
Skenario sudah disiapkan. Gerak-gerik Kalfa sudah sangat terbaca karena mereka semua adalah orang berkompeten di bidang seperti ini. Apalagi Axel menurunkan mantan bodyguard luar negeri yang tentunya tidak diragukan keahliannya. Sniper dadakan, tapi mampu menembak tepat sasaran. Tidak meleset sama sekali. Sungguh luar biasa
Seorang pria berbaju hitam dengan menggunakan kacamata hitam sudah tiba di salah satu gedung tinggi yang berada di seberang hotel. Dia langsung naik ke lantai paling atas. Dia disambut oleh orang-orang berbaju hitam yang sudah berada di sana. Mereka menunduk sangat sopan ke arah pria tersebut.
Sniper yang sudah siap di sana pria itu singkirkan. Tidak ada yang bisa menolak jika dia sudah bertindak. Mereka mengikuti semua yang sudah pria itu rombak. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya.
Sniper itupun mulai mengecek Senjata yang akan dia gunakan. Dia mulai mengarahkan senjata tersebut ke hotel seberang gedung yang dia pijaki. Di mana target sasarannya berada.
Skenario sedang dijelaskan. Namun, pria itu sama sekali tak mendengarkan. Malah terus memperhatikan titik sasaran. Semua orang pun terkejut ketika kaca salah satu kamar hotel pecah karena pria itu sudah menarik pelatuk tersebut. Mereka semua panik dan langsung melihat apa yang tejadi di salah satu kamar hotel tersebut.
Mereka yang ada di sana saling pandang. Sedangkan pria itu hanya tetap fokus. Hingga terdengar suara tembakan yang kedua.
"Suruh mereka tunggu di depan kamar hotel."
Perintah dari si sniper yang membuat mereka mengangguk kompak. Pantas saja pria itu disebut sangat membahayakan. Cara kerjanya bagai kilat. Instingnya sangat kuat.
.
Dor!
Suara tembakan terdengar lagi. Aleena yang sedang berlari pun berhenti. Terdengar suara erangan keras dari belakangnya. Dadanya kembali berdegup hebat.
"Aarggh!!"
Ya, Kalfa ditembak lagi untuk kedua kalinya di bagian punggung. Aleena melihat ke arah jendela yang sudah pecah dan di gedung seberang ada orang berbaju hitam memakai topi hitam juga. Kecil memang, tapi itu mampu dia lihat. Aleena tidak peduli siapa orang itu. Ini kesempatannya untuk melarikan diri. Ketika dia membuka pintu, air matanya meleleh ketika melihat seorang pria berbadan tegap di hadapannya. Pria itupun segera memeluk tubuh Aleena.
Tangis yang begitu lirih terdengar. Pria itupun terlihat sangat sedih. Baru merasakan kebahagiaan sedikit kini sudah dihadapkan dengan kenyataan yang pahit.
"Takut, Ba! Takut!"
Kelima orang berbadan tegap dengan wajah sangar sudah membawa Kalfa yang bersimbah darah keluar dari kamar hotel. Aleena tidak ingin melihat lelaki itu. Lelaki yang sangat be jat dan ba jingan. Lelaki yang tak memiliki hati dan hanya memiliki nafsu besar.
"Ceburkan saja lelaki biadab itu ke penangkaran buaya."
Suara seorang pria yang baru datang terdengar. Aleena menoleh dan ternyata adik iparnya ada di sana.
"Kak Restu--"
.
Axel kini memperhatikan ayah angkat dari Rangga. Aksa tengah berbicara serius dengan dokter. Wajah Aksa sedari tadi sangat datar dan serius. Ada gurat kecemasan yang Axel lihat. Dia tahu Rangga memang bukan anak kandung dari Aksa, tapi kasih sayang Aksa sangat tulus kepada Rangga.
Memanfaatkan Rangga demi warisan Aleena itu tidak akan pernah Aksa lakukan. Itulah alasan kenapa Axel menolak keras ajakan kerja sama bodoh Jihan. Dia yang tahu bagaimana keluarga dari Giondra. Ketika mereka menarik seseorang masuk ke dalam keluarganya di situlah mereka akan menyayanginya dan memperlakukan mereka seperti keluarga mereka sendiri.
"Jika, tidak ada perubahan juga, putra saya akan saya bawa pengobatan ke luar negeri."
Apapun akan Aksa lakukan untuk putranya. Sekalipun Rangga bukan anak kandungnya, tapi dia tidak pernah membeda-bedakan. Dia akan memasang badan untuk ketiga anaknya. Sungguh dia tidak ingin kehilangan Rangga. Aksa kembali duduk di samping Axel.
"Yang di hotel sudah berhasil."
"Percuma laporan juga jika tidak dibunuh."
Aksa sangat marah dan murka. Keinginan dia sniper yang bertugas harus membunuh Kalfa. Dia sangat tidak ikhlas karena sang putra dibuat seperti ini. Namun, Axel maupun sniper menolak.
"Konsekuensinya terlalu besar, Kak."
"Tapi, jika anak saya kenapa-kenapa. Saya akan memakai rumus Nyawa bayar nyawa." Amarah masih memuncak di hati Aksa. Ayah mana yang tidak akan marah ketika anaknya dicelakai dengan sengaja oleh orang lain.
Axel hanya mengangguk. Dia tahu bagaimana Aksa jika sudah marah dan bertindak. Jangankan anak ingusan, orang yang lebih tua darinya pun akan dia perlakukan seperti nyamuk. Sekali ditepuk, mati.
Suara langkah terdengar. Aksa dan Axel menoleh. Pria berbaju hitam datang lagi ke sana. Wajahnya snagat tenang seperti tidak tejadi apa-apa.
"Dua peluru sudah bersarang di punggungnya. Sama seperti luka yang Rangga derita." Aksa pun tersenyum. Tanpa ditanya pun Restu tahu apa yang harus dia laporkan kepada sang paman. Keponakan Aksa yang satu itu dapat diandalkan.
"Bagaimana dengan Aleena?" Axel mengkhawatirkan kakak ipar dari Restu.
"Dia masih syok. Baba sedang menenangkannya."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Aksa mulai penasaran. Dia sangat yakin jika Restu dan Axel menyembunyikan sesuatu kepadanya. Dua teman semasa di bangku sekolah itu tidak menjelaskan secara rinci.
"Si be jat itu ingin menodai Aleena." Aksa terkejut mendengarnya
"Ba jingan" Aksa semakin murka. Urat kemarahannya pun sudah muncul.
"Apa dia sudah menyentuh Aleena?" Amarah dan emosinya sudah tak bisa dia tahan.
Restu menggeleng dengan cepat. Dia menatap ke arah sang paman dengan penuh keseriusan.
__ADS_1
"Selangkah dia bergerak, peluru masuk ke punggungnya."
"Jadi, dia dua kali melakukan itu?"
"Tidak! Ketika Aleena hendak kabur dia masih mencoba mengejar Aleena membawa pisau. Satu peluru lagi diarahkan hingga dia tidak bisa bergerak." Aksa pun tersenyum puas mendengarnya.
Ya, sniper handal itu adalah Restu. Dia piawai dalam hal menembak. Langsung tepat ke sasaran dan menyebabkan Kalfa terluka cukup parah di bagian punggungnya. Dia juga tidak peduli anak dari pria yang sama be jatnya itu selamat atau tidak. Dia hanya ingin membantu keluarga.
"Kenapa tidak kamu buat mati dia?"
"Maaf, Uncle. Aku tidak ingin istriku menjadi janda karena jika aku masuk bui sudah pasti aku akan dibuang oleh kalian."
Axel menahan tawa mendengar jawaban dari Restu. Sungguh konyol dan itu mampu membuat Aksa berdecak kesal.
...***Komen di sini, ya.***...
Tekan paragraf ini cukup lama sebelum baca bab selanjutnya di bawah, terus ketikkan komen kalian. Makasih ...
Bab 58. Bagian B (Kasih Sayang Tulus Seorang Ayah)
Di lain tempat Echa masih terus berdoa dengan wajah yang sangat mencemaskan putri pertamanya. Dia dipeluk oleh Aleesa. Sebagai seorang ibu Echa pasti sangat sedih. Sampai saat ini dia belum mendapat kabar dari suaminya.
"Sa, apa Restu sudah menghubungi kamu?" Aleesa pun menggeleng.
Sebenarnya Aleesa tidak ingin bercerita perihal sang kakak kepada kedua orang tuanya. Dia sangat yakin jika sang paman, suaminya dan juga Axel bisa membereskan semuanya. Namun, Aska yang mengetahui perihal ini memberitahukannya kepada sang ayah.
"Ini masalah besar. Baba kamu harus tahu."
"Bubu yang tenang, ya. Kakak Sa yakin Kakak Na baik-baik saja."
Di kediaman yang berbeda, Riana sedari tadi hanya duduk terdiam ditemani Ghea. Putri bungsu Aksa dan Riana pun terlihat sangat sedih. Pasalnya, belum lama ini Aksa mengirimkan video bahwa Rangga belum sadar. Kondisi Rangga sangat memperihatinkan dan itu membuat hati Riana sangat sakit. Kondisi ini lebih parah dari sakit Rangga sebelumnya.
"My, kalau Kaka Rangga udah sadar kita ke Jogja, ya." Riana hanya bisa menjawab dengan anggukan.
Riana sangat mengutuk perbuatan orang yang sudah membuat putranya tak berdaya seperti itu. Riana belum tahu siapa pelakunya karena sang suami tidak memberitahu itu. Sama halnya dengan Echa yang tidak tau siapa dalangnya dari penculikan Aleena juga penusukan Rangga.
.
Aleena masih sangat syok. Tubuhnya masih bergetar. Dia masih ketakutan. Sang ayah terus memeluknya.
"Harusnya Baba tak mengijinkan kamu pergi."
Bulir bening menetes lagu di pelupuk matanya. Dia tak sanggup melanjutkan ucapannya. Radit sangat merasakan bahwa Aleena tengah mencemaskan kekasihnya.
"Rangga masih belum sadar." Air mata itu semakin dera mengalir.
"Baba sudah menghubungi dokter terbaik di sini untuk menangani Rangga."
Satu hal yang Radit takutkan. Trauma Aleena akan kambuh lagi dan itu akan mengganggu psikisnya lagi. Trauma kedua itu akan menghancurkan kepercayaan diri Aleena. Semakin sulit untuk sembuh.
"Ini semua salah Kakak Na, Ba. Jika, Rangga tidak bersama Kakak Na, dia tidak akan terluka seperti ini. Dia akan baik:baik saja. Kakak Na emang pembawa sial untuk kalian yang dekat dengan Kakak Na."
"Jangan bilang seperti itu," larang sang ayah.
"Tidak ada yang menginginkan hal seperti ini, Kakak Na. Ini adalah musibah."
Alena tak menjawab. Tangannya masih memeluk erat pinggang sang ayah. Terkadang Radit bertanya kepada Tuhan kenapa Tuhan selalu memberikan cobaan yang berat untuknya melalu anak-anaknya? Apa dia durhaka kepada ayahnya? Jika, Radit tidak bisa mengontrol emosi dan hatinya sudah dipastikan kondisinya akan drop. Jika, sudah seperti ini yang biasa dia lakukan pergi ke makam sang ibu dan bercerita di sana untuk meluluhkan kesedihannya juga beban yang ada di hatinya.
"Maafkan Kakak Na kalau selama ini Kakak Na selalu menyusahkan Baba dan Bubu. Maafkan Kakak Na yang selalu membuat Baba dan Bubu sedih." Suara Aleena sudah sangat berat.
Radit mengendurkan pelukannya dan menatap dalam wajah sang putri. Dia mengusap lembut air mata yang membanjiri pipinya. Wajah Aleena sudah sangat sembab. Matanya pun memerah. Sudah terlalu banyak air mata yang dia keluarkan
"Tidak ada satupun anak Baba yang menyusahkan Baba. Kalian adalah anak-anak Baba yang luar biasa. Anugerah Tuhan yang sangat membahagiakan untuk Baba. Baba akan sedih jika kalian berkata seperti itu."
Radit berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mencoba untuk tersenyum ke arah Aleena.
"Jangan pernah meminta maaf. Seharusnya Baba yang meminta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu dan kedua adik kamu." Mereka pun menangis bersama. Air mata Radit tak bisa terbendung. Berkali-kali dia meminta maaf kepada sang putri.
Restu yang hendak berpamitan kepada sang ayah mertua mengurungkan niatnya. Hatinya mencelos melihat ayah mertuanya dan Aleena yang tengah berpelukan dengan menangis bersama.
"Betapa tulusnya kasih sayang Baba kepada anak-anaknya. Rela menahan sakit, sedih, kecewa seorang diri. Selalu berpura-pura baik-baik saja padahal Baba sendiri terluka."
Sesama lelaki dia pasti bisa merasakan dan melihat bagaimana seorang Raditya Aditama menahan semua sedihnya, memendam sendiri rasa kecewanya. Tidak ada seorang ayah yang baik-baik saja ketika mengetahui putrinya tidak baik-baik saja.
Ada pelajaran yang berharga yang dapat Restu petik dari sikap sang ayah mertua. Dia berjanji pada dirinya jika ketika dia menjadi seorang ayah. Dia akan menjaga anak-anaknya dan juga menyayangi mereka dengan tulus.
.
__ADS_1
Di rumah sakit, Rangga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Namun, masih belum sadar. Aksa masih setia menunggu. Begitu juga dengan istri dan kedua anaknya yang sengaja menghubungi Aksa melalui sambungan video agar bisa melihat kondisi terkini dari Rangga.
"Dad, Kakak akan bangun 'kan."
Ghea, dia sudah bertanya. Wajahnya nampak sekali khawatir. Sedangkan sang ibu memandang Rangga dengan wajah yang sangat datar. Gurat sedihnya sangat terlihat dengan jelas. Sorot matanya pun terlihat memendam kesedihan yang mendalam. Itu membuat Aksa tidak tega ketika melihat istrinya
Agha, dia terus menatap ke arah sang kakak tanpa suara. Di dalam hatinya dia terus merapalkan doa untuk kesadaran kakak laki-laki yang sangat dia sayangi.
"Kak, bangun."
Kalimat yang diucapkan Agha membuat air mata Riana terjatuh. Dia merasakan jikalau kedua anak kandungnya pun sangat terpukul atas kejadian ini. Bukan hanya dirinya. Juga sang suami yang merasakan hal sama. Mereka sangat sedih melihat Rangga seperti ini
Axel, dia masih setia berada mendampingi Aksa. Dia sengaja tidak menemui Aleena karena Aleena butuh ketenangan. Butuh kesendirian untuk memulihkan semuanya. Walaupun dia dekat dengan Aleena, Aleena masih sulit untuk terbuka kepadanya. Apalagi perihal hal seperti ini. Sudah dipastikan dia tidak akan mau membuka suara.
"Kak, apa kamu mendengar ucapan adik kamu itu? Bangun, Kak. Daddy, Mommy dan kedua adik kamu menunggu kamu membuka mata. Kami rindu senyum kamu, Kak."
Bentuk sebuah kesedihan yang tengah melanda hati seorang Aksara. Dia tidak menangis, tapi perkataannya sangatlah lirih. rasa sedihnya mampu Axel rasakan. Rangga masih bergeming. Terdengar hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aksa.
"A-lee-na."
Mata Aksa melebar ketika mendengar suara sang putra. Dia segera melihat ke arah Rangga yang sudah menunjukkan pergerakan tangan sedikit demi sedikit. Axel segera menekan tombol emergency untuk memanggil dokter.
Aksa dan Axel menjauh sejenak. Di dalam hati seorang Aksara terus mengumandangkan doa untuk putranya. Dokter keluar dan tersenyum.
"Pasien sudah sadar, tapi masih dalam pengaruh obat bius." Senyum kebahagiaan melengkung di bibir Aksa.
Sang ayah sudah mendekat ke arah Rangga yang terbaring dengan posisi miring. Dia tersenyum dan dibalas senyuman oleh sang putra.
"Daddy sangat bahagia."
"Maafkan aku, Dad." Aksa menggeleng. Dia mengusap lembut kepala Rangga.
"Jangan bahas apapun dulu. Kita fokus pada kesembuhan kamu ya, Kak." Rangga ingin menangis mendengarnya.
"Mommy dan kedua adik kamu sangat mengkhawatirkan kamu. Mereka ingin kita berkumpul dalam formasi lengkap. Sembuh, ya." Rangga pun mengangguk.
Rangga melihat ke arah Axel yang berdiri di belakang sang ayah. Axel hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Axel sangat tahu apa yang Rangga tanyakan kepadanya. Dia juga tidak akan membahas perihal penculikan Aleena. Dokter sudah mau wanti-wanti jika Rangga tidak boleh menerima info berat untuk beberapa hari ke depan.
Riana, Agha dan juga Ghea sangat bahagia ketika mendengar jika Rangga sudah sadar. Mereka ingin segera terbang ke Jogja. Namun, Aksa melarang. Dia tidak ingin Rangga diganggu pasca operasi. Dia juga tidak ingin Rangga dicecar bertubi pertanyaan oleh mereka bertiga atas apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Tapi, Dad--"
"Ketika kondisi putra kita sudah delapan puluh persen pulih barulah Mommy dan anak-anak ke sini. Biarkan Daddy yang di sini jaga Rangga."
Sesuai dengan perkataannya, Aksa menjaga Rangga dengan sangat baik. Dia sudah menyuruh Axel.untukbpulang, tapi anak dari sahabat mendiang sang ayah tidak mau.
"Saya akan tetap di sini, Kak. Jika, Kakak membutuhkan apapun bilanglah kepada saya. Saya akan membantu Kakak."
"Kenapa kamu sangat keras kepala?" Aksa berkata dengan sedikit keras.
"Karena Papa saya pernah bilang, ketika keluarga dari Daddy Gio sedang mengalami kesusahan tetaplah berada di samping mereka jangan tinggalkan mereka. Bantu aku lengkap dengan sepenuh hati dan semampu yang kamu bisa."
Aksa terdiam mendengar kalimat jawaban yang diutarakan oleh Axel. Dia menatap manik mata Axel yang penuh dengan kejujuran dan juga ketulusan.
"Papa juga bilang jika keluarga dari Daddy Gio adalah keluarga saya. Jadi, saya tidak diperkenankan untuk meninggalkan keluarga Daddy Gio ketika mereka tengah dilanda kesedihan dan kesusahan. Saya juga diharuskan untuk legowo jika apa yang saya lakukan tidak dianggap oleh kelautan Daddy Gio karena saya hanya perlu berharap balasan dari Tuhan."
Aksa tersenyum mendengarnya. Dia menepuk pundak Axel dengan sangat bangga. Axel melihat tangan Aksa yang ada di pundaknya.
"Kamu adalah adik aku." Axel tersenyum dan Aksa pun memeluk tubuh Axel.
"Makasih, Kak. Sudah menganggap saya sebagai adik Kakak."
.
Ketika tengah malam tiba. Aksa mendatangi sebuah rumah sakit di mana Kalfa dirawat sana. Dua peluru masuk ke dalam punggungnya. Aksa disambut baik oleh polisi yang berjaga di sana.
"Orang tuanya sedang dalam perjalanan."
Aksa hanya tersenyum tipis mendengar laporan polisi tersebut.
"Saya akan menunggu orang tuanya." Polisi itupun mengangguk.
"Bagaimana dengan tersangka?"
"Sudah diambil tindakan. Tinggal menunggu dia sadar."
"KENAPA KAMU TIDAK MATI SAJA, KALFA?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen lagi di sini ya ...