
Khairan menunggu Aleena dengan hati tak karuhan. Dia nampak sekali sangat cemas. Juga Jihan yang terus menghubungi Rangga, tapi tak pernah ada jawaban dari Rangga. Reksa menatap ke arah Jihan dan juga Khairan secara bergantian. Di dalam hatinya dia tertawa.
Di toilet restoran, Aleena sudah menatap Rangga dengan tatapan dalam. Rangga menghapus air mata yang membasahi wajah Aleena.
"Jujurlah dengan perasaan kamu sendiri, Na. Jangan terus bohongi perasaan kamu yang sesungguhnya."
Aleena membeku. Dia tidak menjawab apapun. Tangan Rangga sudah menangkup wajah Aleena. Dia menempelkan dahinya dengan dahi Aleena.
"Katakan padaku, kalau kamu juga cinta sama aku, Na."
Pelan, tapi sangat mengena di hati. Manik mata mereka berdua kini saling pandang dengan sangat dalam.
"I love you."
Aleena masih terdiam. Dadanya berdegup tak karuhan mendengar kalimat tersebut.
"Aku sangat mencintai kamu, Aleena."
Rangga menunggu jawaban Aleena. Namun, mulut Aleena masih terbungkam. Dia ingin membuka suara, tetapi teramat sulit..
"Na, apakah kamu mencintai aku juga?"
"Me too."
Rangga terkejut mendengar jawaban dari Aleena. Dia tak percaya dan mulai memundurkan wajahnya dari Aleena. Dia menatap penuh tanya.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar?" Aleena pun menggeleng pelan.
"Beneran?" Rangga masih tidak percaya.
Aleena menganggukkan kepala dan itu membuat mata Rangga berbinar. Dia tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Aleena dengan begitu erat.
"Aku sangat bahagia. Akhirnya, kamu membalas cinta aku."
Tak ada jawaban. Hanya sepasang tangan yang melingkar dengan erat sebagai balasan dari perkataan Rangga. Aleena memejamkan matanya sejenak. Dia tak menyangka jika dia akan bisa mengatakan hal itu di depan Rangga.
"Tuhan, kenapa begitu lega dada ini setelah mengatakan ini semua."
Rangga mengendurkan pelukannya, dan dia mencium kening Aleena dengan begitu dalam hingga membuat Aleena memejamkan matanya. Merasakan betapa hangatnya kecupan mesra dari Rangga.
"Love you."
"Love you too."
Sungguh bahagia sekali hati Rangga dan sungguh lega sekali hati Aleena sekarang. Namun, sebelum mereka kembali ke meja di mana ada tiga orang yang menunggu mereka, Aleena menarik tangan Rangga hingga langkah mereka yang hendak meninggalkan toilet terhenti.
"Ada apa?" tanya Rangga.
"Aku gak mau orang lain tahu tentang kita."
Wajah Aleena sudah sangat memelas. Masih ada raut takut di wajah Aleena. Hubungan yang diketahui banyak orang tidak selamanya mengenakkan. Masih ada trauma di sana.
__ADS_1
"Iya."
Begitu mudah Rangga mengatakan kata iya. Padahal Aleena merasa takut jika Rangga akan mempertanyakan alasannya.
"Apapun yang kamu inginkan, selagi aku bisa mengabulkan pasti akan aku kabulkan."
Aleena tersenyum dan menular kepada Rangga yang ikut tersenyum. Sungguh rasa bahagia ini tidak bisa diutarakan dengan Kata.
Rangga terlebih dahulu kembali ke meja, barulah Aleena. Reksa mulai menelisik wajah mereka berdua yang sangat berubah..
"Kok lama?" Khairan sudah bertanya di saat Aleena baru saja hendak duduk..
"Pesanan kamu sudah lama datang, Ngga." Jihan menatap ke arah Rangga.
Aleena dan Rangga saling pandang, dan barulah mereka menjawab pertanyaan Khairan dan Jihan.
"Biasa cewek, Khai." Aleena menjawab sambil meminum cola yang dia pesan.
"Gak kedengaran," jawab Rangga yang mulai menikmati makanannya.
Wajah Khairan dan Jihan terlihat sangat tidak suka dengan jawaban dari Aleena dan juga Rangga. Sedangkan Reksa sudah menaruh curiga.
"Kayaknya ada yang sedang mereka sembunyikan."
...***To Be Continue**"...
__ADS_1
Komen dong ...