MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
31. Risih


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuat Rangga yang tengah fokus pada pesawat kertas yang dia pegang menoleh. Dia melihat sang ayah tersenyum ke arahnya.


"Baru sampai?"


Rangga mengangguk. Dia juga melihat sang ayah masih memakai pakaian formal dan dipastikan baru pulang dari kantor. Aksa duduk di kursi yang ada di belakang meja. Itu membuat Rangga menatap ayahnya dengan bingung. Tidak biasanya dia seperti ini.


"Kalau Daddy tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan, apa kamu akan kecewa kepada Daddy?"


Rangga mengerutkan dahi ketika mendengar pertanyaan sang ayah yang dia anggap aneh. Sedangkan Aksa menatap ke arah Rangga dengan tatapan sendu.


"Daddy tidak perlu repot untuk memberikan apa yang aku inginkan karena aku bisa meraih sendiri apa yang aku inginkan."


Rangga berkata dengan begitu percaya diri dan selalu bersikap tenang. Senyum pun terukir di wajahnya. Dia tidak biasa untuk meminta bantuan kepada ayahnya karena dia tahu status dirinya siapa.


"Jangan pikirkan perihal aku, Dad. Aku masih bisa melakukannya sendiri." Senyum begitu tulus terukir di wajah Rangga.


"Selagi aku tak mengeluh, jangan pernah melakukan apapun untukku."

__ADS_1


Inilah yang membuat Aksa merasa tidak berguna untuk Rangga karena Rangga selalu melakukan apapun sendiri. Namun, di lubuk hatinya terdalam dia juga merasa bangga karena Rangga adalah anak yang hebat. Tidak memanfaatkan orang tuanya.


.


"Na, aku mohon di sini dulu."


Khairan masih membujuk Aleena yang sudah merapihkan pakaiannya. Aleena jika sudah kecewa dengan seseorang pasti dia akan diam. Khairan yang merasa tidak enak didiamkan oleh Aleena segera bersimpuh di depan Aleena dan memeluk kaki Aleena.


"Maafkan aku, Na."


Terdengar hembusan napas kasar. Aleena risih Khairan memeluk kakinya. Untung saja dia memakai celana panjang.


Suara Aleena mulai terdengar. Namun, Khairan malah semakin mengeratkan pelukannya dan itu membuat Aleena semakin risih.


"Lepas!"


Aleena mendorong tubuh Khairan agar melepaskan kakinya. Khairan pun terjengkang dan Aleena menatap tajam.

__ADS_1


"Kamu tahu bagaimana aku 'kan. Dari sikap aku saja kamu harusnya bisa menyimpulkan. Jangan buat aku semakin membenci kamu!"


Marahnya seorang pendiam pasti tidak akan pernah bisa dikendalikan ketika dia sudah lelah untuk bersabar. Wajah Aleena sudah merah padam sekarang.


"Kamu tidak perlu mencintai wanita bodoh dan go blok seperti aku. Masih banyak wanita pintar dan cantik di luaran sana," tekannya.


Kalimat itulah yang membuat Aleena merasa tersinggung dan sakit hati. Bukannya dia tidak sadar diri. Dia tahu dia memang bodoh, tapi perkataan itu keluar dari mulut orang yang dia anggap teman.


"Maafkan aku atas perkataan aku itu, Na. Aku--"


"Aku sudah memaafkan, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan. Kalimat itu begitu menusuk ke dalam hati. Masih berbekas hingga saat ini."


Khairan tidak bisa berkata lagi. Dia membeku dengan sorot mata penuh penyesalan. Aleena meraih ponselnya di atas tempat tidur dan meninggalkan Khairan yang masih berada di kamarnya.


Ponselnya berdering dan Aleena pun tersenyum manis begitu juga dengan orang yang menghubunginya. Khairan yang hendak mengejar Aleena menghentikan langkahnya ketika melihat senyum yang begitu merekah di wajah Aleena. Akhirnya, dia melangkahkan kaki dengan begitu lebar. Menarik tangan Aleena dan mencium bibir Aleena dengan paksa. Tangan Aleena masih memegang ponsel yang mengarah kepadanya dan juga Khairan. Aleena benar-benar terkejut dan langsung mendorong tubuh Khairan.


"Kamu apakan putri saya?"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2