MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
6. Tegakkan Kepalamu!


__ADS_3

Rangga terbang dari Sydney, tapi tidak untuk pulang. Melainkan untuk pergi ke Jepang. Dia tidak mungkin pulang dengan keadaan terluka seperti itu. Sudah pasti kedua orang tuanya akan murka.


Selama mengudara bayang wajah Aleena terus berputar di kepala. Sulit rasanya untuk melupakan dia. Namun, dia teringat akan perkataan Axel.


"Jangan percaya apa yang dikatakan oleh wanita. Mulut dan hati wanita itu tidak sinkron."


Rangga hanya tersenyum tipis. Dia tahu Axel tengah memberitahu sesuatu dengan kalimat itu. Namun, melihat Aleena bersama Khairan untuk kedua kalinya membuat hatinya semakin sakit.


.


Jepang.


Masker tak pernah Rangga buka, dia sudah tiba dan menuju ke sebuah kedai ramen ternama di mana dia pertama kali bertemu dengan Aleena setelah kepergian Aleena dari Singapura. Dia masih mengingat jelas momen itu. Akan tetapi, realita tak sesuai dengan ekspektasinya. Rangga yang ada tugas dadakan harus kembali ke Jogja. Dia meminta kepada Aleena untuk menunggu, tapi ketika Rangga kembali ke Jepang Aleena sudah tidak ada di sana. Itulah titik awal kekecewaan seorang pilot tampan.


Rangga menghabiskan waktu cukup lama di kedai ramen tersebut hingga dia menghubungi Reksa, sahabat dari Agha yang tak lain jembatan penghubung untuknya bertemu dengan Aleena.


"Iya, Kak."


...


"Hah?"


Reksa terkejut. Dia memang tahu jika Rangga berangkat ke Sydney, tapi dia tidak menyangka jika Rangga sekarang ada di Jepang.


"Ya udah aku ke sana."


Kehadiran Reksa mampu membuat bibir Rangga melengkung dengan sedikit lebar. Reksa menepuk pundak Rangga pelan.


"Ada sesuatukah?" Reksa seperti cenayang yang dapat menebak apa yang tengah terjadi. Reksa malah tertawa melihat respon Rangga yang hanya diam.


"Apa karena lelaki bersama Kak Aleena?"


Mata Rangga memicing ketika mendengar perkataan dari Reksa. Dari mana anak itu tahu? Itulah yang tengah berputar di kepala Rangga.


"Setelah Kakak pergi dari Jepang, aku melihat Kak Aleena dengan seorang lelaki yang cukup tampan. Dia juga memperlakukan Kak Aleena dengan sangat baik."


Hati Rangga semakin panas ketika Reksa menjelaskan itu. Namun, dia mampu memainkan ekspresi wajah dan terlihat baik:baik saja.


"Aku nyapa Kak Aleena dan kita berdua sempat berbincang sebentar. Juga Kak Aleena memperkenalkan lelaki itu kepada aku. Khairan, itulah namanya."


Reksa bercerita dengan sangat santai. Beda halnya dengan Rangga yang sudah tidak bisa santai.


"Kak Aleena sih bilangnya Khairan itu adalah temannya, tapi sebaliknya si Khairan bilangnya ke aku kalau dia itu adalah pacarnya Kak Aleena."

__ADS_1


Ekspresi wajah Rangga sulit diartikan. Datar bak papan bangunan. Namun, Reksa tak mempedulikan dan masih melanjutkan ceritanya.


"Kalau menurut aku sih tuh si Khairan cuma ngaku-ngaku karena Kak Aleena nampak tidak suka dan marah ketika Khairan ngomong kayak gitu."


Rangga sama sekali tidak merespon. Dia malah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan wajah yang sangat flat.


"Kalau ke kamu si lelakinya yang ngaku jika dia pacar Aleena, kalau ke aku Aleena sendiri yang ngaku kalau Khairan adalah orang spesialnya."


Jika, disambungkan cerita dari keduanya, sudah dipastikan mereka adalah pasangan yang tidak ingin publik ketahui.


"Sebelum janur kuning melengkung dan kata sah terucap masih banyak kesempatan." Rangga hanya diam saja tak merespon ucapan Reksa yang teracuni motto dari ayah sahabatnya, yakni Aksara.


.


Dua hari sudah Rangga berada di Jepang. Dia masih seperti dulu, selalu tersenyum dan juga ramah. Namun, hari ini Reksa melihat senyum tipis yang amat dipaksakan oleh Rangga.



"Apa mau menyerah?"


"Aku ingin pergi sejenak, meninggalkan perasaanku ini."


"Apa yakin bisa?" Reksa yang menjadi happy virus untuk Rangga seakan mengejeknya.


"Kalau gak bisa 'kan bisa balik lagi." Mereka berdua tertawa bersama.



Reksa meminta Rangga untuk duduk di sebelahnya. Reksa sudah menghadapi ke arah laptop. Rangga pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Reksa.


"Lihat deh."


Rangga melihat ke arah laptop Reksa dan ternyata data Khairan sudah diretas oleh Reksa. Rangga membaca laporan itu dengan seksama dan dia terdiam ketika melihat pekerjaan Khairan. Juga status keluarganya.


"Apa aku masih bisa bersaing dengannya? Dia anak orang kaya dan dia juga calon dokter."


"Kak Rangga juga seorang pilot," timpal Reksa. "Kak Rangga harus percaya diri karena pekerjaan Kakak juga tidak bisa dipandang rendah."


Rangga hanya terdiam. Latar belakangnya yang dari panti asuhan membuat rasa percaya dirinya kadang menghilang. Apalagi dia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Insecure itu pasti akan hadir di dalam diri Rangga karena kenyataan yang ada.


"Kak, aku yakin Om Radit dan keluarga besarnya bukanlah orang yang menomor satukan harta dan tahta, tapi bagaimana lelaki itu mencintai anaknya."


Reksa berbicara bagai orang dewasa. Dia banyak belajar dari keluarga Agha. Banyak sedikit dia meniru cara berpikir Agha dan juga ayahnya. Reksa memang dari keluarga berada, tapi dia minim kasih sayang sehingga harus mencarinya di luar. Untung saja Reksa tidak salah pergaulan.

__ADS_1


Ketika kondisi luka Rangga sudah memudar. Barulah dia pulang ke Jakarta sebelum ke Jogja. Dia harus menyetorkan wajahnya kepada ayah dan ibu angkatnya.


Tibanya di Jakarta, Rangga disambut hangat oleh Riana. Dia tiba ketika pagi hari di mana kedua adiknya dan ayahnya tidak ada.


"Bagaimana liburan kamu?"


"Lebih menyenangkan berdiam diri di rumah bersama Mommy, Daddy, Mas Agha dan Adek."


Riana tersenyum dan dia mulai mendekat ke arah sang putra. Walaupun Rangga bukan anaknya, tapi naluri Riana sebagai seorang ibu bekerja sebagaimana mestinya.


"Kak, kalau apa yang kamu inginkan belum bisa kamu gapai jangan menyerah dan terus perbaiki diri. Ketika diri kamu sudah pantas dan layak di mata dunia semuanya bisa kamu gapai dengan mudah."


Kalimat yang Riana katakan seperti nasihat keras untuk dirinya. Rangga menoleh kepada sang ibu yang sudah tersenyum manis ke arahnya. Tangan lembutnya mulai mengusap lembut wajah Rangga.


"Seorang ibu akan selalu tahu apa yang tengah anaknya pikirkan dan rasakan tanpa anaknya itu bilang. Insting seorang ibu tidak pernah salah."


Rangga merasa sangat beruntung bisa masuk ke dalam keluarga ini. Walaupun Aksa sudah meminta Rangga agar mau dikenalkan kepada dunia jikalau dia adalah anggota keluarga kecilnya, tapi Rangga menolak. Dia selalu merasa tidak pantas.


"Mulai sekarang, tegakkan kepala kamu. Jadilah orang yang penuh percaya diri dan tunjukkan pada dunia kamu adalah lelaki hebat dan mampu bersaing dengan yang lain."


.


Kedua adik Rangga sangat senang ketika melihat kakaknya kembali. Terutama Ghea yang terus menempel bagai perangko kepada sang kakak.


Aksa dan Riana tersenyum melihat anak-anak mereka akur seperti itu. Namun, mata Aksa tertuju pada Rangga. Putra angkatnya memang terlihat bahagia dengan menyunggingkan senyum dan terkadang tertawa lepas. Sorot matanya tidak bisa berdusta dan Aksa dapat membaca itu. Ketika kedua adiknya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, Aksa memanggil Rangga ke ruang kerja.


"Ada apa, Dad?"


"Duduklah!"


Jika, sudah masuk ke ruangan kerja sang ayah itu menandakan ada hal penting yang ingin ayahnya sampaikan.


"Hidup yang sesungguhnya penuh persaingan. Siapkan mental dan hati kamu untuk bersaing keras demi mendapatkan apa yang ingin kamu raih."


Deg.


Ayahnya seakan tahu apa yang sedang terjadi padanya. Rangga tidak berani menatap ayahnya yang sedang menatapnya dalam.


"Daddy tahu kamu terluka, bukan hanya secara fisik, tapi juga hati."


Rangga hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan dari ayahnya itu. Dia merasa sedang disidang. Jantungnya berdegup sangat kencang.


"Tegakkan kepala kamu dan katakan pada dunia kamu adalah putra dari Ghassan Aksara Wiguna yang tak akan pernah menyerah sebelum bisa menggenggam apa yang kamu inginkan."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2