
Trio biduan pria berada dalam satu kamar yang sama. Mereka tengah berghibah layaknya para wanita.
"Gua sih gak yakin kalau si Rangga bisa nahan napsunya." Yanuar sudah membuka pintu perghibahan.
"Gak baik juga lah pas lagi red flag dihajar. Bahaya buat kesehatan." Mirza menambahkan.
Mas Agung hanya menggelengkan kepala mendengar dua sahabatnya itu tengah menerka-nerka apa yang tengah dilakukan oleh pengantin baru.
"Mulut kalian itu gak ada rem kalau udah ngomongin kayak begituan," omel Mas Agung.
"Makanya nikah!" lanjut Mas Agung sedikit mengejek.
"Idih," balas Yanuar.
"Gak salah ngomong, Mas," cibir Mirza.
"Yang lebih tua dari kita itu Mas Agung. Harusnya Mas Agung yang nikah duluan. Eh, ini malah dilangkahin sama Rangga." Mulut Mirza akan sangat lancar jika menyangkut hal seperti ini. Sontak Mas Agung pun berdecak kesal dan itu mampu membuat Yanuar tertawa dengan begitu kerasnya.
"Adek-adek laknat lu!"
__ADS_1
.
Axel tersenyum ketika melihat foto sang ayah dan juga Kakek Aleena yang menjadi wallpaper ponselnya. Ada rasa lega di hatinya sekarang.
"Pa, Daddy Gio," ucapnya pelan.
"Aleena sudah bahagia. ALeena sudah bersanding dengan lelaki yang sudah Daddy Gio siapkan sedari Aleena masih sekolah. Jadi, tugas aku sudah selesai ya, Dad, Pa."
Di akhir kalimat nada suara Axel terdengar sangat lirih. Dia pun menghela napas sangat berat.
"Pa, aku akan kembali ke tempat di mana aku bisa sedikit melupakan rasa kehilanganku. Tapi, aku tak akan pergi sendiri ke sana. Aku akan membawa seorang perempuan yang sedang patah hati terlalu dalam karena cintanya tak terbalas. Aku ingin menyembuhkan hatinya, Pa. Aku sangat yakin, dia adalah perempuan yang baik. Hanya saja cinta yang tak terbalas membuatnya gelap mata dan melakukan hal bodoh."
"Aku tidak tahu pasti apakah aku mencintainya? Atau hanya kasihan kepadanya."
Dia menyandarkan tubuhnya di sofa panjang. Meletakkan ponselnya di dadanya. Sedangkan matanya sudah dia pejamkan.
"Tapi, rasanya kali ini sangat berbeda, Pa. Tidak seperti ketika aku mencintai Aleena."
Bayang wajah perempuan itu kini memutari kepalanya. Senyum Axel pun melengkung dengan begitu indah.
__ADS_1
"Pa, jika aku benar mencintainya ... apakah Papa dan Mama akan setuju? Apa Daddy dan Mommy tidak akan marah? Karena aku telah mencintai perempuan yang sudah menyakiti hari cucu Daddy dan Mommy."
.
Di kamar yang lain, seorang lelaki muda menatap ke arah jendela kamar hotel yang memperlihatkan gemerlap lampu jalanan. Pandangannya masih begitu sendu. Ada sakit yang masih tersisa di hatinya. Masih ada luka yang menganga yang dia sendiri tidak tahu sampai kapan akan sembuh luka yang dia derita. Luka yang tak mengeluarkan darah, tapi sakitnya tak bisa diungkapkan dengan kata.
"Ayah tahu, mengikhlaskan itu sulit." Suara sang ayah terdengar. Ya, dia sekamar dengan sang ayah.
"Sekarang, tidak ada jalan yang lain selain mengikhlaskan dan ikut bahagia atas pernikahan wanita yang kamu sayangi, tapi tak memilih kamu."
Kepala Khairan pun menoleh ke arah sang ayah. Pria yang sangat menyayanginya itu sangat tega mengucapkan hal tersebut. Seakan tengah mengejeknya.
"Ayah berkata apa adanya. Apa kamu tadi tak mendengar apa yang dikatakan oleh ayah Aleena, jujurlah walaupun jujur itu menyakitkan."
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk bisa melupakan ALeena, Yah?"
"Menikahlah!" Mata Khairan melebar mendengarnya.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...