
Rangga masih mematung di depan pusara Giondra. Punggung Aleena semakin tak terlihat dan bulir bening tak teras menetes di pipinya.
"Kamu gak boleh lemah."
Suara bisikan yang sudah lama tak Rangga dengar. Dia menegang dan menoleh ke arah kiri dan kanan. Namun, tak ada orang.
"Ya. Selagi kata sah belum terucap, aku akan terus mengejar dia dan mendapatkannya."
Jiwa seorang pemimpi kini hadir kembali. Aleena adalah mimpi terbesarnya yang belum bisa dia raih dan gapai. Dia sudah pernah menggenggam, tapi hanya sebatas genggaman yang kemudian lepas lagi.
Rangga yang dulu hadir lagi. Dia tahu ke mana harus mencari Aleena disisa waktu sebelum dia kembali ke Jogja. Dia menuju kediaman Giondra dan Ayanda. Namun, pihak keamanan di sana mengatakan bahwa rumah tersebut sudah lebih dari enam bulan kosong. Aleena belum mengisi rumah itu lagi.
"Lalu, di mana Aleena berada sekarang?" Tanda tanya besar bersarang di hati Rangga kali ini. Sungguh semuanya tak mudah ditebak. Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Rangga.
Lama dia mematung di depan pintu pagar hingga akhirnya dia membalikkan badan dan mulai menjauhi rumah tersebut. Di setiap langkahnya hanya ada bayang Aleena. Hingga dia berhenti dan menoleh kembali ke rumah sederhana nan asri yang tak jauh darinya.
"Hari ini aku akan pergi, tapi tidak untuk menyerah. Melainkan mengumpulkan kekuatan untukku mendapatkan wanita pujaan."
Itulah janji seorang Rangga Ardana kepada dirinya. Janji yang akan dia pegang erat dan harus dia tepati.
.
Tidak ada kata libur terbang. Rangga hanya bisa merebahkan tubuhnya di kosan yang tak jauh dari bandara. Penerbangannya sangatlah padat. Padahal dia ingin sekali ke Sydney lagi. Dia ingin bertemu dengan Aleena walaupun hanya dari jauh.
Ponselnya berdering dan panggilan dari sang ayahlah yang masuk.
"Iya, Dad."
"Lusa bisa ke Jakarta gak, Kak?"
Wajar jika Aksa bertanya seperti itu. Semenjak ayahnya mengatakan jika dirinya sudah dijodohkan dengan wanita lain, Rangga tak pernah ke Jakarta. Dia merasa kecewa kepada ayahnya. Namun, dia tetap mau menerima panggilan dari kedua orang tuanya serta dua adiknya. Dia tidak ingin karena sebuah rasa kecewa akan menghancurkan keluarga.
"Aku sibuk, Dad. Tidak ada waktu libur."
"Ada acara besar di perusahaan. Daddy ingin memperkenalkan kamu kepada mereka."
Suara penuh permohonan dapat Rangga dengar. Dia ingin menolak, tapi apakah dia harus menjadi anak durhaka hanya karena sebuah rasa kecewa? Sedangkan kebaikan ayahnya tak bisa dihitung oleh apapun.
"Gimana nanti aja ya, Dad. Aku juga gak bisa janji. Aku beneran sibuk."
"Iya, Kak. Gak apa-apa."
Rangga meletakkan ponselnya si atas tempat tidur. Dia masih terbaring di atas kasur empuk yang tak besar. Memandang langit-langit kamar berlukiskan awan biru dengan pesawat yang tengah mengudara.
"Mengudara bersama kamu sudah bisa aku rasakan. Kali ini aku ingin menjadi orang yang serakah. Aku ingin mengudara bersama kamu menuju sebuah tempat yang dinamakan rumah tangga. Aku ingin mempersunting kamu dan menjadikan kamu ratu di dalam hidup aku. Juga kamu akan menjadi ibu untuk anak-anak kita kelak."
Sebuah mimpi besar yang belum bisa Rangga gapai. Mimpi mendapatkan seorang wanita yang sudah lama dia damba. Dia memang sudah merasakan kebahagiaan bersama Aleena walaupun hanya sekejap. Akan tetapi, kali ini dia ingin menginginkan kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan yang akan dia rasakan sampai tua nanti.
.
Di dalam sebuah pesawat seorang wanita menghela napas kasar. Dia disuruh pulang ke Jakarta karena sang keponakan sudah lahir. Akan diadakan aqiqahan untuk keponakan tampannya. Ketika bayi itu lahir, dia memang tidak bisa hadir. Dia tengah fokus pada kuliah yang tengah dia jalani. Dia tengah mengerjakan skripsi. Itulah jalan ninja untuknya bisa melupakan seseorang.
Di sampingnya masih setia pria berbadan tegap yang tampan. Namun, dia hanya menganggap pria itu sebagai kakaknya. Juga sebaliknya pria itu menganggap dirinya seperti adiknya. Dialah orang yang mampu membuat traumanya sembuh. Dialah yang terus memotivasi dirinya untuk bangkit hingga dia bisa berdiri kembali. Menjadi seseorang yang baru lagi.
Lama sudah mengudara, akhirnya mereka berdua tiba di bandara Jakarta. Senyum melengkung indah di wajah sang wanita. Sudah lebih dari setengah tahun dia tidak menghirup udara kota di mana dia dibesarkan.
"Saya akan antar kamu. Setelah itu saya akan pulang ke rumah. Acel sudah menunggu saya." Axel sudah meminta ijin kepada Aleena dan anggukan kecil yang menjadi jawaban dari Aleena.
Tibanya di rumah, Aleena disambut hangat oleh sang ibu. Echa memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat. Lebih dari enam bulan wanita yang sudah berusia, tapi masih memancarkan wajah penuh pesona harus puasa bertemu dengan putri sulungnya. Ada haru di sana dan Aleena pun tak bisa membendung air mata.
"Maafkan Kakak Na, Bu."
"Enggak, Kak. Bubu yang minta maaf karena Bubu belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu."
Aleesa yang tengah berada di ruang keluarga mengusap ujung matanya. Akhirnya dia bisa melihat kakaknya kembali. Setelah dia terkejut ketika sang suami mengatakan jika Aleena hampir diperkosa oleh Kalfa. Sungguh be jat sekali lelaki tanpa kepala itu.
Selesai melepas rindu dengan sang ibu, Aleena mengurai pelukannya dan di sana sudah ada Aleesa.
"Sasa!"
Aleena berlari memeluk tubuh adiknya. Mereka berdua menangis dan itu membuat Echa menitikan air matanya kembali. Ikatan batin antara Aleena dan Aleesa sangatlah kuat. Namun, keharuan itu harus berkahir karena suara tangisan baby boy yang ada di atas kasur bayi. Aleena dan Aleesa saling pandang, sedetik kemudian mereka tertawa bersama..
"Kamu larang Mami nangis, ya." Aleesa sudah berbicara kepada sang putra yang sangat tampan. Aleena tersenyum melihat Aleesa yang kini berubah menjadi lebih dewasa.
__ADS_1
"Kakak Na, kalau mau pegang baby boy bersihin dulu tubuh kamu dan ganti pakaian."
"Iya, Bu."
Masuk ke dalam kamar yang sudah lama tak dia tempati. Masih seperti dulu. Kamar itu adalah tempat ternyaman untuknya berdiam diri. Aleena meraih sebuah figura yang berisi foto keluarga di atas nakas. Figura yang tidak ada sebelumnya. Matanya nanar ketika melihat pose dirinya dan Rangga. Mereka seperti pasangan pengantin yang saling pandang dengan penuh cinta. Aleena segera menutup figura tersebut dan tangannya refleks memegang cincin yang masih menjadi liontin kalung yang dia gunakan. Matanya pun terpejam sesaat. Hatinya masih belum bisa melupakan Rangga. Sekuat tenaga dia melupakannya, malah bayang itu semakin melekat di kepala. Apalagi senyum manis yang Rangga miliki yang menjadi candu untuknya. Namun, dia menggelengkan kepalanya pelan. Dia melihat ke arah jari manis tangan kirinya. Sebuah cincin yang masih melingkar di sana.
"Sebenarnya, siapa yang dijodohkan dengan aku?"
...***To Be Continue***...
Komen di sini, ya. Tekan paragraf ini dengan lama dan ketikkan komen kalian.
BAB 58. BAGIAN B (AQIQAH DAN ACARA BESAR PERUSAHAAN)
Aleena sangat gemas kepada baby boy yang belum diberi nama itu. Ketika ibunya ingin makan ataupun ingin ke kamar mandi Aleena lah yang akan menjaga baby boy itu.
"Kenapa kamu lucu banget sih?" Aleena sangat gemas kepada keloankannya itu. Sedari tadi baby boy itu terus dia ciumi hingga bayi itu menggeliat lucu.
"Cepat gede dong, nanti Aunty bawa ke Australi."
"Main bawa aja. Kamu kira dia anak kucing."
Suara dari ayah si baby boy terdengar. Aleena malah tersenyum melihat wajah adik iparnya seperti itu.
"Ya, gak apa-apa. Kak Restu nanti bikin lagi sama Sasa yang banyak. Jadi, semuanya kebagian."
"Deuh," decak sang adik ipar.
"Itu bukan kue nastar, Aleena." Tawa Aleena pun pecah dan membuat Aleesa yang baru saja keluar kamar mengerutkan dahi melihat sang kakak tertawa begitu lepas. Sungguh dia sangat bahagia.
Aleesa segera menghampiri suami dan kakaknya. Dia langsung merangkul manja lengan dari Restu. Aleena pun berdecak kesal jika sudah melihat pasangan di depannya itu.
"Ayo, tampan. Kita pergi dari sini! Jangan melihat adegan tak senonoh yang Papi Mami kamu lakukan."
Aleena sangat piawai menggendong baby boy dan membawa pergi keponakannya dan menjauh dari Aleesa juga Restu. Sedangkan kedua orang tua si baby boy hanya tertawa.
"Sungguh aku sangat senang melihat Kakak Na kembali seperti dulu lagi." Restu memeluk tubuh istrinya dan Aleesa pun menatapnya.
.
Rumah Radit dan Echa sudah dihias untuk acara aqiqah di baby tampan. Keluarga besar Echa dan Radit sudah datang. Tentu saja si baby boy akan menjadi rebutan. Aleena sedikit menjauh ketika melihat keluarga Aksa datang. Dia hanya menyapa mereka. Lalu, pergi menghindar.
Kalimat dari sang paman masih terngiang di kepalanya. Kalimat yang menyuruhnya untuk mundur. Sakit sekali rasanya. Padahal, dia juga sudah ada yang melamar bahkan mengikatnya dengan sebuah cincin berlapis berlian.
Aleena berani pulang karena dia tahu jika Rangga tidak bisa datang. Rangga harus terbang dan jadwalnya sekarang sangat padat. Jika, Rangga ada sudah pasti dia tidak akan pulang.
Para anak yatim piatu sudah datang. Keluarga besar pun sudah datang. Aleena masih betah di kamar. Padahal dia ingin menggendong keponakannya. Namun, karena banyak orang dia memilih untuk menyendiri di kamar.
"Kakak Na, acara sudah mau dimulai. Bersiaplah!"
"Iya, Bu."
Aleena sedari tadi sudah memakai gamis yang senada dengan keluarga besarnya. Hanya tinggal memakai kerudung pashmina untuk menutupi rambutnya. Dia turun dengan santai dan memang sudah terdengar suara ramai di halaman samping. Langkah demi langkah dia menuju tempat acara. Namun, seketika tubuhnya menegang ketika dia melihat Rangga yang baru saja datang dengan mengenakan baju Koko putih juga menggunakan kopiah berwarna hitam. Sungguh Rangga sangat tampan.
Rangga yang awalnya tak menyadari keberadaan Aleena kini mulai menghentikan langkahnya. Dia menatap Aleena yang sudah tertegun kepadanya. Mereka seakan tengah melepas rindu dengan saling tatap dalam waktu yang cukup lama.
"Kak Rangga!"
Teriakan Ghea membuat Aleena tersadar. Dia segera memalingkan wajahnya dan segera pergi ke tempat di mana acara segera dimulai. Sedangkan Rangga sudah tersenyum ke arah sang adik yang menyambutnya dengan sangat bahagia.
Ketika acara dimulai pun, Rangga dan Aleena masih saja mencuri pandang. Terlebih si baby boy Aleena yang gendong dan itu membuat Rangga semakin tidak bisa berkedip. Agha yang menyadari kakaknya sedari tadi menatap sang sepupu menyenggol lengan Rangga. Agha menatap tajam ke arah sang kakak dan hanya sebuah senyum kecil yang dia berikan.
Rangga sama sekali tidak khusyuk dalam acara aqiqahan tersebut. Matanya hanya ingin melihat Aleena dalam waktu lebih lama lagi.
Acara sudah selesai, dan sekarang waktunya acara keluarga besar. Aleena memilih untuk kembali ke kamar. Namun, Jingga mencekal tangan sang keponakan.
"Mau ke mana? Kamu itu adalah anggota keluarga bang Toyib versi cewek. Jarang pulang." Semua orang pun tertawa. Sedangkan Aleena hanya memaksa untuk tersenyum.
Tatapan Rangga membuatnya tidak nyaman. Dia takut jika dia semakin tidak bisa melupakan Rangga. Dia takut rasa cintanya tak akan hilang untuk lelaki yang masih sama seperti dulu itu.
Terpaksa Aleena mengikuti kumpul bersama keluarga besar. Banyak tawa yang tercipta di sana. Akan tetapi, Aleena masih saja terdiam dan fokus pada benda pipih yang sudah dia genggam. Baru saja menarik ulur layar ponsel, ponselnya sudah direbut oleh seseorang. Aleena pun berdecak kesal.
"Kak Iyo!"
__ADS_1
Rio tertawa dan mengusap lembut rambut Aleena. Sahabat Restu itu kini duduk di samping Aleena. Dia tak segan merangkul sepupunya tersebut.
"Mau gak jadi pacar bohongan Kak Iyo?"
Sontak Rangga menatap kedua orang di depannya. Ada rasa cemburu di hatinya. Dia tidak rela Aleena dirangkul seperti itu oleh Rio. Walaupun Rio adalah sepupunya tetap saja dia tidak ikhlas.
"Enggak," tolak Aleena dengan tegas.
"Sasa aja tuh," jawab Aleena.
"Gak mau, pawangnya ganas." Semua orang pun tertawa. Beda halnya dengan Rangga yang masih menatap dengan tatapan tak bersahabat.
Aleena menyadari tatapan Rangga tersebut, tapi dia mencoba untuk acuh dan asyik bercanda dengan kakak sepupunya. Suara baby boy menangis membuat Aleena bangkit dan menghampiri Aleesa yang tengah menggendong putranya. Nama baby boy itu adalah Erzan.
"Kenapa, tampan? Sini sama Aunty."
Aleena mengambil alih baby Er dan menggendongnya. Tangis baby Er pun reda. Itu membuat semua orang menggelengkan kepala.
"Udah cocok, Na. Kapan punya?" Sang paman mulai membercandai Aleena. Dia adalah Askara.
"Nunggu pangeran berkuda putih datang menjemput," jawab Aleena asal. Dia melirik ke arah Rangga yang menatapnya tajam. Aleena tertawa di dalam hati..
.
Keesokan paginya Aleena dikejutkan dengan permintaan sang ayah. Radit meminta Aleena untuk datang ke acara besar perusahaan.
"Kenapa dadakan sih, Ba?"
"Baba lupa." Aleena menghela napas kasar. Dia malas sebenarnya. Namun, melihat sang ayah menatapnya dengan penuh permohonan dia tidak enak dan akhirnya mengiyakan. Untung saja acara malam hari.
Aleena adalah orang yang santai. Perihal dandanan pun dia akan memakai pakaian yang simpel. Sore hari Aleena sudah disuruh sang ibu untuk memilih pakaian. Namun, Aleena masih santai dan rebahan. Dia baru saja selesai menjadi baby sitter baby Er karena kedua orang tuanya ingin jalan berdua layaknya ABG yang sedang pacaran.
"Udah sore, Kakak Na."
"Iya, Bu."
Malas sebenarnya. Namun, dia tetap beranjak dari tempat tidur. Memberilsihkan tubuhnya dan memilih pakaian untuk dia gunakan. Dress berwarna putih yang dia pilih. Aleena mulai merias wajahnya dengan riasan natural. Wajahnya yang sudah cantik tak memerlukan polesan make up berlebihan. Aleena sudah siap dengan penampilannya dan jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Aleena memilih heels untuk menunjang penampilannya. Ketika dia turun ke bawah, kedua orang tua Aleena juga sang adik menatap Aleena dengan wajah terpesona. Mereka tak berkedip hingga membuat Aleena malu sendiri.
"Kalian kenapa?" tanya Aleena. Dia melihat penampilannya dari bawah hingga bagian dada. Dia takut ada yang salah dari penampilannya.
"Kamu sangat cantik, Kakak Na."
Wajah Aleena memerah ketika dipuji oleh ibunya. Bukan hanya sang ibu, adiknya pun terpesona pada kecantikan Aleena yang sangat terpancar.
"Bener apa yang dikatakan Bubu. Kakak Na sangat cantik." Akhirnya, Aleena bisa bernapas lega.
Dia dan sang ayah pergi ke acara besar perusahaan tersebut. Echa juga ikut untuk mendampingi sang suami.
"Sebenarnya Baba tidak mau membawa kamu, tapi malah diwajibkan dalam acara besar ini." Radit menjelaskan kepada sang putri. Dia sangat tahu jika Aleena tidak suka keramaian. Dia hanya takut Aleena tidak nyaman.
"Gak apa-apa, Ba. Kakak Na juga ingin lihat bagaimana perusahaan besar itu sekarang."
Radit dan Echa tersenyum. Apa yang mereka takutkan ternyata tidak terjadi. Sungguh mereka berdua dapat bernapas lega. Tibanya di perusahaan besar, pihak keamanan menunduk hormat kepada Radit yang sudah menggandeng Echa. Dia juga menggenggam tangan sang putri dan mulai menimbulkan bisik-bisik tetangga.
"Apa itu putri Pak Radit?"
"Wah, cantik sekali."
Pujian dan kekaguman mulai terdengar. Ketika mereka bertiga memasuki ruang diadakannya acara pun semua mata tertuju pada Aleena. Mereka segera menghampiri Radit dan mulai memberi kode kepada ayah dari Aleena. Echa segera menarik tangan Aleena dan dia rangkul lengan putrinya itu.
Banyak dari kolega Radit yang terang-terangan menyukai putrinya. Juga banyak para anak dari orang penting itu mendekati Aleena. Namun, Aleena semakin erat merangkul lengan sang ibu.
"Maaf, putri saya sudah memiliki calon suami."
Sontak para rekan bisnis Radit kecewa. Begitu juga dengan para pria tampan yang tengah berusaha mendekati Aleena. Mereka mundur teratur.
"Siapa calon suaminya?" Rasa penasaran bersarang di circle pengusaha sekelas Radit.
"Rangga!"
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1