MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
32. No Backstreet


__ADS_3

Aleena begitu nyenyak tertidur di bahu Rangga. Setelah tiga jam mengudara, dia membuka mata dan Rangga sudah menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis. Tidak Aleena sangka ternyata Rangga mencium keningnya dengan begitu dalam.


"Mas, banyak orang," bisik Aleena.


Rangga malah tertawa dan itu membuat Aleena mengerutkan dahi. Aleena membenarkan duduknya dan melihat ke samping kanannya dan tidak ada siapa-siapa di sana. Aleena merasa tidak percaya dan menoleh kembali ke arah sang kekasih.


"Pesawat ini hanya diisi Mas, kamu dan Bang Axel." Terkejut sekali Aleena mendengarnya.


"Semua tiket ke Sydney untuk maskapai ini sudah Mas beli semua."


Walaupun tidak sedarah dengan Aksa, tapi sikap Rangga sama seperti sang ayah yang rela menyewa satu pesawat. Namun, ini lain cerita. Tiket pesawat Jepang-Sydney tidak murah, dan itu murni mengeluarkan uang pribadi Rangga.


"Mas, jangan buang-buang uang hanya untuk aku."


Aleena merasa tidak enak hati kepada Rangga. Dia merasa bersalah karena sudah pasti tabungan dari Rangga habis hanya untuk membeli semua tiket pesawat.


"Apapun akan Mas lakukan untuk kamu, Sayang."


Mendengar ketulusan dari ucapan Rangga membuat mata Aleena berair. Rangga menarik tangan Aleena dan mendekapnya dengan begitu erat.


"Jangan nangis, Sayang. Mas, gak suka lihatnya."


"Mas yang buat aku nangis."


Rangga malah tertawa mendengar balasan dari Aleena. Dia semakin gemas kepada kekasihnya tersebut. Sedangkan di kursi belakang mereka seorang pria tersenyum dengan begitu lebar.


"Daddy Gio, lihatlah cucu Daddy hanya menangis sebentar dan sekarang sudah ceria lagi. Jika, Daddy Gio melihatnya pasti Daddy sangat bahagia karena Aleena sudah tak selemah dulu."


.


Ketika transit, Aleena baru tersadar jika di antara dirinya dan Rangga ada Axel. Tangan yang sedang Rangga genggam Aleena lepaskan begitu saja. Itu membuat Rangga mengkerutkan dahi.


Aleena memberikan kode dengan ujung matanya. Di mana Axel berada di samping Aleena. Bukannya takut, Rangga malah merengkuh pinggang Aleena hingga mata Aleena melebar dengan begitu sempurna.


"Bang Axel sudah tahu," bisik Rangga.


Aleena segera melihat ke arah Axel yang bersikap santai ketika pinggangnya direngkuh oleh Rangga. Biasanya Axel yang sangat posesif dan tidak akan pernah membiarkan dirinya disentuh oleh lelaki manapun.


"Ketika saya diam berarti saya sudah memberi ijin."


Axel berkata dengan kaki yang terus melangkah. Senyum pun melengkung dengan sempurna di wajah Rangga. Aleena bisa bernapas lega.


"No backstreet selama di Sydney."


Melihat betapa tulusnya Rangga kepada Aleena membuat Axel ikut merasakan bahagia. Tidak ada rasa cemburu, tidak ada rasa marah. Dia menyadari jika memang ada lelaki lain yang lebih mencintai dan menyayangi Aleena.

__ADS_1


Impian Rangga untuk mengudara bersama Aleena akhirnya terwujud. Namun, sekarang dia menjadi manusia yang tidak puas hanya dengan pencapaian tersebut. Dia ingin mengikat Aleena. Dia ingin terus bersama Aleena.


Tibanya di Sydney, tangan Rangga masih bertaut dengan tangan Aleena. Terlihat jelas wajah lelah Aleena dan juga Rangga ketika hendak keluar bandara.


"Kamu harus istirahat, Na." Axel yang sudah membuka pintu mobil yang menjemput mereka mulai membuka suara.


"Saya tidak ingin Tuan Radit semakin khawatir jika kamu sakit." Aleena akan menurut pada perkataan Axel.


Melihat interaksi antara Aleena dan Axel membuat Rangga harus selalu berpikiran positif. Dia memang tahu jika Axel pernah menyukai Aleena. Namun, melihat sikap Axel yang selalu bersikap welcome kepada dirinya membuat dia harus membuang pikiran buruk tentang Axel.


Aleena menatap Rangga yang sedari tadi terdiam. Tangannya semakin dieratkan pada tangan Rangga hingga Rangga menatap dirinya. Gelengan kecil Aleena berikan dan senyum pun menjadi jawaban dari Rangga dengan kepala yang mengangguk kecil.


Di kediaman sang pipo dan mimo, orang yang berjaga di sana menatap bingung ke arah Axel ketika melihat Aleena digandeng oleh seorang pria yang baru sekali mereka lihat. Axel meletakkan jari telunjuk ke arah bibirnya. Seketika para penjaga itu mengangguk patuh.


Namun, Aleena dikejutkan dengan kehadiran Acel. Adik dari Axel yang menyukai Rangga.


"Sayang," panggil Rangga. Aleena memasang wajah tidak suka.


"Kenapa?" Begitu lembut ucapan Rangga.


Baru saja Aleena hendak menjawab, Acel sudah menghampiri Aleena dan juga Rangga. Senyum Axel begitu mengembang.


"Tampan!"


Rangga segera menunjukkan tangannya yang tengah menggenggam tangan Aleena. Seketika Acel melihat ke arah Aleena yang sedari tadi memasang wajah cemberut.


Sang kakak berteriak. Sontak Acel terkejut dan melihat ke arah sang kakak yang sudah berdiri di depan anak tangga.


"Mereka sudah menjadi pasangan."


Setelah mengatakan itu Axel melangkahkan kaki menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Acel benar-benar terkejut. Dia menatap ke arah Aleena meminta penjelasan.


"Ayo, Mas. Aku capek."


Acel semakin menganga mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aleena. Apalagi tangan mereka berdua sama sekali tidak terlepas.


"Apa gua salah dengar?"


.


Axel sedang menikmati secangkir kopi di dapur. Rangga yang baru saja keluar dari kamar tamu ikut bergabung bersama Axel.


"Makasih ya, Bang."


Axel menoleh ke arah sampingnya si mana Rangga sudah menarik kursi untuk dia duduki. Axel yang sudah menyesap kopinya mulai menaruh cangkir kopi tersebut ke atas meja.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Sudah menjaga Aleena dengan sangat baik."


Axel hanya tersenyum mendengar ucapan dari Rangga. Tangannya mulai menggenggam cangkir kopi yang berada di atas meja.


"Itu memang tugas saya," jawab Axel santai.


"Tapi, Bang Axel rela menyudahi perasaan Bang Axel," balas Rangga yang kini sudah menatap Axel.


"Jangan pikirkan perihal itu. Masalah perasaan saya mah tak penting, yang paling penting itu adalah kebahagiaan Aleena."


Rangga masih menatap ke arah Axel yang masih menggenggam cangkir kopi yang ada di depannya.


"Ayah saya pun rela mengesampingkan perasaannya demi untuk melihat Daddy Gio bahagia. Itu juga yang harus saya lakukan kepada Aleena."


Axel menghela napas kasar. Dia mulai menatap Rangga yang juga tengah menatapnya.


"Saya harap, kamu tidak cemburu kepada saya jika saya perhatian dan menjaga Aleena lebih dari kamu karena saya ditugaskan menjaga Aleena hingga dia menemukan lelaki yang akan membahagiakannya."


"Apa aku bisa membahagiakannya, Bang?" Pertanyaan spontan keluar dari mulut Rangga. Tawalah yang menjadi jawaban dari Axel.


"Jika, kamu siap menghadap Tuan Radit itu tandanya kamu sudah siap membahagiakan Aleena."


.


Aksa yang mendengar jika lamaran sahabat Abang iparnya ditolak oleh Radit sudah bersorak gembira.


"Kudu Gercep nih."


Terlihat jelas dia sangat berantusias akan hal tersebut. Itu membuat Aska yang sedang berada di ruangan Aksa berdecak kesal.


"Gua yakin nih ada udang di balik bakwan."


"Batu, Bo-doh!" sergah Aksa.


"Enggak lu, enggak Kak Rindra sama-sama gak mau rugi. Warisan Aleesa dan Aleena gak ke mana-mana. Masih muter aja di keluarga besar." Aksa malah tertawa mendengar ocehan dari Aska.


Pintu ruangan terbuka, dan Radit mengerutkan dahi ketika melihat kedua adik iparnya ada di ruangan itu.


"Bandit, lu mau mahar apa dari anak gua?" Radit bingung ketika Aksa tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Apartment? Villa? Atau rumah di kawasan rumah lu? Terus duitnya mau pake mata uang apa? Rupiah? Dollar Singapur? Atau US dollar?"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2