MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
20. Janji Akan Selalu Mencintai


__ADS_3

Rangga menghela napas kasar ketika Khairan sudah pergi dari sana. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi yang tengah dia duduki.


"Hanya sekedar teman," gumam Rangga dengan senyum yang sangat miris. Dia mengatur napasnya agar tak terbawa emosi. Namun, dia berpikir sejenak.


"Jika, dia menganggap aku hanya sebagai teman kenapa dia tidak menolak ketika aku memeluknya juga menggenggam tangannya? Kenapa?" Batinnya tengah bertanya dengan keadaan bingung.


Lagi-lagi Rangga menghela napas berat. Dia memilih untuk pergi dari sana dan terus menyusuri jalan. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah mall cukup besar di Jepang. Dia ingin menikmati waktu sendiri sembari melupakan ucapan yang dia dengar dari rekaman Khairan.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia melengkungkan senyum ketika nama siapa yang tertera di sana.


Daddy.


"Jangan patah arang hanya karena sebuah batu kerikil tajam."


Rangga tersenyum lebar. Ayahnya itu seakan sangat mengerti dengan apa yang dia butuhkan sekarang. Motivasi yang begitu berguna untuk hari ini.


"Daddy selalu tahu apa yang tengah aku pikirkan."


Pesan dari sang ayah seperti dukungan untuknya. Dia yang tengah sedikit bimbang, dikuatkan oleh perkataan yang sangat membuatnya tenang.


Sedang asyik memilah-milah buku, Rangga dikejutkan dengan tepukan punggung yang begitu lembut. Dia menoleh dan senyuman seseorang menyapanya.


"Jihan!"


Rangga sedikit terkejut melihat keberadaan Jihan di negeri sakura ini. Jihan melengkungkan senyum yang begitu manis.


"Gak nyangka loh aku ketemu kamu di sini." Rangga hanya membalasnya dengan tersenyum.


Jihan dan Rangga memang memiliki kesukaan yang sama. Jihan akan terlihat sangat bahagia jika bersama Rangga.

__ADS_1


"Makan, yuk!"


Jihan sudah menarik tangan Rangga keluar dari toko buku tersebut. Wajah Jihan terlihat berseri dan senyumnya terus melengkung indah. Apalagi Rangga yang terlihat sangat akrab dengan anak salah satu maskapai penerbangan nasional tersebut.


Wanita cantik itu mengajak Rangga makan di restoran sushi ternama yang ada di dalam mall tersebut. Baru beberapa langkah masuk, Rangga mematung ketika melihat Aleena bersama Khairan. Ada rasa cemburu di sana dan kalimat yang tadi dia dengar kembali mendengung di telinga.


"Kak Rangga!"


Reksa ternyata ikut bersama Aleena dan Khairan. Dia yang baru kembali dari kamar mandi memanggil co-pilot tersebut. Reksa menghampiri Rangga dan menarik tangannya untuk bergabung di meja Aleena.


"Ayo!"


Jihan pun mengikuti langkah Rangga dan Reksa. Ketika hendak menyuap sushi ke mulut, Aleena terdiam melihat Rangga bersama seorang wanita dan juga Reksa. Tak Aleena sadari sushi itu terjatuh ke piring kecil yang ada di depannya. Khairan memperhatikan reaksi Aleena. Begitu juga dengan Rangga.


"Kita beneran boleh gabung di sini?" Suara Jihan begitu lembut dan merdu.


"Gabung aja. Kursinya juga ada lima, jadi pas 'kan."


Jihan membalasnya dengan tersenyum ke arah Reksa. Dia menarik tangan Rangga agar duduk. Mata Aleena terus memperhatikan Jihan dan Rangga yang begitu dekat.


"Bangku yang Kak Rangga tempati itu bangku aku." Reksa memisahkan Rangga dan Jihan dengan paksa. Kini, Rangga duduk tepat di samping Aleena dan membuat Khairan ketar-ketir.


"Siyalan nih bocah!" geram Khairan di dalam hati.


Wajah Aleena sudah sangat tidak bersahabat. Dia memalingkan wajahnya dan bersikap sangat dingin. Rangga menatap ke arah Aleena yang sangat berubah dari semalam.


"Ngga, kamu mau pesan apa?"


Suara lembut itu membuat Aleena meletakkan sumpit dengan cukup kencang ke atas piring hingga membuat semua orang menatap ke arahnya. Aleena berdiri dan berkata, "aku mau ke toilet."


"Ngga, kamu mau pesan apa?"

__ADS_1


Pertanyaan Jihan tak kunjung dijawab. Tatapan Rangga malah tertuju pada Aleena yang semakin menjauh dari meja itu.


"Rangga!" Suara Jihan mulai sedikit meninggi.


"Apa saja."


Setelah menjawab itu Rangga berdiri dan meninggalkan meja tersebut. Khairan yang ikut berdiri dan ingin mengikuti Rangga malah dilempar sumpit oleh Reksa.


"Diem di situ!" titah Reksa. Khairan pun berdecak kesal dan tidak mau menuruti perintah Reksa.


"Oke, gua akan hubungi Bang Axel."


Kaki yang hendak melangkah pun Khairan urungkan. Ya, sebenarnya Khairan tidak diijinkan oleh Axel untuk ikut bersama Aleena dan juga Reksa. Namun, Khairan tetap bersikukuh hingga Axel mengijinkan dengan syarat.


"Pengaduan lu!" Khairan pun bersungut ria.


.


Aleena menatap dirinya di depan cermin toilet wanita. Bibirnya melengkung dengan sangat perih.


"Ternyata dia sangat cantik," ucap Aleena dengan bibir yang memaksa untuk tersenyum. Dia tak tahan akhirnya kepalanya menunduk dalam. Lelehan air mata mulai mengalir. Punggungnya sedikit bergetar.


Pelukan dari belakang membuat Aleena membeku. Apalagi hembusan napas yang menerpa kulitnya membuat bulu kuduknya meremang.


"Jika, kamu hanya menganggap aku teman ... kamu tidak akan merasa sedih seperti ini 'kan ketika aku bersama dia."


Aleena terdiam. Dia tidak bisa berkata apalagi. kini Rangga sudah meletakkan dagunya di pundak Aleena.


"Bisakah kamu jujur dengan perasaan kamu sendiri?" Tangan Rangga semakin erat memeluk pinggang Aleena.


"Aku sangat mencintai kamu, Na. Dan rasa itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku janji itu."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2