
Sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel Aleena membuat dia terkejut sekaligus cemas. Sang kekasih yang berjanji tidak akan sakit malah terbaring tak berdaya di kasur pesakitan dengan selang infus yang menancap di tangan.
"Mas--"
Pikirannya sudah melayang ke sana ke mari. Dia benar-benar khawatir. Pantas saja pesannya tak kunjung Rangga balas, dan ternyata ini jawabannya.
"Pulang terbang dari Jepang, kembali ke Jepang. Cuma dua hari di sana kembali lagi ke sini dan harus memutar otak untuk menghadapi tikus-tikus sawah yang mencoba mengusik hidupnya. Rela tidak tidur hanya karena ingin menyelesaikan masalahnya dalam sehari."
Sungguh Aleena tak bisa berkata ketika membaca pesan dari Agha. Aleena menghembuskan napas kasar apalagi melihat wajah pucat Rangga yang membuat hatinya tak tenang.
"Mas, kenapa kamu harus melanggar janji kamu?" ucapnya begitu lemah.
.
Aksa dan Riana terlihat sangat cemas ketika Rangga terkapar lemas di atas ranjang pesakitan. Tak ada suara dari mereka. Namun, wajah khawatir sebagai orang tua sangatlah kentara.
"Anak kita sudah bekerja sangat keras. Sudah waktunya dia istirahat sejenak." Riana tak menjawab. Dia malah duduk di samping ranjang pesakitan Rangga dengan raut penuh kesedihan.
__ADS_1
"Cepat pulih ya, Kak. Jangan buat Mommy sedih atas kondisi kamu ini." Aksa tersenyum bahagia sembari mengusap lembut pundak Riana.
"Rangga akan baik-baik saja. Percaya sama Daddy."
Aksara menutup info tentang sakitnya Rangga. Rumah sakit yang dia pilih pun benar-benar rumah sakit elite nan private. Semua penjagaan teramat ketat. Keluarga besar pun tak ada yang tahu. Hanya Aska yang dia beri tahu.
"Gua salut sama lu, Bang." Aska memuji sang kakak.
"Lu benar-benar memasang badan untuk Rangga. Padahal dia bukan darah daging lu."
Aksa menanggapinya dengan seulas senyum. Melihat Rangga seperti melihat dirinya sewaktu kecil, tapi dalam versi anak yatim piatu. Dia akan terus mengejar mimpinya tanpa meminta bantuan dari orang sekitarnya selagi masih bisa dia lakukan sendiri.
.
"Kamu serius?"
Axel sudah bertanya kepada Aleena. Perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya itupun mengangguk.
__ADS_1
"Saya harus mencari info terlebih dahulu."
"Aku udah tahu di mana dia?" Axel mengangguk. Mau tidak mau dia mengikuti keinginan dari Aleena.
"Bang, tapi jangan sampai Baba tahu." Axel pun mengangguk.
Di rumah sakit di mana Rangga dirawat hanya Agha yang diperbolehkan menjaga Rangga. Itupun Agha harus masuk dengan keamanan yang ketat. Juga dengan wajah yang tidak boleh dikenali oleh siapapun.
Agha menghela napas kasar ketika dia bisa masuk ke ruang perawatan sang kakak. Dia melihat Rangga masih terbaring lemah. Efek obat yang cukup keras membuat dia terlelap dengan begitu tenang. Rangga didiagnosa kelelahan hingga mengharuskan dia bed rest selama.tiga hari di rumah sakit untuk masa pemulihan. Juga ponsel yang tidak boleh digunakan selama masa pemulihan.
"Kak, sebegitu besarkah rasa sayang kepada Nana hingga Kakak rela berkorban seperti ini?" gumam Agha.
Wajah sang kakak terlihat lebih tampan ketika dia terlelap seperti itu. Wajah Rangga sama sekali tidak berubah sedari kecil. Masih tampan dan sekarang semakin terawat. Agha meminta ijin kepada sang ayah untuk menjaga Rangga sampai esok pagi. Kebetulan sekolahnya besok libur. Aksara pun mengijinkan.
Belum ada tanda-tanda Rangga membuka mata. Dia seperti pangeran tidur. Hingga suara ponsel Agha berdenting dan dia melebarkan mata ketika membaca isi pesan yang dikirim seseorang.
"Bandara?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...