MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
102. Dijilat Hantu


__ADS_3

ALeena dan Rangga berpelukan hingga pagi datang. Di mana tubuh bagian atas Aleena sudah tak berkain dan bagian tubuh bawah suaminya pun tak berkain pula. Mereka terlelap karena sangat kelelahan menikmati cicilan di malam pertama yang membuat bagian dada Aleena berubah warna menjadi merah.


Cahaya matahari yang mulai masuk ke celah jendela kamar pun tak mampu membuat mereka terbangun. Padahal di restoran yang berada di dalam hotel mereka sudah ditunggu oleh keluarga besar. Satu jam berlalu, pengantin baru itu belum juga bergabung bersama mereka. Suara decakan kesal sudah keluar dari mulut Aksara.


"Kayak gak pernah muda aja lu, Bang." Askara menimpali decakan kesal sang kembaran.


Trio biduan memang tengah penasaran pada pengantin baru tersebut. Mereka masih setia dan sabar menunggu kehadiran Rangga dan Aleena. Beda halnya dengan Khairan yang berdoa agar Rangga dan Aleena tidak bergabung sarapan kali ini. Dia belum siap melihat Aleena jalan layaknya pinguin.


"O-pap, Onty Mam, ana, Mi?'


Sang keponakan sedari tadi sudah bawel menanyakan keberadaan om dan tantenya. Matanya pun terus mencari Rangga dan Aleena.


"Masih bobo, Bang." Aleesa menjawab pertanyaan sang putra.


"Udah cian."


Aleesa hanya menghela napas kasar. Jika, sudah begini Aleesa bingung mau menjawab apa.


"Abang habiskan makannya. Setelah itu, kita akan berenang."


"Enang?" Abang Er terlihat sangat antusias. Restu pun menjawab dengan anggukan kepala tegas.


Benar saja pengantin baru belum juga bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ponsel Rangga terus saja menyala. Tiga sahabatnya sedari tadi mencoba mengganggu Rangga dengan menghubunginya. Namun, tak jua lelaki tampan itu jawab.


Aleena mulai membuka matanya. Dia melihat di hadapannya ada Rangga yang menempelkan wajahnya ke dada Aleena yang polos. Wajahnya begitu tenang dan masih sangat lelap. Senyum pun terukir di wajahnya. Dia mengusap lembut rambut sang suami dan membuat Rangga semakin menelusupkan wajahnya ke dada bak tokek. Malah bibirnya mencari sesuatu yang bisa dia hisap layaknya anak bayi.

__ADS_1


Desisan pun keluar dari mulut ALeena. Di mana saja merasakan perih yang tak terkira karena ulah Rangga yang cukup kencang menghisap si cokelat muda nan menggoda itu.


"Pelan, Mas."


Aleena sudah tidak bisa menahan rasa sakit poetingnya yang sudah lecet. Mendengar suara Aleena yang pelan, membuat Rangga membuka matanya.


"Hisapnya pelan aja, Mas. Perih," keluhnya.


Seketika Rangga melepaskan mulutnya dari dada Aleena. Dia mulai mengecek di sekitaran si cokelat muda. Benar saja, ada luka lecet di pinggirannya.


"Maaf," ucap Rangga dengan penuh sesal.


"Gak apa, Mas." Aleena masih menunjukkan senyuman manisnya.


"Nanti Mas gak ada vitamin tambahan jika ini diobati." Rangga yang khawatir malah tertawa.


Dia mencium bibir ALeena dengan penuh cinta. Morning kiss yang sangat lama. Mereka terlihat sangat bahagia hingga tak mau beranjak dari tempat tidur walaupun hany saling peluk dan saling memandang. Sesekali mereka menciumi satu sama lain.


"Biasanya berapa lama tamu kamu datangnya?"


Rangga mulai tidak sabar karena dekat dengan sang istri membuat aliran listrik di tubuhnya menegang terus-terusan.


"Paling lama tujuh hari," jawab Aleena. Wajahnya kini sudah berubah.


"Maaf," ucap Aleena yang mulai menundukkan kepala.

__ADS_1


Rangga memeluk tubuh Aleena. Dia mengecup ujung kepala istrinya dengan sangat lembut.


"Mas, hanya bertanya, Sayang." Dia tidak tega melihat istrinya sedih seperti itu.


Jam satu siang barulah Aleena dan Rangga keluar dari kamar. Aleena memakai dress selutut yang berwarna baby blue. Rambutnya sengaja dia gerai karena ada bekas gigitan manusia serigala.


"Onty Mam."


Abang Er berlari ke arah Aleena dan Rangga. Mereka sudah janjian untuk makan siang bersama. Senyum yang begitu merekah mampu Khairan lihat dari wajah Aleena. Rangga menggendong keponakannya yang tampan itu.


"O-pap bobona taya Tebo," celoteh sang keponakan. Rangga pun tertawa.


Ketika Aleena hendak duduk di meja yang sudah Aksa pesan, Abang Er melihat sesuatu yang aneh. Tangan anak itu begitu cepat menyingkap rambut Aleena dan itu membuat sang Tante melebarkan mata.


"Ini apa?" tanya Abang Er dengan begitu polos. Sontak para orang dewasa mengulum senyum. Sedangkan pengantin baru itu mulai panik.


"Itu mah dijilat hantu," jawab Balqis.


Warnanya memang bukan merah, tapi sedikit menghitam.


"Jilatan hantu penuh napsu."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2