
Sebelum pernikahan Aleena dan Rangga diselenggarkan. Mereka berdua harus berziarah ke makam elite juga ke Melbourne di mana kakek-nenek Aleena dimakamkan. Itu adalah hal lumrah dan mudah. Namun, yang tengah Aleena pikirkan bagaimana dia meminta restu kepada kedua orang tua kandung Rangga.
Aleena hanya diam saja ketika menuju pusara ellite di mana sang engkong, kakek buyut dan sang opa dimakamkan. Mereka berdua ikut di mobil Aksara karena Radit dan Echa sudah berangkat terlebih dahulu ke sana.
Usapan lembut di punggung tangan membuat Aleena menoleh. Rangga seakan tahu kesenduannya.
"Malam langsung ke Melbourne," ujar Aksa.
"Kedua adik kamu juga akan ikut." Riana menambahkan.
Jika, sudah begitu sudah dipastikan mereka akan bertolak dengan menggunakan private jet. Lebih menghemat waktu karena acara sudah sangat dekat.
Aksa menghentikan langkahnya ketika melihat sang kakak masih memeluk pusara ayahnya. Orang yang berada di belakang Aksa pun ikut menghentikan langkah mereka.
"Ke pusara Opa Addhitama aja dulu, ya."
Aksa sangat tahu bagaimana perasaan kakaknya saat ini. Terpukul, sakit, sedih jadi satu. Namun, dia belum bisa masuk ke sana karena dia sangat tahu bagaimana watak sang kakak.
Setelah selesai ziarah ke makam kakek dan kakek buyut Aleena, mereka kembali ke rumah. Tibanya di rumah, langkah Aleena terhenti ketika ada Khairan di sana. Tatapan Khairan membuat Aleena sedikit memundurkan langkahnya. Namun, Rangga segera menggenggam tangan Aleena hingga sebuah perlindungan mampu Aleena rasakan.
"Ada Mas." Aleena mengangguk dan tangannya membalas genggaman erat tangan Rangga.
"Om," sapa Khairan kepada Radit. Dia juga mencium tangan Radit dengan begitu sopan.
"Ayah kamu mana?"
__ADS_1
"Lagi main sama keponakan Aleena." Khairan melirik ke arah Aleena setelah dia menyebut nama Aleena.
"Itu menandakan jika ayah kamu sudah ingin menimang cucu." Khairan hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Om, aku sama Aleena ke dalam dulu, ya." Radit mengangguk.
Ada rasa sakit dan perih ketika melihat Aleena dengan eratnya menggenggam tangan Rangga. Apakah dia harus membayangkan jika yang tengah digenggam oleh Aleena adalah tangannya?
"Onty Mam ... O-pap!"
Abang Er yang tengah bermain bersama Khrisna segera berlari menuju Aleena dan Rangga. Batita itu ingin digendong oleh calon pengantin m. Namun, Aleesa melarang.
"Tunggu Onty dan Om ganti baju dulu, ya." Langkah Abang Er pun terhenti. Dia menatap ke arah sang ibu yang tengah duduk di samping sang adik.
"Onty dan Om ganti baju dulu, ya." Abang Er mengangguk.
Khrisna yang melihat kedekatan anak dari Aleesa dengan Aleena dan Rangga hanya menggelengkan kepala.
"Bisa dititip ke Aleena tuh si Abang Er." Aleesa hanya tertawa.
"Setiap hari dia main sama Kakak Na. Gak mau lepas dari om dan tantenya."
Beda halnya dengan Khairan yang masih menatap ke arah Rangga dan Aleena yang mulai menaiki anak tangga. Senyum bahagia selalu Aleena tunjukkan dan itu membuat hati Khairan sakit.
"Kak, baju kamu udah ada di lemari Nana," teriak sang ibu. Rangga dan Aleena menoleh ke arah Riana.
__ADS_1
"Sebagian sudah Mommy pindahkan." Rangga mengangguk seraya tersenyum.
Khairan menghela napas kasar untuk kesekian kali. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya semakin sakit. Anak Aleesa pun enggan dekat dengan Khairan. Sedari tadi tatapannya sangat tajam.
"Main sama Om Khai.
"No!"
Khrisna tertawa mendengar jawaban batita tersebut. Sedangkan Khairan membalas tatapan tajam dari Abang Er.
"Ateu!"
Mendengar Abang Er memangil seseorang, Khairan yang tengah menatap Abang Er memalingkan pandangannya ke arah pandangan Abang Er.
Langkah perempuan yang memakai pakaian santai dengan rambut dicepol tanpa menggunakan make up dan memperlihatkan bare face-nya pun menoleh. Matanya dan mata Khairan terkunci.
"BO-DOH!" Mulut Khairan berkomat-kamit.
...***To Be Continued***...
Komen dong ....
__ADS_1