
Keesokan paginya, Aleena baru keluar kamar. Dia melewatkan makan malam dan lainnya. Khairan menatap Aleena dengan penuh penyesalan. Namun, tak ada respon dari Aleena.
"Na, aku minta maaf."
Tak ada jawaban dari Aleena. Dia membiarkan Khairan begitu saja. Rasa sakit hatinya masih bersarang. Dia juga bukan orang yang bisa meluapkan emosinya begitu saja. Lebih baik dia diam dan tak bersuara apapun.
Reksa sedari tadi terus memperhatikan dua insan manusia tersebut. Tangan jahilnya mulai mengambil gambar Aleena dan juga Khairan. Kemudian, dia kirim ke Axel.
"Aku hanya meluapkan kekesalan aku saja, Na. Aku gak berniat untuk menyakiti kamu."
Aleena tersenyum tipis. Dia menatap ke arah Khairan dengan tatapan tak bersahabat.
"Justru terkadang ucapan yang spontan itu yang membuat orang lain sakit hati."
Jleb.
Sebuah kalimat yang menusuk hati Khairan. Apa yang dikatakan oleh Aleena benar. Mulut Khairan mendadak kelu. Reksa yang menyaksikan peraduan mulut di depannya hanya tersenyum tipis. Kajahilannya mulai muncul lagi. Dia merekam semuanya melalui ponsel miliknya.
"Aku juga gak menyuruh bahkan aku gak meminta kamu untuk menemani aku, menghapus air mata aku, juga menyembuhkan trauma aku. Aku gak minta itu semua karena kesembuhan yang aku dapatkan karena hati aku yang mulai ikhlas dan menerima kenyataan yang ada. Berdamai dengan rasa sakit dan kecewa supaya semuanya kembali baik-baik saja."
__ADS_1
Khairan semakin terdiam. Dia masih menatap Aleena yang tengah menatapnya dengan sangat tajam.
"Sekarang aku tahu mana yang tulus dan mana yang modus," tukasnya dengan begitu tegas.
Seketika ruangan itu mendadak hening. Khairan tak bisa berucap lagi. Dia sudah salah, rasa tak dianggap membuatnya tak bisa menjaga lisannya. Suara dering ponsel memecah keheningan. Panggilan dari Axel membuat bibir Aleena terangkat sedikit.
"Iya, Bang."
Dada Khairan berdegup sangat kencang. Dia sangat yakin Axel pasti sudah tahu apa yang terjadi padanya dan Aleena.
"Besok saya akan jemput kamu ke Jepang dan kita kembali ke Sydney."
"Apaan? Jangan ngadi-ngadi lu!"
"Apa yang sudah keluar dari mulut saya itu tidak akan pernah bisa dibatalkan." Axel tidak main-main dengan ucapannya.
"Aleena, kamu siap-siap saja besok liburan kamu sudah berakhir."
.
__ADS_1
Tibanya di Jakarta, Rangga pulang ke rumah kedua orang tua angkatnya. Dia menatap sebuah pesawat kertas yang diberikan oleh seorang pria berbadan tinggi dengan menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam dan juga topi hitam.
"Pesawat kertas pertama yang aku buat. Aku sangat mengingat ini," gumamnya.
Rangga mulai mendudukkan bokongnya di tepian tempat tidur. Dia mulai membuka lipatan dari pesawat kertas tersebut. Dia masih ingat ada kalimat yang dia tulis di secarik kertas tersebut.
Mimpi terbesarku saat ini hanya ingin berteman dengan Aleena. Cucu pertama Opa yang sangat sulit didekati bagai berlian hitam yang hanya orang tertentu yang mampu mendekati dan memiliki.
Rangga menyunggingkan senyum ketika membaca tulisan tangannya sewaktu SMP yang terbilang rapi untuk ukuran para siswa lelaki
"Sekarang mimpi itu sudah tercapai, Opa. Malah hubungan kami berdua lebih dari teman sekarang." Gumaman yang dihiasi senyuman sangat indah yang terukir dari bibir Rangga.
"Terima kasih, Opa. Sudah mengabulkan permintaan aku dan tidak melarang aku untuk berteman dengan cucu Opa. Padahal pada waktu itu kasta kita saja berbeda." Rangga masih bermonolog.
Seketika dahinya mengkerut ketika dia melihat ada tulisan tangan yang sangat asing yang berada di ujung kertas paling bawah.
"Ketika pesawat kertas ini saya kembalikan, itu tandanya kamu harus segera meraih kebahagiaan kamu yang tidak boleh ditunda."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
.Komen dong ....