
"Aku masih sangat sayang sama kamu. Aku masih sangat cinta sama kamu. Tolong tunggu aku dan batalkan pernikahan kamu."
Air mata itu mengalir sangat deras dari pelupuk mata seorang perempuan yang baru saja tiba di depan kamar perawatan Kalfa. Hatinya sangat sakit. Ternyata lelaki itu tidak berubah. Tak mau berlama di sana dia pun segera pergi dengan wajah yang basah.
"Aku terlalu bodoh. Malah sangat bodoh."
Lelehan air mata itu tak kunjung surut. Padahal dia baru saja mendarat, dan Kalfa adalah orang yang ingin pertama kali dia temui. Namun, dia harus menelan kekecewaan yang mendalam ketika mendengar dengan begitu jelas jika lelaki itu masih mengharapkan perempuan yang sangat dia kenal.
"Berhentilah mencintai orang yang tak mencintaimu. Kamu diciptakan bukan untuk terus disakiti. Jika, kamu menyayangi diri kamu sendiri, bahagiakanlah diri kamu dengan cara tinggalkan dia. Sudah sangat jelas dia tidak menyayangi kamu apalagi ingin memperjuangkan kamu."
Masih jelas sekali nasihat yang diucapkan oleh seorang pria baik hati kepadanya. Pria yang menyuruhnya untuk memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Pria yang sama bijaknya dengan ayah kandungnya.
Perempuan itu memilih untuk tidak pulang ke rumah. Dia memilih duduk manis di taman yang sepi. Duduk di atas rerumputan di bawah pohon rindang. Menikmati kesakitan yang sangat luar biasa yang dia terima hari ini seorang diri.
__ADS_1
PIkirannya berputar ketujuh bulanan yang lalu. Di mana Kalfa masuk ke dalam jeruji besi. Dia orang pertama yang menemui Kalfa. Mendukung Kalfa dan mencoba untuk membantu Kalfa bebas dari sana. Namun, jawaban Kalfa membuatnya sakit hati bukan main.
"Kamu ingin membantuku agar aku memiliki hutang budi kepada kamu dan mau bertanggung jawab atas apa yang aku tidak ingat ketika di hotel itu 'kan."
Pada saat itu hatinya sangat hancur. Kalimat yang terucap dari mulut Kalfa sangat menusuk ulu hati. Semenjak kejadian itu dia berjanji untuk tidak ingin mengenal Kalfa lagi. Namun, hatinya yang mudah luluh membuatnya terus mengingkari janji kepada hatinya. Apalagi setiap Kalfa meminta dia datang, lelaki itu akan selalu menangis di dalam bahunya dan memintanya untuk tidak meninggalkan dirinya. Itulah yang membuat perempuan itu selalu luluh.
Kini, isakan kecil keluar dari mulutnya. Sungguh sangat sakit sekali hatinya sekarang ini. Air mata pun menetes dengan begitu deras. Kesakitan demi kesakitan yang dia terima membuayt bulir bening enggan untuk berhenti. Sungguh hatinya sangat hancur sekarang.
"Kenapa aku bisa mencintai lelaki seperti dia? Kenapa?" Suaranya bergetar dan sangat berat.
Dia berbicara sendiri dengan nada yang sangat lirih. Juga penuh penyesalan. Dia tidak akan beranjak dari sana sebelum air matanya surut. Dia tidak akan pernah berani menunjukkan wajah pilunya ke hadapan keluarga besarnya.
Ponselnya berdering, sang ayah menghubunginya. Dia hanya memandang layar ponsel itu tanpa berniat untuk menjawabnya. Nyalinya sangat ciut ketika menghadapi ayahnya. Bukan karena ayahnya galak, tapi karena dia malu belum bisa menjadi anak yang membanggakan seperti saudaranya.
__ADS_1
Suara nada dering yang cukup keras membuat orang lain yang berada di sana berdecak kesal. Telinganya merasa terganggu dengan suara bising tersebut. Dia mencoba menutup telinga, tapi tetap saja terdengar. Hingga dia merubah posisinya ternyamannya dan melihat ke bawah. Ya, pria itu tengah berada di atas pohon. Duduk di batang pohon cukup besar dan bersandar di sana, Tempat melarikan diri ketika dia berada di Ibukota ya berada di pohon itu,
"Woi! Angkat napa? Berisik!!"
Si perempuan mencari suara lelaki tersebut. Ke kiri dan kanan. Juga ke belakang.
"Gua di atas."
Mendongaklah si perempuan berwajah sembab itu ke atas. Dia maupun si lelaki itu sama-sama mengerutkan dahi.
"Si wanita bodoh lagi," ucapnya dengan wajah kesal.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...