
Yanuar dan Mirza berdecak kesal ketika mendengar julukan dari Rangga. Mereka kompak melipat kedua tangan mereka di atas dada.
"Si sad boy udah banyak gaya sekarang," cibir Mirza.
"Mentang-mentang udah ada pawang," tambah Yanuar.
Rangga malah tertawa dan membawa Aleena mendekat ke arah dua pria tampan itu. Dia mengenalkan Aleena kepada Yanuar dan Mirza.
"Kenalin nih calon istri."
Decakan kesal kompak keluar dari mulut mereka berdua. Rangga menyombongkan dirinya di hadapan dua pria yang dia Katai jomblo karatan tersebut.
"Udah tahu, gak perlu dikenalin." Jawaban yang begitu ketus keluar dari mulut Mirza dan ditanggapi dengan ketawa renyah dari seorang Rangga Ardana Prayoga.
"Calon lu janda beranak satu?" Yanuar mulai memulai peperangan. Dia melihat Aleena menggendong balita yang tengah terlelap di dadanya.
"Sembarangan lu kalau ngomong!" Rangga mulai tersulut emosi. Ternyata kesabarannya setipis tisu.
"Itu keponakan gua!" Suara Rangga mulai memekik. Sontak Aleena menutup telinga Abang Er.
"Lah bukannya dua adik lu itu masih pada sekolah." Yanuar memang benar-benar menguji kesabaran Rangga. Terlihat jelas Rangga sudah memasang wajah menyeramkan. Namun, kedua temannya itu malah mengulum senyum dan semakin membuat Rangga semakin emosi.
Baru saja dia hendak membuka suara, Aleena menggenggam tangan sang calon suami. Dia menggeleng pelan. Itu membuat Rangga menghela napas kasar. Dua teman Rangga itu malah tersenyum penuh kemenangan.
"Mas, pundak aku pegal ini." Aleena mulai mengeluh.
Yanuar dan Mirza saling pandang. Betapa lembutnya suara dari calon istri sahabat mereka itu. Juga panggilan sayang yang wanita itu berikan untuk Rangga begitu merdu terdengar. Wajah calon istri Rangga terlihat galak dan judes, ternyata tutur katanya sangat lembut.
"Kamu tidur di sana aja, ya." Rangga menarik tangan Aleena begitu lembut. Itu tak luput dari pandangan Yanuar dan Mirza.
Perlakuan sangat manis yang Rangga berikan kepada calon istrinya membuat Yanuar dan Mirza sedikit tak percaya. Ketika bersama mereka, Rangga adalah manusia yang kesabarannya hanya sepuluh persen. Kepada karyawan pun dia sangat tegas. Beda halnya ketika dia bersama wanita yang mereka akui sangat cantik itu. Begitu lembut dan penuh cinta. Mereka melihat diri yang berbeda dari seorang Rangga.
"Kamu ikut tidur aja sama Abang Er. Pasti kamu lelah." Rangga berkata setelah dia meletakkan tubuh Abang Er ke tempat tidur yang tidak terlalu besar, tapi nyaman.
"Ini kamar kedap suara. Jadi, kamu tidak akan terganggu kalau tidur di sini." Aleena menatap ke arah sang calon suami yang tengah membelai rambutnya.
"Mas, masih lama?"
"Mas, nunggu Mas Agung dulu sebentar. Katanya dia lagi di jalan."
"Mas Agung?" Aleena mulai penasaran dengan nama yang disebut sang calon suami. Sepertinya calon suaminya ini berteman dengan orang-orang berkelas.
"Dia adalah senior Mas sama dua teman Mas tadi. Dia yang banyak membantu Mas dalam mengembangkan perusahaan ini."
Aleena mengangguk. Dari segi bicaranya sangat terasa sekali jika Rangga berteman dengan tiga orang itu sangat tulus.
Rangga keluar dari kamar pribadi yang memang ada di ruangannya. Yanuar dan Mirza sudah menatapnya dengan begitu tajam.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Lu dapat cewek modelan Kayak begitu dari mana?" Yanuar sudah membuka suara.
"Ada lagi gak stok cewek kayak calon bini lu itu? Atau lu mau oper alih?"
Pukulan Rangga berikan ke kepala Mirza. Temannya yang satu itu jika berkata tidak pernah disaring.
"Lu kira motor? Bodoh!" Mirza pun tertawa begitu juga dengan Yanuar.
"Dapetin dia itu harus nunggu lama. Penuh kesabaran ekstra dan juga perjuangan yang melebihi perjuangan Ninja Hatori."
🎶
Lewati gunung, lewati lembah
Sungai mengalir indah ke Samudera
Bersama teman bertualang
Kedua sahabat Rangga malah bernyanyi lagu pembuka film kartun dari negeri sakura itu. Film kartun yang menjadi film kesukaan Agha sewaktu kecil. Bagaimana Rangga bisa sabar menghadapi dua manusia modelan seperti itu? Setiap kali mereka bertemu pasti Rangga yang akan dibuat emosi. Mereka berdua ditakdirkan untuk terus menggoda Rangga.
Pintu ruangan terbuka, seorang yang gagah dan tampan datang. Namun, sayangnya dia juga masih berstatus lajang.
"Kebiasaan pada ribut Mulu!"
Mas Agung sudah biasa melihat ketiga adiknya itu selalu beradu mulut. Dia tidak akan heran. Dia juga tidak akan melarang karena setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengungkapkan sebuah kedekatan.
"Udah gua duga dia akan terbang ke sana." Mirza sudah membuka suara.
"Tapi, dia gak macam-macam 'kan?" Mas Agung nampak serius menimpali perkataan Mirza.
"Dia tahu kelemahan calon istri aku, Mas. Makanya, yang dia temui pertama calon istri aku."
Di dalam kamar, Aleena menatap ke arah sebuah foto yang terpajang di sana. Ada foto keluarga juga foto Rangga bersama kedua temannya. Mereka bertiga bagai tiga sekawan yang sangat dekat. Bisa dibilang mereka adalah circle pria tampan.
Lengkungan senyum terukir di wajahnya. Rangga yang dia ketahui hanya dekat dengan Agha ternyata memiliki teman yang luar biasa, yakni para pengusaha muda. Sungguh di luar ekspektasinya.
"Diam-diam ternyata teman kamu bukan dari kalangan biasa ya, Mas," gumam Aleena dengan sebuah senyum kecil, tapi begitu manis.
Bangga, itulah yang dirasakan oleh Aleena. Ternyata dia tidak banyak tahu tentang Rangga. Dia tidak banyak tahu bagaimana kehidupan Rangga. Hari ini, sedikit demi sedikit dia tahu siapa Rangga sebenarnya. Dia bukan Rangga yang dulu yang selalu minder ketika bertemu dengan anak orang kaya. Rangga sekarang adalah Rangga yang selalu menegakkan kepalanya kepada siapapun. Rangga yang penuh percaya diri dan selalu menunjukkan sikap hangatnya kepada siapapun.
Tengah asyik memandangi wajah Rangga yang amat tampan dalam balutan jas bersama keluarga sang paman, suara Abang Er terdengar. Aleena sigap menghampiri keponakannya yang ganteng itu.
"Mi-mi."
Aleena kebingungan sekarang. Tas yang berisi susu Abang Er dia tinggal di mobil.
__ADS_1
"Onty ambil susunya dulu ya di mobil."
"Itut."
Aleena pun tersenyum dan segera menggendong sang keponakan yang selalu membuatnya bahagia. Suara pintu terbuka dan keempat pria yang tengah berbincang serius menoleh.
"Ada apa, Sayang?"
"Uhuk!"
Mas Agung sedikit tersedak. Yanuar dan Mirza malah tertawa. Sedangkan Rangga tak peduli dan menghampiri Aleena yang sudah menggendong Abang Er.
"Abang Er mau minum susu, tadi aku lupa bawa tasnya di mobil." Rangga mengangguk dan dia sudah mengambil alih Abang Er dari Aleena.
"Abang Er haus?" Balita tampan itu mengangguk.
"Biar Om ambilin, ya." Abang Er menggeleng. Dia menunjuk ke arah Yanuar hingga Rangga menatapnya bingung.
"Tuh anak kenapa nunjuk ke gua? Mana tatapannya kek bocil kematian." Yanuar mulai sedikit takut.
"Dia nyuruh lu, Yan-yan."
"Hah?" Yanuar terkejut mendengar ucapan dari Mirza.
"Siapa lu, Bocil?" Yanuar malah menantang anak berusia empat belas bulan tersebut. Sungguh sangat kekanak-kanakan.
"Lu pengen tahu siapa bapaknya nih bocah?" Senyum smirk Rangga tunjukkan.
"Siapa?" Baik Yanuar Mirza dan Mas Agung kompak bertanya dengan raut penuh penasaran.
"Restu Ranendra."
"Mampoes!!" Mereka bertiga kompak mengumpat.
"Kudu nurut ini mah," ujar Yanuar.
"Kalau enggak bisa-bisa perusahaan gua digulung sama bapaknya tuh bocah." Mirza menimpali.
"Berengsekk lu!" Mas Agung pun ikut emosi. "Bilang dari awal kek siapa bapaknya tuh bocah. Bikin jantung gua lari maraton aja."
Rangga pun tertawa. Tiga pengusaha muda itu sangat takut pada Restu. Si pengusaha kejam yang bisa menghancurkan perusahaan lain dalam satu detik. Bisa dibilang pria itu lebih kejam dari ayah angkat Rangga.
"Mau apalagi lu, Bocah?" tanya Yanuar.
"E-ek!"
Semua orang pun menutup hidung karena wangi bunga raflesia Arnoldi menyeruak. Jawaban yang sama sekali tak ingin Yanuar dengar.
"Bukan cuma Bocil kematian, tuh bocah juga the real Bocil menyebalkan!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...