MENGUDARA With You

MENGUDARA With You
33. Bagaimana Tak Semakin Cinta


__ADS_3

Rangga masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Axel. Berani menemui ayah dari Aleena itu tandanya dia sudah siap untuk membahagiakan wanita yang ingin dia seriusi. Dia masih terdiam. Banyak yang dia pikirkan. Bukan perkara uang karena tabungannya masih lebih dari cukup. Rangga bukanlah orang yang boros. Dia selalu memprioritaskan tabungan untuk masa depan. Lagi pula, uang jajan yang Aksa berikan sedari dia SMP sama sekali belum dia pakai. Dia lebih memilih bekerja sendiri untuk jajannya. Dia juga tidak pernah memeriksa berapa nominal yang ada di kartu yang Aksa berikan kepadanya.


"Apa aku harus menemui Om Radit?" gumamnya.


Suara pintu kamarnya terbuka terdengar. Rangga segera menoleh dan Aleena lah yang sudah membuka pintunya.


"Aku ganggu gak?" Rangga menggeleng dengan cepat. Dia menepuk tempat yang berada di sampingnya. Di mana dia tengah duduk di tepian tempat tidur.


Aleena mendekat dan mulai duduk di dekat sang kekasih. Tatapannya terlihat sendu dan itu membuat Rangga menukikkan kedua alisnya.


"Kenapa?" Rangga meraih tangan Aleena.


"Kata Bang Axel, Mas mau kembali ke Jakarta."


Ada rasa tak rela yang Aleena rasakan. Dia masih ingin menikmati waktu berdua bersama sang kekasih. Namun, keadaan seakan tak memihak kepada mereka berdua.


"Maaf ya, Sayang," ucap lembut Rangga. Dia menatap manik indah milik Aleena dengan begitu lekat.


"Mas janji, setelah ini Mas akan terus bersama kamu. Menemani kamu dan akan terus membuat kamu bahagia."


Aleena merasakan betapa tulusnya perkataan dari Rangga. Dia segera memeluk tubuh Rangga dengan begitu erat. Jika, bersama Rangga dia merasakan hal yang berbeda yang tak pernah dia rasakan ketika bersama Kalfa.


"Aku takut," lirihnya.


Rangga tahu akan hal itu. Ketakutan itu pasti akan muncul apalagi Khairan sudah menorehkan trauma yang dulu pernah hinggap pada diri Aleena. Rangga pun sebenarnya tidak tega meninggalkan Aleena sendirian. Namun, dia tidak bisa tinggal diam saja untuk sekarang. Ada hal yang harus dia putuskan. Ada langkah besar yang harus dia ambil.


"Selama Mas gak ada, Bang Axel yang akan menjaga kamu. Kamu tahu bagaimana cara kerja Bang Axel."


Tak ada jawaban dari Aleena. Tangannya semakin melingkar erat di pinggang Rangga. Rasa tak ikhlas dapat Rangga rasakan.


"Apa kamu mau ikut pulang ke Jakarta?"


Aleena menggeleng dengan cepat. Dia tidak mau karena dia takut jika nanti dia akan menjadi bahan ghibahan keluarga besarnya.


"Aku belum siap ditanya oleh keluarga besarku perihal hubungan kita." Rangga tersenyum. Dia mengendurkan pelukannya dan menatap lekat ke arah sang kekasih.


"Sampai kapan kita menyembunyikan ini semua? Apa kamu tidak mau menunjukkan kemesraan kita berdua di hadapan mereka semua?"

__ADS_1


"Kita tidak perlu menunjukkan itu semua. Aku hanya ingin Mas menunjukkan kasih sayang Mas ketika kita berdua."


Bagaimana Rangga tidak semakin cinta kepada Aleena jika wanita di depannya ini semakin hari semakin manis.


.


Radit menggelengkan kepala ketika mendengar Aksa menawarkan mahar yang bukan main besarnya. Namun, dia bukanlah orang tua yang haus akan materi.


"Gua gak butuh harta lu. Gua butuhnya anak lu datang langsung ke gua."


Begitulah jawaban dari Radit. Sontak Aska mengacungkan kedua jempolnya. Kakak iparnya itu memang sangat luar biasa.


"Gua tahu lu juga sugih, tapi gua juga ingin menunjukkan kalau gua mampu memberikan yang terbaik plus yang termahal untuk calon mantu gua."


Radit malah tergelak dan dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia belum mendapat kabar dari Axel dan juga orang suruhannya perihal Aleena sekarang.


"Gua takut trauma Aleena kambuh lagi," ucapnya dengan begitu lirih. Kedua adiknya menatap Radit dengan begitu lekat. Mereka terkejut.


"Susah payah gua menyembuhkan trauma Aleena dan sekarang dikambuhkan lagi oleh orang yang sudah gua percaya."


"Axel?" Aksa dan Aska menebak nama itu. Namun, Radit menggeleng.


"Jadi, yang ngelamar Aleena itu bokapnya Khairan?" Radit mengangguk menjawab pertanyaan Aska.


"Apa itu alasan lu menolak lamarannya?" Aksa pun membuka suara.


"Salah satunya itu, tapi gua juga gak pernah menjanjikan apapun kepada Khrisna. Gua masih memegang teguh surat wasiat Papa, tapi gua juga membebaskan Aleena memilih. Gua gak mau maksa putri gua yang hidupnya selalu dilanda kemalangan."


"Apa lu gak tahu kalau Rangga sekarang lagi di Jepang?" Radit sangat terkejut mendengar ucapan Aksa. Begitu juga dengan Aska.


"Dia baru kembali dari Jepang, tapi jam satu malam dia sudah terbang lagi ke sana. Gua sangat yakin anak gua itu sedang menemui putri lu."


"Aleena sekarang sudah ada di Sydney."


Jawaban Radit membuat Aksa bingung. Apa jangan-jangan dua insan manusia itu tidak bertemu? Begitulah pikirannya menebak.


"Coba aja lu hubungin Axel." Saran Aska membuat Radit segera menghubungi anak dari orang kepercayaan mertuanya.

__ADS_1


Tak lama panggilan itu tersambung, suara Barito mulai terdengar dan Radit sangat mengenali suara tersebut.


"Apa Aleena baik-baik saja?" Radit hanya bertanya seperti itu. Pertanyaan pancingan agar Axel membuka suara.


"Tuan jangan khawatir. Aleena baik-baik saja dan dia sudah menemukan obat penawarnya."


Aksa melengkungkan senyum begitu lebar ketika mendengar perkataan Axel. Dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Axel.


"Bukan hanya Tuan Radit yang akan senang, saya yakin Daddy Gio pun akan sangat bahagia melihat Aleena sekarang."


Radit menoleh ke arah Aksa dan disambut hangat oleh adik iparnya tersebut. Sebagai seorang ayah dia sangat yakin jika yang menjadi obat penawar untuk trauma Aleena adalah Rangga.


.


Di lain tempat, seorang pria paruh baya mengerutkan dahi melihat orang yang tidak dia kenal masuk ke ruangannya. Wajah orang itu mirip salah satu karyawan yang bekerja di maskapai nasional miliknya.


"Selamat sore Tuan Garda."


Garda Gunawan adalah pemilik salah satu maskapai nasional. Dia masuk ke dalam daftar sepuluh besar orang terkaya di negeri ini.


"Anda siapa?" Tuan Garda sama sekali tidak tahu dengan pria tersebut.


"Perkenalkan saya Alwi Prayoga."


Nama yang sangat asing di telinganya. Nama yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Tuan Garda pun tersenyum kecil.


"Maaf, saya tidak mengenal Anda dan juga nama Anda.dangat asing untuk saya. Jika, Anda tidak berkepentingan silahkan keluar dari ruangan saya karena saya tengah banyak pekerjaan."


Tuan Garda masih berbicara sangat santun kepada Alwi Prayoga. Pria yang tidak tahu datang dari mana masuk ke dalam ruangannya yang memang sebelumnya sudah membuat janji dengan sekretaris Tuan Garda.


"Saya ingin melamar putri Anda untuk keponakan saya."


Kalimat yang membuat dahi Tuan Garda mengkerut. Dia malah tertawa mendengar ucapan dari pria tersebut. Pria yang sok kenal dan sok dekat.


"Saya tahu putri Anda menyukai keponakan saya."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2