ruangannya, dia disambut hangat oleh sekretarisnya. Sontak Aleena mulai panas.


"Mas, aku pegel ini gendong anak kita."


Seketika harapan yang sudah tinggi harus terjatuh ke bagian dasar bumi. Sungguh sakit sekali.


"Ya udah kita masuk."


Baru saja membuka pintu, dia dikejutkan dengan tatapan maut dua pria yang sudah ada di ruangannya.




"Mas, siapa mereka? Ganteng-ganteng banget." Kini, Rangga yang mulai panas. Bisa-bisanya sang calon istri mengatakan itu di depannya.


"Duo jomblo karatan," jawabnya asal.

__ADS_1


__ADS_2