
Wanita itu tidak membutuhkan janji manis saja. Begitu juga dengan Aleena yang membutuhkan kepastian karena dia sudah menyerahkan apa yang dia jaga kepada Rangga.
"Kamu jangan khawatir," jawab Rangga dengan begitu lugas.
"Mas bukan pria breng sek yang hanya mau menikmati tanpa mau menikahi."
Aleena tersenyum. Dia memeluk erat tubuh sang kekasih yang tak pernah main-main dengan ucapannya.
.
Hari keenam Rangga di Canberra, Rangga mengajak Aleena ke sebuah resto ternama. Rangga sudah meraih tangan Aleena dan menatapnya dengan begitu dalam. Sorot matanya seakan ingin mengatakan sesuatu hal yang pening kepadanya.
"Lusa Mas harus ke Swiss."
Tubuh Aleena tiba-tiba menegang mendengar ucapan dari Rangga. Dia nampak tak percaya. Namun, Rangga berkata dengan sangat serius dan tak ada dusta di sana.
"Kenapa Mas gak bilang dari awal?" Terdengar nada kecewa sekaligus sedih yang keluar dari mulut Aleena. Matanya sudah berair. Dia tidak ingin ditinggalkan oleh sang kekasih.
__ADS_1
Ketika diantar pulang ke rumah pun Aleena masih menutup rapat mulutnya. Dia marah kepada Rangga. Berkali-kali Rangga mengatakan kata maaf pun tak membuat Aleena menoleh kepadanya. Hatinya masih tidak mengijinkan.
"Sayang," panggil Rangga dengan begitu lembut.
Rangga sudah meraih tangan Aleena, tapi tetap saja dia terdiam. Tak menggubris apa yang dilakukan oleh Rangga. Hingga tiba di rumah Aleena, kekasih dari Rangga pun melangkahkan kaki dengan lebar. Rangga menghela napas kasar. Dia segera mengejar Aleena. Tangannya berhasil memeluk Aleena dari belakang hingga langkah Aleena terhenti.
"Maafkan Mas, Sayang."
Bulir bening akhirnya keluar dari pelupuk mata Aleena. Sungguh dia belum mau mengakhiri kebahagian ini. Dia tidak ingin ditinggalkan lagi. Rangga membalikkan tubuh Aleena. Mengusap lembut air mata yang membasahi pipi wanita yang dia cintai.
Rekan Aleena yang lain sudah saling menyenggol lengan mereka. Sedangkan Aleena tengah bergelut dengan pikirannya. Dia terkejut ketika pergelangan tangan sudah digenggam oleh seseorang berkemeja putih. Aleena menoleh ke arah sampingnya dan sang kekasih sudah ada di sana.
"Ikut saya!"
Semua penjelasan dari Rangga tak membuat Aleena mengerti. Dia masih terdiam. Namun, sekarang dia sudah memandang Rangga,
"Boleh gak aku egois?" Mata Aleena sudah menahan air mata,
__ADS_1
"Aku masih ingin tetap bersama kamu."
Rangga segera berdiri dan memutari meja yang dia tempati. Dia memeluk Aleena dari belakang.
"Aku belum siap ditinggalkan lagi. Aku belum siap." Rangga semakin erat memeluk tubuh Aleena.
Keberangkatannya ke Swiss tidak bisa dibatalkan. Itu membuat Aleena tidak bisa berbuat apa-apa. Beribu cara Rangga lakukan untuk meyakinkan Aleena, hingga pada akhirnya Aleena mau mengijinkan dengan hati yang berat.
"Belajar jadi istri Mas, ya. Harus siap ditinggal-tinggal." Aleena meresponnya hanya dengan diam. Sedangkan Rangga sudah memeluk Aleena dengan begitu erat.
.
Aleena terbangun ketika dia merasakan ada yang menepuk lembut pipinya. Matanya mulai membuka, dia sedikit terkejut ketika Rangga sudah menunjukkan senyumnya.
"Bangun, Sayang. Kita sudah sampai bandara."
...***To Be Continue***...
__ADS_1